Ini tulisan yang agak..eksplisit.
Dan tulisan paling pribadi. Disclaimer aja. Takutnya menimbulkan mual-mual tertentu.
![]() |
| Judul postingan ini diambil dari salah satu lirik lagu Nadin Amizah : Berpayung Tuhan. Prewedding kami juga pakai lagu itu. |
Aku mau cerita, sedikit, tentang pernikahan dan pra-pernikahan aku dan suami.
Sebelum menikah di 2026, sebelum menyentuh delapan tahun hubungan pacaran, sebenarnya, kami sempat melalui fase paling kritis.
Itu terjadi sekitar tahun 2025.
Ada hal-hal.. mungkin masalah lama, masalah baru, dan lingkungan baru yang kami hadapi hingga membuat kami.. lelah satu sama lain. Aku capek sama dia. Dan dia capek sama aku. Ada fase di mana aku benar-benar tidak ingin menghubungi dia sama sekali, dan dia pun pada akhirnya berhenti bertanya duluan. Jelek banget hubungannya.
Lalu aku 'kabur' ke Bandung dengan salah satu teman lama, karena muak dengan semua hal. Muak dengan kerjaan, muak dengan hubungan, muak dengan diri sendiri. Hampir sepenuhnya menghilang dari dia kecuali satu atau dua chat dalam sehari. Pergi ke Bandung was actually a good choice, bercerita ke temen yang sudah menjadi saksi hubungan bikin aku dapet banyak second-opinion(s).
Lagian, ga lama setelah short escape ke Bandung itu, dia meledak. Kami berantem hebat. Dia pointed out something yang memang benar banget;
Lu ngilang, Sher. Secara fisik mungkin engga--meskipun jam tayangnya menyusut. Tapi secara emosional? Nihil.
Sepertinya kami sama-sama bertanya, sebenarnya untuk apa kami masih ada di hubungan seperti ini? Jelek banget. Worst relationship ever. Tapi dicari ke akarnya pun, sebenarnya tidak pernah ada hal fatal untuk merusak hubungan kami. Aku? Males. Dia? Males. Tapi tidak ada pengkhianatan. Tidak ada apapun. Cuma dua manusia bingung.
Berantem itu sedikit banyak bikin aku sadar, kalau dia tidak menyayangiku dengan rasa yang besar, mungkin sudah lama dia benar-benar pergi. Bcs I'm not an easy person.
Hal yang sama berlaku untukku. Kalau aku tidak benar-benar menyayanginya, mungkin sudah lama aku benar-benar pergi. Bcs he's not an easy person.
Mungkin jika dua-duanya menyerah, kami sudah jadi asing hari ini.
Tapi toh, di September 2025, dia memberitahu orangtuanya kami akan menikah di 2026. Dan aku melakukan yang sama. Manusia memang aneh. Aku sendiri bilang ke temenku, "Jangan heran kalau suatu hari kami menikah."
Bonusnya, control-emotional kami jauh lebih gampang setelah ledakan Krakatau pertengahan 2025 itu, jadi ujian persiapan menikah kami tidak terlalu keras dari sisi ego.
Kemudian,
Nah,
Ini,
Suprisingly, aku masih bisa menemukan hal baru darinya setelah menikah. Padahal kami sering sekali bertemu. Dari pagi sampai siang, atau dari siang sampai sore, atau dari sore sampai malam, atau dari pagi sampai malam. Bisa seminggu sekali. Bisa setiap hari.
Gue udah siap hidup tanpa romantisme berlebihan darinya.
Kemudian minggu pernikahan dimulai. Kemudian dua minggu. Kemudian sebulan lebih berlalu. Aku dengan sifatku yang seperti biasa. Suka ngomel. Suka mood-moodan. Suka-sukanya.
Dan dia?
Ini kejutannya,
PRIA INI MENDADAK MENUNJUKKAN SISI YANG GAPERNAH AKU LIHAT SEBELUMNYA. GUE MERASA KAYAK : CONGRATULATIONS SHEREN! YOU'VE UNLOCKED A NEW LEVEL. Dia sendiri dari awal termasuk kategori pria yang membawa semua bare minimum yang kubutuhkan. Ga kasar. Lembut. Ga maki-maki. Ga merokok jenis apapun. Ya pokoknya santuy aja santuy. Aman. Tentram. Minus emang di bagian kalimat indah puitis romantis dan ga pernah kasih bunga aja.
Tapi secara mengejutkan, setelah menikah, dia menghadapi aku dengan jauh lebih sabar dan jauh lebih lembut daripada 8 tahun kami selama ini. Demi Tuhan aku belum pernah ngeliat kelembutan level baru seperti itu.
Aku kesal? Dia memutuskan menurunkan nada suara--bujuk.
Aku diem? Disamperin. nanya, "Kamu kenapa?" mastiin matanya bertatapan sama mataku, meluk. Kami bahkan pernah menunda 15 menit ke kantor buat mastiin--Sheren are you okay now?
MAKSUD GUE, INI PERTAMA KALI GUE DIGITUIN 😭🙏🙏. Makin nangis 😭😭. Bukannya dia pria acuh cuek dan menyebalkan? Kok tiba-tiba seakan senyumku lebih penting dari dunia dan seisinya? 😭🙏🙏
Beberapa mungkin bakal mikir, ITU BARE MINIMUM LAIN GA SIH?!
Iya, itu justru bare minimum--yang baru aku temukan. Selama delapan tahun ini ternyata kami memiliki sedikit sekali ruang privasi. Kami bertemu di tempat publik. Di rumah orangtua. Di mana saja. Tapi tidak pernah benar-benar hanya berdua. Jadi kalo berantem kebanyakan by whatsapp, dan ternyata itu bukan cara berargumen yang baik. Aku ga bisa nangis di ruang tamu sambil adikku nyamperin terus nanya "Mobile Legend Bang Surya udah Mythic?" kan? Berantem di motor juga susah banget soalnya berisik.
Jarak dan keterbatasan membuat kami banyak salah paham. Lebih banyak silent treatment.
Sulit menjelaskan bagaimana orang yang terbiasa berbicara cukup lembut, ternyata bisa jadi lebih lembut lagi setelah menjadi suami. Lebih concern. Makan malam pun bisa berhenti buat dia berdiri dan meluk aku.
AHAHAHAHAHAHAH.
Iya. Kami masih banyak selisih paham. Tapi tiga menit kemudian dia mendadak jadi husband material.
Kadang juga, malem-malem di tengah tidur, sebuah lengan mendadak datang dan narik aku ke pelukan. Tanpa tendesi apapun, karena setelah itu dengkuran tipisnya kembali terdengar.
JADI INI YA KENAPA TENTARA BENTARA BUTUH GULING SELAMA DI INDONESIA DULU?
Doi bisa menarikku mendadak ke dalam pelukan ya karena ingin memeluk aja. Sesederhana itu.
Padahal dia orang yang cenderung risih dengan tempel menempel sebelumnya.
Jadi setiap aku ngomel, atau kesal, atau nangis, karena toh dia memang menyebalkan, dia memutuskan memakai skill baru yaitu menghadapi aku dengan kesabaran bertalenta dan banyak menghibur.
Disclaimer, sejak kecil aku tumbuh dengan rasa cinta yang sangat praktis. Cinta itu, di antar jemput sekolah. Cinta itu, air panas selalu tersedia di termos untuk mandi. Cinta itu, sarapan sebelum sekolah selalu ada, makan siang ada, makan sore ada. Cinta itu, pendidikan terbaik. Cinta itu, tempat tidur sudah rapi dan bersih. Cinta itu, ngobrol di jam makan malam sambil menertawakan hari. Cinta itu, dapat handphone baru, laptop baru, kuota, jajan, asisten rumah tangga, kebebasan berkelana tanpa terus ditanya.
Jadi harus kuakui, hal yang kudapat ini bentuk cinta baru.
Kami sudah delapan tahun bersama sebelum menikah. Jadi kupikir, menulis ini tidak berlebihan. Mungkin beberapa orang akan berkata "Namanya juga baru sebulan menikah."
Tapi aku harus berkali-kali bilang, delapan tahun itu berarti 365 x 8. Hampir 3000 hari. Aku bisa bilang, aku tumbuh dewasa bersama pria ini. Dari masih belasan tahun sampai hampir tiga puluh tahun. Hampir sepertiga dari total tahun hidupku dihabiskan bareng dia. Tidak berlebihan kalau aku bilang, seharusnya aku sangat mengenal pria ini.
Delapan tahun--dan dia masih bisa melakukan hal baru untuk membuatku jatuh cinta lagi. Dan lagi. Dan semoga selalu.
Waktu menunjukkan pukul 21.46
Masih dengan mengenakan jam tangan biru pemberian doi enam tahun lalu, serta headphone bluetooth Sony di kepala, aku sedang mengaduk-aduk mengambil sisa bumbu ungkep lengkuas ayam di pojokan tempat tinggal baru kami. Ruangan yang sebenarnya agak terlalu kecil untuk dua manusia dengan pendapatan tahunan di atas UMR Jekardah. Tapi harga sewa berteduh memang selalu gila-gilaan di sini.
Kepalaku mengangguk-angguk mengikuti beat lagunya Hindia. Berpikir banyak--atau sebenarnya sedang merasa keren banget. Masak buat persiapan besok subuh--dengan jam tangan yang bahkan masih terpasang. Setelah ini juga ada jadwal menyetrika. Kurang independence apa lagi gue?
Sudah dua minggu aku melakukan rutinitas perumahtanggaan yang sebenarnya masih terlalu awal untuk disombongkan. Tapi, sebagai manusia yang sejak kecil juga selalu dilayani di tengah keterbatasan--aku rasa masih boleh aku agak berbangga hati. Misalnya, aku hampir ga pernah menyapu, mengepel, apalagi memasak sebelum merantau. Ada orang untuk pekerjaan itu--dan aku ga berencana repot-repot menggantikannya. Di rumah juga keseringan Papaku yang masak. Hobiku kebanyakan baking--bukan memasak masakan Indonesia yang rumit. Selama merantau juga hampir ga pernah masak, kebanyakan catering.
Tapi memang aku sudah bertekad untuk mulai memasak saat menikah--mengingat suami tumbuh dengan masakan rumahan Ibu dan kakaknya dan tante-tantenya--intinya keluarga suami masakannya enak bener.
Oke terlalu banyak opening. Sebenarnya, sekarang aku sedang ingin menuliskan kekerenan seseorang. Yap, sudah beberapa kali aku menulis tentang kebaikan seseorang di blog ini. Tapi kali ini aku mau menulis tentang seseorang yang memang pada dasarnya keren. Salah satu yang sekarang jadi patokan aku juga untuk bertahan menjadi manusia yang berguna.
SPV Akuntansiku sendiri.
Pas lagi mengaduk-aduk panci itu, sambil tetap merasa keren, aku tiba-tiba keingat tentang orang yang sudah menjadi spv gue sejak dua tahun terakhir. Perempuan. Menikah. Dua anak. Satu suami. Tetap cantik. Tetap awet muda. Tetap bisa masak enak (aku pernah dimasakin). Tetap bisa bawa bekal. Tetap pumping. Tetap pulang kantor sesuai jadwal. Tetap cerdas. Even kerjaannya yang seabrek lebih cepat selesai daripada aku.
Maksud gue ya, GIMANA CARANYA?
Dia sedikit banyak mengingatkanku dengan mamaku sendiri, mungkin dengan versi lebih mapan dan agak lebih cekatan--apalagi di umurnya sekarang.
Dari dulu banget, khususnya setelah kerja, aku berkali-kali bertanya-tanya sendiri kalau sedang melihat para ibu yang menjadi wanita karir itu, bagaimana caranya membagi 24 jam menjadi istri, ibu, dan pekerja? Makanya, ngeliat Mamaku sendiri, aku selalu 'wow keren banget' . Lalu ngeliat spv aku? Apalagi! "MAKHLUK DARI MANA INI?!"
Masih ga ngerti sampai hari ini. Masak, ngurus keluarga, dan tetap cerdas? Itu triple ultra combo berkat Tuhan YME yang masih belum bisa aku capai sampai hari ini.
PR ku untuk meniru orang-orang ini banyak sekali. Meniru kebaikan. Meniru kekerenan. Entah sampai kapan. Mungkin selamanya.
Makanya, menikah ini, aku sudah bertekad banget. Minimal bisa ngasih makan anak mertua (gue tetap catering awkwowkakwkwkwk). Dua minggu ini juga pulang-pulang hampir ga sempat nyentuh laptop lagi. Isinya berkemas. Berkemas. Berkemas. Kami sudah membagi tugas. Aku ga masalah mesti berkemas, menyetrika, memasak, dll--selama kegiatan cuci mencuci diambil alih oleh doi--karena aku orangnya agak jijikan.
Aku jamin, mamaku pasti bangga banget sama anak perempuan satu-satunya ini karena akhirnya mau memasak dan beberes rumah hohoho.
Sekian. Tadinya mau nulis tentang Hari H nikaham dan resepsiii gueee. Tapi mendadak menulis ini terasa lebih menarik.
21 April 2026,
Di tempatku kerja sekarang, aku menemukan banyak orang baik.
Ada satu orang yang ingin kuceritakan.
Sebenarnya, di blog ini aku sudah pernah menuliskan beberapa orang baik yang aku temui selama berkantor.
Tapi rasanya tidak ada habis-habisnya untuk diceritakan. Karena berbuat baik itu sulit. Menuliskannya lebih mudah.
Aku lahir di sebuah kota namanya Pontianak. Tumbuh dan besar di sana. Logat orang-orang di sana... agak apa adanya. Nyablak. Sedikit-banyak menyertai tutur ancaman. Nyaring. Jadi, aku menganggap, rata-rata orang tampaknya kurang lebih begitu sifatnya. Keanggunan dan kelembutan seorang wanita tampaknya hanya ada di film dan buku-buku fiksi.
Kemudian aku masuk kantor ini, dimasukkan ke grup whatsapp. Saat itu, salah seorang rekan kantor, perempuan, dan kebetulan lagi cuti, menyapaku di grup.
"Selamat datang di Keuangan, Sheren."
Aspv Keuangan.
Jujur, selain hidup dengan logat-logat melayu yang agak keras, aku juga pernah punya pengalaman traumatis dengan rekan kerja senior yang gila. Real gila. Tiba-tiba ngamuk. Tiba-tiba bentak. Jadi sebenarnya aku was-was banget dengan sosok berstatus aspv keuangan pada saat itu.
Kayak, dia kenapa nyapa ya? Baik ga ya? Kayak apa ya orangnya? Sinis ga ya?
Kemudian, dia masuk, dan aku kaget. Literally kaget.
Kok bisa ya, ada manusia dengan nada dan gesture selembut itu dalam bersikap? Kalau bahasa sekarang, sundanya tuh nyunda banget.
Jujur kaget. Soalnya nenekku sunda paten. Saudara-saudarinya yang sunda juga beberapa kali ke Pontianak dan tak pernah sejumput pun kulihat kelembutan itu. Ternyata, beda daerah, beda juga cara bersikapnya. Meskipun satu suku.
"Anjing..." ucap aspv keuangan pada suatu hari dengan nada lembut seperti dari khayangan.
Oke lebay. TAPI BENERAN GUYS. ITU PERTAMA KALI GUE PERNAH DENGER ORANG LAGI MAKI YA, TAPI NADANYA KAYAK MUJI ANAK ORANG😭.
Anw, luar biasanya lagi, lembutnya itu ga sekedar kata-kata yang keluar dari bibir. Tapi juga tingkah laku, sifat, pola pikir, yang terlihat cuma kebaikan. Kalau yang udah nonton Ghost In Cell nih, istilahnya 'aura emas'.
Emang pernah bilang anjing sih, tapi kayaknya karena pake nada semerdu itu, gue gabisa nyebutnya kejahatan.
Bisa begitu ya? Kok ada yang orang, terlahir untuk punya energi sebesar itu untuk terus bersikap baik? Doa apa yang dipanjatkan ibunya saat mengandung dan membesarkan beliau ya? Pasti Tuhan sayang sekali dengan dia dan orangtuanya.
Kayak, seluas dan sedalam apa hatinya untuk bisa tetap tersenyum, menahan nada tinggi, membantu orang-orang yang kesulitan. Berbagi tidak hanya materi, tetapi waktu dan tempat dipersilahkan?
Maap garing🙏.
Aku sendiri sulit untuk mendeskripsikan detail-detail kebaikan yang dia lakukan karena kebaikannya bahkan sampai ke hal dasar yang tidak terlalu dilihat orang.
Hal paling sederhana seperti sering membawa snack pas ke kantor (sebenarnya banyak orang melakukan ini, tapi secara intensitas, jelas dia pemenangnya). Peka terhadap kebutuhan orang lain (mungkin ini kebiasaan karena sering jadi sekretaris).
Kadang, hal-hal seperti itu bagi kita biasa, dan bukannya ga mungkin kita berkata "Ah gitu doang gue juga bisa."
Tapi, bayangkan, bisa ga kalian, bawain snack untuk seruangan, sambil selalu tersenyum all day, berkata dengan tutur kata lembut alias soft spoken, membersihkan hati orang-orang, menyediakan waktu, tempat, memberi saran tanpa menjatuhkan, tetap mengingatkan sholat, dan menyelesaikan pekerjaan, semua dalam satu hari?
Gue sih gabisa ya maap.
Aku pernah nih, mood lagi jelek banget. Kayaknya semua orang dri ruangan sadar deh. Soalnya ekspresi dan emosiku gampang bocor.
Dan dia tiba-tiba ngasih coklat. Katanya supaya lebih happy. Tanpa konteks. Tanpa nyinggung masalah aku.
Mataku berkaca-kaca banget pas itu hiks. Sekaligus menyadari, mungkin perlu waktu yang sangat-sangat-sangat lama, untuk bisa belajar menjadi seperti dia. Bisa jadi seumur hidup.
Sayangnya, sekarang beliau sudah jauh dipindahcabangkan ke Jabar, tempat keluarga kecilnya berada. Dan bahkan, setelah pindah, kebaikannya masih sering terasa.
Goal aku abad ini, termotivasi sejak masuk kantor : jadi orang baik.





