Sebenarnya, ini cerita rahasia. Tapi since banyak temen-temenku yang tahu cerita ini, dan banyak saudara yang juga share di Instagram, kupikir sekalian saja aku cerita di blog ini. Toh blogku hampir ga ada yang baca wkwk.
Hanya sebuah tulisan pengingat, mungkin untuk dibaca beberapa tahun lagi.
Akhirnya, setelah sekitar 7 tahun berpacaran, doi dan keluarga datang ke rumah.
Bukan kejutan, tapi SERU BANGET.
Awalnya nih ya, lamaran ini sebenarnya dibuat cuma supaya 'sekedar ada sesuai formalitas', seenggaknya pembicaraan setengah tahun lalu begitu antara aku, doi, dan orangtua kami.
Tapi tiba-tiba orangtuaku semangat BANGET. Syarat-syarat lamaran sesuai adat melayu diajukan; kain sambas, cincin, ini, itu. Buset dah.
Makin dekat hari H, ortuku mulai semakin semangat. Mesan sate dalam jumlah gede, bakso. Ngerapihin rumput. Ganti dek atap seluruh rumah. Ngecat dinding luar rumah, ngecat dinding dalam rumah, ngecat kamar, ngecat meja, ngecat kursi, even ngecat ayunan. Kayaknya kalo masih ada sisa cat, itu rumput bakal dicat juga.
Belum selesai ges,
Beli karpet, bikin meja (literally nukang bikin meja), beli tempat makan yang cantik-cantik, gongnya sampe pasang tenda.
Aku beneran migrain ngeliatnya. Jujur aja, aku juga sampe terang-terangan bilang kalau budgetku cuma sekian (yang mana kecil banget) dan sisanya aku gamau tau, soalnya sesuai perjanjian awal ini harusnya cuma acara biasa aja. Mama Papaku legowo; gpp sekalian open house lebaran katanya. Jadi mereka yang nanggung.
Tamu undangan diperkirakan 100. Lima puluhan pihak laki-laki, lima puluhan sisanya pihak kami. Sebenarnya mengingat keluarga kami berdua emang BESAR banget dan masih terhitung kerabat dekat, itu bukan angka yang fantastis. Cuma emang bikin sesak nafas pas dengernya.
Meskipun undangannya mendadak mencapai 100 orang, kukira semua seperti biasa aja di mana lamaran ini sekedar acara makan-makan sambil haha-hihi.
Tapi kemudian di sore hari yang indah di hari itu, Om-ku datang dan dengan ekspresi dan intonasi yang super serius kayak utusan negara, mengajak kami membahas rangkaian acara.
Sumpah. Ini jadi beneran serius. Aku sampe ga bisa ngomong saking syok-nya.
Acara dirombak beberapa. Jangan tanya gimana. Intinya beneran sesuai tata cara lamaran di lingkungan kami. Aku mendadak dipingit YaAllah? Tiba-tiba aja aku di dalam kamar dan ga boleh keluar.
Acara berlangsung. Ada berbalas pantun pula.
Untunglah, setelah mendengarkan saran beberapa teman, aku memutuskan pake MUA dan photographer. Jadi emang mendukung suasana serius yang mendadak terjadi ini. Dan aku juga bersyukur banget karena memutuskan ga pake decor. Foto-fotonya jadi beneran otentik dan menonjolkan dinding yang baru di cat dengan sepenuh hati itu--alias cakep.
Ini diaaaaa foto-fotonyaaa ;
| Doi tinggal di gang sebelah. Seru banget pas rombongan puluhan orang dateng tiba-tiba. |
![]() |
| Cincin yang sama dengan cincin yang dipake pas ngelamar di tempat sushi. |
![]() |
| luv |
![]() |
| luv |
![]() |
| Jujur aku SUKA BANGET sama kain sambas ini. |
![]() |
| Photographernya ikutan syok karena ga ada decor, alhasil kami tur keliling rumah disuruh foto sana sini. |
Semakin banyak waktu bersamamu,Semakin mahir ku menata rinduSemakin banyak waktu di dekatmu,Semakin ku paham apa doamu.Hadirmu sangat berharga,Kuingin engkau tahu,Aku,Sayang,Kamu.












