Waktu naik ke kelas 4 SD, secara beruntung aku masuk kelas Unggulan.
Aku harus bilang beruntung, karena waktu itu aku cuma berhasil di ranking empat, kalau tidak salah. Atau lima, entahlah. Dalam waktu singkat, lingkungan sekitarku berubah menjadi lingkungan anak cerdas, pintar, cekatan.
Itu tahun 2009.
Sebagai seseorang yang tidak pernah terlalu peduli dengan jenis hubungan apapun, aku dengan cepat memutus pertemanan yang telah kujalin dengan teman lamaku selama tiga tahun sebelumnya dan memilih teman-teman baru. Padahal aku dengan teman lamaku itu masih sekelas. Aku benar-benar berteman dengan anak terpintar menurut penilaianku. Anak-anak yang selama ini punya reputasi sangat bagus dan terbukti selalu ranking satu di kelas mereka sebelumnya.
Ada sebuah nasihat lama,
Jika kamu dekat dengan es, maka kamu akan merasa dingin,
Jika kamu dekat dengan api, maka kamu akan merasa panas,
Jika kamu berteman dengan penjual parfum, maka kamu akan kecipratan wanginya.
Anehnya, nasihat lama itu justru berlaku kepadaku dengan cara terbalik.
Apa yang terjadi di kelas empat itu, adalah momen aku seperti kehilangan ‘kontrol’ atas kehidupanku sendiri. Agak konyol memang, mengatakan hal seserius itu untuk mengomentari jalan hidup anak kelas empat SD.
Sederhananya, gue jadi anak pemalas minta ampun. Jenis kepemalasan yang sampai hari ini membuatku masih bertanya-tanya, kenapa ya? Aku benar-benar pemalas sampai menyusahkan banyak orang lain.
Seakan-akan, karena ada yang rajin, akulah yang memilih menjadi pemalasnya. Karena ada yang pintar, akulah yang memilih menjadi si bodohnya.
Misalnya, setiap pagi, benar-benar setiap pagi selama enam hari dalam seminggu, aku akan menelfon temanku untuk menanyakan satu hal; “ADA PR GA YA KAWAN?”
Kebetulan kelas empat SD itu kami masuk jam 1 siang.
Bayangkan kalau kalian jadi bestie gue hari itu?
Kayak, kenapa lo ga catet itu tugas saat guru lo ngasih tau? Sebenernya apa yang aku kerjakan selama di sekolah sampai harus nanya PR di pagi hari?
Enggak selesai sampai situ, biasanya daripada mengerjakan PR setelah nelfon, aku memilih MEMINJAM PR TEMANKU begitu sampai di sekolah.
Gatau kenapa temenku baik banget mau ngasih liat itu PR.
Aku juga masih ga habis pikir kenapa aku seg*bl*k itu dulu.
Hal itu terjadi untuk waktu yang cukup lama, ada kali setengah semester.
Sampai suatu hari…
Aku seperti biasa menelfon temanku yang seperti malaikat itu, kemudian, aku tidak sengaja mendengar ibunya mengomel sesuatu tentang, “itu siapa sih yang nelfon kamu terus tiap hari?!”
Hahahahaha.
Di situlah aku sadar aku sudah membuat kekacauan besar.
Sejak hari itu, aku berubah menjadi anak yang super rajin dan cerdas dan TIDAK PERNAH SEKALIPUN menelfon lagi teman-temanku buat nanyain PR.
Terus hari ini, kenapa aku tiba-tiba menulis cerita di atas?
Karena, benar-benar di waktu-waktu sekarang ini, aku merasa aku kembali menjalankan peran itu. Bayangkan, hampir tujuh belas tahun berlalu, dan aku merasa sosok itu pelan-pelan kembali mengambil alih.
Aku merasa kehilangan “sparks” atas fase kehidupan ini. Dan ada banyak sekali hal-hal yang kadang aku anggap sebagai kegagalan sehingga memberi tekanan-tekanan baru.
Aku mulai menyadari aku pelan-pelan kehilangan kontrol itu dari cara paling sederhana;
Aku suka sekali kerapian isi laptopku. Semua hal, biasanya, akan aku folderin menurut jenis file, jenis waktu, jenis kejadian. Intinya benar-benar ter-katalog-kan sesuai preferensiku dan aku bisa dengan mudah mengingatnya. Aku ingat betul bagaimana senior sekolahku dulu sampai heran melihatku dengan folder-folder itu.
Tapi sekarang? Banyak file di laptopku seberantakan itu dengan dibalut kata ‘nanti dirapihkan’, dan bulan-bulan berlalu tanpa pernah dirapikan.
Begitu juga file di Hape, yang dulu rajin aku bersihkan dan pindahkan maksimal sebulan sekali.
Alasannya, ‘nanti dulu’.
Hal lain? Banyak.
Aku, yang sangat senang videografi, tahun 2025 hampir tidak membuat video apapun kecuali trip kantor yang itupun atas request.
Fotografi? Nol besar. Dulu langitpun bisa tiap hari aku foto.
Gambar? Lagi-lagi request kantor doang.
Bulan-bulan ini, dengan semua hal berkaitan dengan audit, dengan kegiatan ulang tahun kantor, dan entah kegiatan apalagi, menumbuhkan perasaan-perasaan gelisah yang bikin tidak nyaman. Tapi ketidaknyamanan itu malah membuatku menunda; dan menimbulkan masalah baru.
Hari-hariku beberapa waktu ini, diisi dengan “astaga ini belum selesai, ini belum, itu belum.” Tentu saja aku menyelesaikannya diurut dari jobdesk utamaku dulu, dan efek sampingnya, hal-hal seperti design yang mereka minta tolong ke aku jadi tertunda, dan aku tau bahwa aku sebenarnya bisa menyelesaikannya lebih awal, lebih baik, tanpa harus didahului tatapan “Kapan selesai, Sheren?”
Hanya mentalku saja yang masih ingin dimanjakan.
Dan yang paling menggelisahkan adalah, pernikahanku tinggal menghitung bulan dan urusan ini itu terkait pernikahan sama sekali belum tersentuh karena ada begitu banyak hal terjadi dan kepala ini maunya minta healing terus sehingga pembicaraan mengurus pernikahan ini selalu tertunda. Jam menjadi hari. Hari menjadi minggu. Minggu menjadi bulan.
Aku akhirnya toh menulis ini karena lama-lama rasa gelisah dan khawatir ini memuncak, sehingga ada rasa ingin melepaskannya.
Hanya.. ini masih Januari.
Semoga sebelum Februari, aku kembali bisa menata kebiasanku seperti dulu. Karena toh hampir 17 tahun setelah kelas empat SD itu, hidupku bisa cukup tertata secara kebiasaan sehari-hari.
Semoga aku kembali menemukan sparks itu. Menemukan alasan-alasan mengapa aku sangat mencintai hari-hariku seperti sebelumnya. Mencintai pekerjaanku. Mencintai orang-orang yang tidak pernah lelah denganku. Kembali mengerjakan jobdesk tanpa merasa dikejar hantu, kembali melakukan hobi lama tanpa takut dinilai. Kembali menghargai hubunganku dengannya yang telah sangat serius itu.
Kembali mencintai diri sendiri.
Semoga 2026 ini menjadi tahun super berikutnya.






