Mamaku selalu mengeraskan suaranya, saat sholat.
Dulu aku pikir, mungkin itu cara supaya aku bisa mengikutinya saat masih belajar sholat.
Tapi Mamaku selalu mengeraskan suaranya saat sholat. Bahkan setelah aku bertumbuh dan hafal bacaan sholat.
Selalu mengeraskan suaranya.
Bukan yang seperti imam di masjid,
Tapi cukup. Cukup untuk kami mendengar setiap lafadznya saat sedang sholat.
Bertahun-tahun.
Saat menginjak kuliah, jawaban itu akhirnya muncul.
"Alasan kenapa Mama mengeraskan suara setiap sholat itu supaya anak-anak di rumah terbiasa. Supaya tidak asing. Karena rasa suka (terhadap ibadah) itu muncul dari yang namanya terbiasa. Mama sengaja, supaya kalian mendengarnya, setiap hari. Lima kali sehari. Terpatri dalam ingatan."
Mamaku berusaha keras. Itu teorinya sendiri. Metodenya sendiri.
Tapi ia benar. Karena sampai hari ini pun, jauh berbeda pulau, aku masih bisa mendengarnya. Masih bisa membayangkannya.
Dan melaksanakan sholat.






