Ini tulisan yang agak..eksplisit.
Dan tulisan paling pribadi. Disclaimer aja. Takutnya menimbulkan mual-mual tertentu.
![]() |
| Judul postingan ini diambil dari salah satu lirik lagu Nadin Amizah : Berpayung Tuhan. Prewedding kami juga pakai lagu itu. |
Aku mau cerita, sedikit, tentang pernikahan dan pra-pernikahan aku dan suami.
Sebelum menikah di 2026, sebelum menyentuh delapan tahun hubungan pacaran, sebenarnya, kami sempat melalui fase paling kritis.
Itu terjadi sekitar tahun 2025.
Ada hal-hal.. mungkin masalah lama, masalah baru, dan lingkungan baru yang kami hadapi hingga membuat kami.. lelah satu sama lain. Aku capek sama dia. Dan dia capek sama aku. Ada fase di mana aku benar-benar tidak ingin menghubungi dia sama sekali, dan dia pun pada akhirnya berhenti bertanya duluan. Jelek banget hubungannya.
Lalu aku 'kabur' ke Bandung dengan salah satu teman lama, karena muak dengan semua hal. Muak dengan kerjaan, muak dengan hubungan, muak dengan diri sendiri. Hampir sepenuhnya menghilang dari dia kecuali satu atau dua chat dalam sehari. Pergi ke Bandung was actually a good choice, bercerita ke temen yang sudah menjadi saksi hubungan bikin aku dapet banyak second-opinion(s).
Lagian, ga lama setelah short escape ke Bandung itu, dia meledak. Kami berantem hebat. Dia pointed out something yang memang benar banget;
Lu ngilang, Sher. Secara fisik mungkin engga--meskipun jam tayangnya menyusut. Tapi secara emosional? Nihil.
Sepertinya kami sama-sama bertanya, sebenarnya untuk apa kami masih ada di hubungan seperti ini? Jelek banget. Worst relationship ever. Tapi dicari ke akarnya pun, sebenarnya tidak pernah ada hal fatal untuk merusak hubungan kami. Aku? Males. Dia? Males. Tapi tidak ada pengkhianatan. Tidak ada apapun. Cuma dua manusia bingung.
Berantem itu sedikit banyak bikin aku sadar, kalau dia tidak menyayangiku dengan rasa yang besar, mungkin sudah lama dia benar-benar pergi. Bcs I'm not an easy person.
Hal yang sama berlaku untukku. Kalau aku tidak benar-benar menyayanginya, mungkin sudah lama aku benar-benar pergi. Bcs he's not an easy person.
Mungkin jika dua-duanya menyerah, kami sudah jadi asing hari ini.
Tapi toh, di September 2025, dia memberitahu orangtuanya kami akan menikah di 2026. Dan aku melakukan yang sama. Manusia memang aneh. Aku sendiri bilang ke temenku, "Jangan heran kalau suatu hari kami menikah."
Bonusnya, control-emotional kami jauh lebih gampang setelah ledakan Krakatau pertengahan 2025 itu, jadi ujian persiapan menikah kami tidak terlalu keras dari sisi ego.
Kemudian,
Nah,
Ini,
Suprisingly, aku masih bisa menemukan hal baru darinya setelah menikah. Padahal kami sering sekali bertemu. Dari pagi sampai siang, atau dari siang sampai sore, atau dari sore sampai malam, atau dari pagi sampai malam. Bisa seminggu sekali. Bisa setiap hari.
Gue udah siap hidup tanpa romantisme berlebihan darinya.
Kemudian minggu pernikahan dimulai. Kemudian dua minggu. Kemudian sebulan lebih berlalu. Aku dengan sifatku yang seperti biasa. Suka ngomel. Suka mood-moodan. Suka-sukanya.
Dan dia?
Ini kejutannya,
PRIA INI MENDADAK MENUNJUKKAN SISI YANG GAPERNAH AKU LIHAT SEBELUMNYA. GUE MERASA KAYAK : CONGRATULATIONS SHEREN! YOU'VE UNLOCKED A NEW LEVEL. Dia sendiri dari awal termasuk kategori pria yang membawa semua bare minimum yang kubutuhkan. Ga kasar. Lembut. Ga maki-maki. Ga merokok jenis apapun. Ya pokoknya santuy aja santuy. Aman. Tentram. Minus emang di bagian kalimat indah puitis romantis dan ga pernah kasih bunga aja.
Tapi secara mengejutkan, setelah menikah, dia menghadapi aku dengan jauh lebih sabar dan jauh lebih lembut daripada 8 tahun kami selama ini. Demi Tuhan aku belum pernah ngeliat kelembutan level baru seperti itu.
Aku kesal? Dia memutuskan menurunkan nada suara--bujuk.
Aku diem? Disamperin. nanya, "Kamu kenapa?" mastiin matanya bertatapan sama mataku, meluk. Kami bahkan pernah menunda 15 menit ke kantor buat mastiin--Sheren are you okay now?
MAKSUD GUE, INI PERTAMA KALI GUE DIGITUIN 😭🙏🙏. Makin nangis 😭😭. Bukannya dia pria acuh cuek dan menyebalkan? Kok tiba-tiba seakan senyumku lebih penting dari dunia dan seisinya? 😭🙏🙏
Beberapa mungkin bakal mikir, ITU BARE MINIMUM LAIN GA SIH?!
Iya, itu justru bare minimum--yang baru aku temukan. Selama delapan tahun ini ternyata kami memiliki sedikit sekali ruang privasi. Kami bertemu di tempat publik. Di rumah orangtua. Di mana saja. Tapi tidak pernah benar-benar hanya berdua. Jadi kalo berantem kebanyakan by whatsapp, dan ternyata itu bukan cara berargumen yang baik. Aku ga bisa nangis di ruang tamu sambil adikku nyamperin terus nanya "Mobile Legend Bang Surya udah Mythic?" kan? Berantem di motor juga susah banget soalnya berisik.
Jarak dan keterbatasan membuat kami banyak salah paham. Lebih banyak silent treatment.
Sulit menjelaskan bagaimana orang yang terbiasa berbicara cukup lembut, ternyata bisa jadi lebih lembut lagi setelah menjadi suami. Lebih concern. Makan malam pun bisa berhenti buat dia berdiri dan meluk aku.
AHAHAHAHAHAHAH.
Iya. Kami masih banyak selisih paham. Tapi tiga menit kemudian dia mendadak jadi husband material.
Kadang juga, malem-malem di tengah tidur, sebuah lengan mendadak datang dan narik aku ke pelukan. Tanpa tendesi apapun, karena setelah itu dengkuran tipisnya kembali terdengar.
JADI INI YA KENAPA TENTARA BENTARA BUTUH GULING SELAMA DI INDONESIA DULU?
Doi bisa menarikku mendadak ke dalam pelukan ya karena ingin memeluk aja. Sesederhana itu.
Padahal dia orang yang cenderung risih dengan tempel menempel sebelumnya.
Jadi setiap aku ngomel, atau kesal, atau nangis, karena toh dia memang menyebalkan, dia memutuskan memakai skill baru yaitu menghadapi aku dengan kesabaran bertalenta dan banyak menghibur.
Disclaimer, sejak kecil aku tumbuh dengan rasa cinta yang sangat praktis. Cinta itu, di antar jemput sekolah. Cinta itu, air panas selalu tersedia di termos untuk mandi. Cinta itu, sarapan sebelum sekolah selalu ada, makan siang ada, makan sore ada. Cinta itu, pendidikan terbaik. Cinta itu, tempat tidur sudah rapi dan bersih. Cinta itu, ngobrol di jam makan malam sambil menertawakan hari. Cinta itu, dapat handphone baru, laptop baru, kuota, jajan, asisten rumah tangga, kebebasan berkelana tanpa terus ditanya.
Jadi harus kuakui, hal yang kudapat ini bentuk cinta baru.
Kami sudah delapan tahun bersama sebelum menikah. Jadi kupikir, menulis ini tidak berlebihan. Mungkin beberapa orang akan berkata "Namanya juga baru sebulan menikah."
Tapi aku harus berkali-kali bilang, delapan tahun itu berarti 365 x 8. Hampir 3000 hari. Aku bisa bilang, aku tumbuh dewasa bersama pria ini. Dari masih belasan tahun sampai hampir tiga puluh tahun. Hampir sepertiga dari total tahun hidupku dihabiskan bareng dia. Tidak berlebihan kalau aku bilang, seharusnya aku sangat mengenal pria ini.
Delapan tahun--dan dia masih bisa melakukan hal baru untuk membuatku jatuh cinta lagi. Dan lagi. Dan semoga selalu.
Waktu menunjukkan pukul 21.46
Masih dengan mengenakan jam tangan biru pemberian doi enam tahun lalu, serta headphone bluetooth Sony di kepala, aku sedang mengaduk-aduk mengambil sisa bumbu ungkep lengkuas ayam di pojokan tempat tinggal baru kami. Ruangan yang sebenarnya agak terlalu kecil untuk dua manusia dengan pendapatan tahunan di atas UMR Jekardah. Tapi harga sewa berteduh memang selalu gila-gilaan di sini.
Kepalaku mengangguk-angguk mengikuti beat lagunya Hindia. Berpikir banyak--atau sebenarnya sedang merasa keren banget. Masak buat persiapan besok subuh--dengan jam tangan yang bahkan masih terpasang. Setelah ini juga ada jadwal menyetrika. Kurang independence apa lagi gue?
Sudah dua minggu aku melakukan rutinitas perumahtanggaan yang sebenarnya masih terlalu awal untuk disombongkan. Tapi, sebagai manusia yang sejak kecil juga selalu dilayani di tengah keterbatasan--aku rasa masih boleh aku agak berbangga hati. Misalnya, aku hampir ga pernah menyapu, mengepel, apalagi memasak sebelum merantau. Ada orang untuk pekerjaan itu--dan aku ga berencana repot-repot menggantikannya. Di rumah juga keseringan Papaku yang masak. Hobiku kebanyakan baking--bukan memasak masakan Indonesia yang rumit. Selama merantau juga hampir ga pernah masak, kebanyakan catering.
Tapi memang aku sudah bertekad untuk mulai memasak saat menikah--mengingat suami tumbuh dengan masakan rumahan Ibu dan kakaknya dan tante-tantenya--intinya keluarga suami masakannya enak bener.
Oke terlalu banyak opening. Sebenarnya, sekarang aku sedang ingin menuliskan kekerenan seseorang. Yap, sudah beberapa kali aku menulis tentang kebaikan seseorang di blog ini. Tapi kali ini aku mau menulis tentang seseorang yang memang pada dasarnya keren. Salah satu yang sekarang jadi patokan aku juga untuk bertahan menjadi manusia yang berguna.
SPV Akuntansiku sendiri.
Pas lagi mengaduk-aduk panci itu, sambil tetap merasa keren, aku tiba-tiba keingat tentang orang yang sudah menjadi spv gue sejak dua tahun terakhir. Perempuan. Menikah. Dua anak. Satu suami. Tetap cantik. Tetap awet muda. Tetap bisa masak enak (aku pernah dimasakin). Tetap bisa bawa bekal. Tetap pumping. Tetap pulang kantor sesuai jadwal. Tetap cerdas. Even kerjaannya yang seabrek lebih cepat selesai daripada aku.
Maksud gue ya, GIMANA CARANYA?
Dia sedikit banyak mengingatkanku dengan mamaku sendiri, mungkin dengan versi lebih mapan dan agak lebih cekatan--apalagi di umurnya sekarang.
Dari dulu banget, khususnya setelah kerja, aku berkali-kali bertanya-tanya sendiri kalau sedang melihat para ibu yang menjadi wanita karir itu, bagaimana caranya membagi 24 jam menjadi istri, ibu, dan pekerja? Makanya, ngeliat Mamaku sendiri, aku selalu 'wow keren banget' . Lalu ngeliat spv aku? Apalagi! "MAKHLUK DARI MANA INI?!"
Masih ga ngerti sampai hari ini. Masak, ngurus keluarga, dan tetap cerdas? Itu triple ultra combo berkat Tuhan YME yang masih belum bisa aku capai sampai hari ini.
PR ku untuk meniru orang-orang ini banyak sekali. Meniru kebaikan. Meniru kekerenan. Entah sampai kapan. Mungkin selamanya.
Makanya, menikah ini, aku sudah bertekad banget. Minimal bisa ngasih makan anak mertua (gue tetap catering awkwowkakwkwkwk). Dua minggu ini juga pulang-pulang hampir ga sempat nyentuh laptop lagi. Isinya berkemas. Berkemas. Berkemas. Kami sudah membagi tugas. Aku ga masalah mesti berkemas, menyetrika, memasak, dll--selama kegiatan cuci mencuci diambil alih oleh doi--karena aku orangnya agak jijikan.
Aku jamin, mamaku pasti bangga banget sama anak perempuan satu-satunya ini karena akhirnya mau memasak dan beberes rumah hohoho.
Sekian. Tadinya mau nulis tentang Hari H nikaham dan resepsiii gueee. Tapi mendadak menulis ini terasa lebih menarik.
21 April 2026,
Di tempatku kerja sekarang, aku menemukan banyak orang baik.
Ada satu orang yang ingin kuceritakan.
Sebenarnya, di blog ini aku sudah pernah menuliskan beberapa orang baik yang aku temui selama berkantor.
Tapi rasanya tidak ada habis-habisnya untuk diceritakan. Karena berbuat baik itu sulit. Menuliskannya lebih mudah.
Aku lahir di sebuah kota namanya Pontianak. Tumbuh dan besar di sana. Logat orang-orang di sana... agak apa adanya. Nyablak. Sedikit-banyak menyertai tutur ancaman. Nyaring. Jadi, aku menganggap, rata-rata orang tampaknya kurang lebih begitu sifatnya. Keanggunan dan kelembutan seorang wanita tampaknya hanya ada di film dan buku-buku fiksi.
Kemudian aku masuk kantor ini, dimasukkan ke grup whatsapp. Saat itu, salah seorang rekan kantor, perempuan, dan kebetulan lagi cuti, menyapaku di grup.
"Selamat datang di Keuangan, Sheren."
Aspv Keuangan.
Jujur, selain hidup dengan logat-logat melayu yang agak keras, aku juga pernah punya pengalaman traumatis dengan rekan kerja senior yang gila. Real gila. Tiba-tiba ngamuk. Tiba-tiba bentak. Jadi sebenarnya aku was-was banget dengan sosok berstatus aspv keuangan pada saat itu.
Kayak, dia kenapa nyapa ya? Baik ga ya? Kayak apa ya orangnya? Sinis ga ya?
Kemudian, dia masuk, dan aku kaget. Literally kaget.
Kok bisa ya, ada manusia dengan nada dan gesture selembut itu dalam bersikap? Kalau bahasa sekarang, sundanya tuh nyunda banget.
Jujur kaget. Soalnya nenekku sunda paten. Saudara-saudarinya yang sunda juga beberapa kali ke Pontianak dan tak pernah sejumput pun kulihat kelembutan itu. Ternyata, beda daerah, beda juga cara bersikapnya. Meskipun satu suku.
"Anjing..." ucap aspv keuangan pada suatu hari dengan nada lembut seperti dari khayangan.
Oke lebay. TAPI BENERAN GUYS. ITU PERTAMA KALI GUE PERNAH DENGER ORANG LAGI MAKI YA, TAPI NADANYA KAYAK MUJI ANAK ORANG😭.
Anw, luar biasanya lagi, lembutnya itu ga sekedar kata-kata yang keluar dari bibir. Tapi juga tingkah laku, sifat, pola pikir, yang terlihat cuma kebaikan. Kalau yang udah nonton Ghost In Cell nih, istilahnya 'aura emas'.
Emang pernah bilang anjing sih, tapi kayaknya karena pake nada semerdu itu, gue gabisa nyebutnya kejahatan.
Bisa begitu ya? Kok ada yang orang, terlahir untuk punya energi sebesar itu untuk terus bersikap baik? Doa apa yang dipanjatkan ibunya saat mengandung dan membesarkan beliau ya? Pasti Tuhan sayang sekali dengan dia dan orangtuanya.
Kayak, seluas dan sedalam apa hatinya untuk bisa tetap tersenyum, menahan nada tinggi, membantu orang-orang yang kesulitan. Berbagi tidak hanya materi, tetapi waktu dan tempat dipersilahkan?
Maap garing🙏.
Aku sendiri sulit untuk mendeskripsikan detail-detail kebaikan yang dia lakukan karena kebaikannya bahkan sampai ke hal dasar yang tidak terlalu dilihat orang.
Hal paling sederhana seperti sering membawa snack pas ke kantor (sebenarnya banyak orang melakukan ini, tapi secara intensitas, jelas dia pemenangnya). Peka terhadap kebutuhan orang lain (mungkin ini kebiasaan karena sering jadi sekretaris).
Kadang, hal-hal seperti itu bagi kita biasa, dan bukannya ga mungkin kita berkata "Ah gitu doang gue juga bisa."
Tapi, bayangkan, bisa ga kalian, bawain snack untuk seruangan, sambil selalu tersenyum all day, berkata dengan tutur kata lembut alias soft spoken, membersihkan hati orang-orang, menyediakan waktu, tempat, memberi saran tanpa menjatuhkan, tetap mengingatkan sholat, dan menyelesaikan pekerjaan, semua dalam satu hari?
Gue sih gabisa ya maap.
Aku pernah nih, mood lagi jelek banget. Kayaknya semua orang dri ruangan sadar deh. Soalnya ekspresi dan emosiku gampang bocor.
Dan dia tiba-tiba ngasih coklat. Katanya supaya lebih happy. Tanpa konteks. Tanpa nyinggung masalah aku.
Mataku berkaca-kaca banget pas itu hiks. Sekaligus menyadari, mungkin perlu waktu yang sangat-sangat-sangat lama, untuk bisa belajar menjadi seperti dia. Bisa jadi seumur hidup.
Sayangnya, sekarang beliau sudah jauh dipindahcabangkan ke Jabar, tempat keluarga kecilnya berada. Dan bahkan, setelah pindah, kebaikannya masih sering terasa.
Goal aku abad ini, termotivasi sejak masuk kantor : jadi orang baik.
![]() |
| Aceh jam 7 malam. |
Aceh, 24 Juni 2026.
01.40 am.
amaze. amaze. amaze.
Subuh dini hari begini, aku baru saja menyelesaikan jobdesc-ku dari yang aku sebut 'tim dadakan Aceh'. Sebelum ngerjain jobdesc, sempet ngeliat sebentar Ronaldo memasukkan goooooooooooooool Piala Dunia. Intermezzo, sepertinya ini pertama kalinya aku melihat secara live (layar) saat Ronaldo mencetak gol.
Sudah beberapa hari ini, aku, untuk kesekian kalinya dalam 27 tahun hidupku, dibuat terhenyak dengan kebaikan Tuhan kepadaku. Sepertinya aku sudah pernah berkali-kali-kali menuliskan tentang betapa Tuhan selalu dan selalu mendengarkan doa-doa kita.
Meskipun aku bukan manusia yang baik--apalagi hamba yang taat, tapi aku tidak bisa menyangkal bahwa aku sering sekali jatuh cinta dengan Tuhan dan segala kebaikan-Nya. Aku belajar, bahwa Tuhan tidak selalu memberi rezeki dalam bentuk uang. Kadang sebuah pemahaman yang baik pun adalah rezeki paling luar biasa yang bisa kita terima.
Sudah kelewat banyak aku bercerita di blog ini tentang takdir baik yang kujalani hingga membawaku ke kantorku sekarang bekerja. Di kelilingi orang-orang baik, cerdas, sabar, dan orang-orang yang penuh empati.
Hari ini, aku ingin bercerita sedikit, mungkin hampir persis seperti yang pernah kutulis di tahun 2021. Tapi justru semakin membuktikkan keberadaan-Nya, kebaikan-Nya, dan kasih-Nya kepada hamba-hamba-Nya.
Hari itu hari Rabu. Aku sedang berdoa setelah sholat--untuk pertama kalinya dengan penuh kesadaran dan kesungguhan, bahwa mungkin budget pernikahan kami akan sangat mepet dan rasanya itu agak menakutkan (YaAllah maapkan hamba cerita di sini). Cukup. Tapi mungkin benar-benar menguras seluruh tabungan w yang w sisihkan dengan hati-hati selama tiga tahun bekerja. Kami berdua memang perintis. Cukup tidak cukup dana bantuan dari orangtua, harus cukup. Dana orangtua saat digabung sebenarnya cukup banyak dan bisa membuat pesta yang -standar negara indonesia-.
Tapi namanya juga manusia, melihat ini, loh kok bagus, melihat itu, loh lucu juga. Tidak bisa ditinggal. Akhirnya dituruti.
Dan ada banyak lainnya, yang ingin sekali kuturuti, tapi harus kutahan, berusaha sekuat tenaga agar sesuai dengan rab yang kami buat dan rombak berkali-kali itu.
Jadi, Rabu siang itu aku berdoa. Sederhana. Minta agar dicukupkan rezeki kami. Diluaskan. Meskipun saat berdoa, aku sungguh-sungguh tidak melihat titik peluang manapun. Jadi aku benar-benar hanya sepenuh hati memohon kepada YME agar apa yang ada ditabungan ini benar-benar cukup, tidak perlu lagi ada pengeluaran tidak terduga. Karena seperti yang kita semua tahu, bahan bakar naik, inflasi makin bikin sedih, ekonomi agak kurang stabil. Jadi agak panik dikit yekan.
Belum lagi tiket pesawat bolak balik berkali-kali,
Belum lagi nyari tempat tinggal bersama,
Belum lagi healing-healing kami,
Belum lagi skincare dan lulur pengantin yang wangi itu,
Emang mengeluh itu niqmat sekali. Intinya begitulah. Manusia keras kepala ini ingin hidupnya tetap stabil, nyaman, dan kenyang, sambil tetap melaksanakan pernikahan yang memuaskan.
Intinya, persis setelah Rabu itu berdoa, besoknya, aku merasakan langsung campur tangan Tuhan kembali dalam takdirku.
Tiba-tiba aku masuk dalam daftar orang yang harus pergi ke Aceh mengurus regionalisasi.
Hah?
HAH?
Aku? yang dari awal ga pernah masuk dalam tim regionalisasi yang super sibuk dan hanya diisi oleh orang-orang terpilih yang cerdas dan penuh dedikasi dan loyalitas tanpa batas itu?
Tiba-tiba disuruh ke Aceh? Menggantikan spv ku yang seharusnya pergi?
Panik. Bingung. Takut. Cemas (yaiyalah woi).
Setelah tenang sedikit, sebuah perasaan lain yang lebih ringan pelan-pelan menyusupi dadaku.
Rezeki.
Dari Tuhan.
Yang mendengar doaku.
Uang sakunya sebenarnya toh bukan yang gila-gilaan karena aku sendiri hanya staf krucil apa adaanya. Tapi jelas membantu. Untuk tiket pergi sekali ke Pontianak masih cukup.
Tuhan pasti sangat-sangat menyayangi orangtuaku sampai hidupku ditolong sedemikian banyak seperti ini. Entah kebaikan dan doa seperti apa yang dipanjatkan oleh orangtuaku sehingga takdir baik sering menghampiriku.
Aku banyak menyadari akhir-akhir ini, bahwa Tuhan mendekatkanku dengan orang-orang baik pada masanya. Untuk membantuku. Untuk menolongku. Orang baik yang berada di sekitarku juga merupakan rezeki dari Tuhan. Datang, dan pergi. Muncul, dan hilang. Semua ada masanya.
Dan hari ini, aku berharap, kelak aku bisa menjadi rezeki bagi orang lain. Membantu mereka. Memahami cara pandang mereka. Bersimpati dan berempati. Dan menjadi penolong.
Segini dulu soalnya kayaknya aku semakin melantur.
Semoga semua urusan di Aceh dilancarkan.
![]() |
| sumber : kompas.com |
Jakarta, 12 Juni 2026
5.00 PM.
Saat aku menulis ini, aku bahkan sedang duduk di kantor yang seleksi masuknya diselenggarakan oleh negara. Sudah jam pulang, tapi aku memutuskan untuk menulis sedikit.
....
Sejak kecil, aku adalah salah satu orang yang dalam hidupnya banyak sekali ditolong oleh pemerintah.
Dari aku kecil, dengan semua ingatan yang tersisa, banyak hal dalam hidupku yang lebih mudah karena ada pemerintah. Contoh paling gampangnya ASKES. Kebetulan waktu kecil aku langganan banget sakit. Pilek lah. Demamlah. Gigi lah. Typus lah. DBD lah.
Saat dewasa pun, ada saja sakit yang menghampiri. Terakhir ada sinus. Waktu itu askes sudah berubah menjadi BPJS. And you know what? Saking parahnya, aku diharuskan operasi.
BPJS kembali menyederhanakan masalah itu.
Dan itu tidak hanya aku. Tapi kedua orangtuaku. Saudara-saudaraku. Semuanya, menjadi tanggungan BPJS. Aku dengan kerelaan hati membayar Rp 150.000 dulu (karena sudah umur dewasa jadi bayar mandiri) karena aku tahu, manfaat yang kudapat jauh lebih besar daripada yang kubayar.
Begitupun dengan sekolah. Sejak SD aku sudah sekolah di SD Negeri. Kebetulan masa itu SD Negeri jelas bagus sekali kualitasnya (semoga masih bagus hingga hari ini). Aku hampir tidak membayar SPP selama sekolah karena pemerintah menggratiskan sekolah negeri, seingatku maksimal aku hanya bayar sekitar Rp 10.000 . Bahkan di zaman itu, termasuk kecil. Sebagai perbandingan, SPP TK ku sekitar Rp 40.000.
SMP aku memang bayar SPP karena masuk kelas Bina Prestasi (program 'swasta' dari kelas itu semacam RSBI). Lalu SMA, kembali gratistististis, ditanggung oleh pemerintah Provinsi. Masuk sekolah sehebat SMA Negeri 1 Pontianak dan tidak membayar, adalah sebuah privilage besar.
Masuk kuliah? Aku pun masih mendapat uluran tangan pemerintah. Temenku, Alya F, mendorongku untuk ikut seleksi Beasiswa Unggulan. Sebuah beasiswa yang sampai hari ini aku anggap sebagai ajang kemurahan hati pemerintah.
Akhirnya dengan kepercayaan diri secukupnya, aku mendaftar. Dan alhamdulillah lolos. Kuliah gue sejak semester dua until lulus, gratis segratis gratisnyanya even dapat uang buku dan uang jajan. Dari situ aku bahkan bisa bayarin kuliah adekku.
Lalu aku lulus dengan menyenangkan.
Masuk masa depresi jobseeker. Dan kalian pasti tahu endingnya;
Yap. Lagi-lagi pemerintah menolong kami. Awalnya, seminar-seminar Prakerja. Lalu Rekrutmen Bersama BUMN. Gila. Ribuan pendaftar. Ratusan--mungkin ribuan, lowongan kerja.
Aku tidak pernah merasa sebersyukur itu. Aku mendaftar RBB 3x. Pendaftaran pertama memang lagi kerja sih, milih perusahaan seadanya, tes seadanya. Ga lolos. Daftar lagi, kebetulan juga masih kerja di tempat lain. Aku bahkan ga inget milih perusahaan apa, tes seadanya di cafe yang (sialnya) rame. Ga lolos.
Tes ketiga. Kali ini aku benar-benar menyeleksi setiap perusahaan tujuan. Ngeliat satu persatu profilnya di internet. Ngeliat persyaratan kualifikasinya. Belajar bener-bener. Mantengin video youtube pelatihan bahasa inggris berjam-jam. Latihan matematika yang kubenci. Latihan wawancara berkali-kali-kali-kali sama pacarku.
Lolos.
Oh God must love my parents very much.
Untuk kesekian kalinya,
Aku ditolong oleh negara, agar masa depanku baik-baik saja.
Lalu aku masuk kerja, dan sangat kebetulan sekali, aku kerja di bagian yang ikut melakukan penyaluran dalam bansos. Aku bahkan pernah terjun langsung ke lapangan untuk membagikan bantuan. Dan sekali lagi, aku melihat, orang-orang yang tersenyum lebar ketika menerima beras. Yang rela hujan-hujanan datang demi 10kg beras. Dengan jas hujan plastik yang mudah robek. Dengan selembar fotokopi kartu keluarga. Dengan mata basah dan kosong saat melihat loket pengambilan beras sudah tutup; karena begitu berharap bisa masak beras hari ini tapi terlambat datang.
Jadi,
ketika orang-orang meremehkan program pemerintah, terutama yang telah kurasakan manfaatnya, aku ngebatin;
"Mereka hanya tidak berada di posisi itu saja. Di posisi tertolong. Mereka belum melihat yang dilihat oleh pemerintah."
Mereka protes dengan kebijakan BPJS yang mahal iurannya, padahal, ribuan--jutaan masyarakat tertolong karena itu. Protes karena pelayanan birokrasi yang panjang akibat BPJS--padahal, sabar sedikit saja. Sedikit saja, maka manfaatnya benar-benar semenyenangkan itu.
Mereka protes, bilang seleksi RBB dan seleksi-seleksi nasional pemerintah lainnya tidak berguna, hanya buang uang, hanya untuk orang dalam. Padahal aku adalah saksi mata yang lolos dengan murni. Semurni-murninya. Mereka hanya tidak lolos meskipun merasa layak, dan marah.
Aku adalah orang yang yakin, aku akan membela negara dengan sebesar rasa yang bisa kuberikan, karena aku telah banyak ditolong oleh program-program pemerintah--yang menurutku--tepat sasaran.
Banyak momen, ketika orang berkoar-koar, aku memilih diam. Karena aku merasa berutang budi.
Banyak kejadian saat pemerintah membuat kecewa masyarakat, aku diam. Karena...aku berutang budi.
Banyak saat semua orang protes di internet, aku hanya membacanya dan diam, merepost pun tidak.
Karena, aku adalah orang yang paling banyak ditolong negara.
TAPI HARI INI SAYA AKAN LAWAN.
Tapi guys, lagi dan lagi dan lagi,
Di antara semua kebaikan negara dan ketepatan program yang pernah aku dapatkan,
Aku melihat,
Korupsi,
Pembabatan hutan,
Pengerusakan alam,
Ketidakadilan hukum untuk orang-orang yang benar,
Sekali lagi, ketidakadilan hukum untuk orang-orang yang benar,
Korupsi lagi,
Pembakaran hutan Kalimantan yang kucintai,
Orang-orang yang tidak kompeten di bidangnya,
Program yang sangat boros yang memakan kas negara,
Hingga Rupiah kami semakin semakin turun nilai tukarnya,
Hingga IHSG yang ga begitu kumengertipun terus-terusan menjadi berita,
Lalu korupsi lagi,
Lalu minyak naik,
dan naik,
dan naik.
Lalu kebijakan ini, dan kebijakan itu.
Aku melihat negaraku sendiri, yang sudah banyak menolongku, terlihat sakit. Terlihat salah.
Seperti yang aku tulis di Threads;
Tadinya aku merasa cukup jadi pembaca tentang kondisi hukum dan ekonomi yang lagi terjadi beberapa waktu terakhir. Tapi sepertinya makin ke sini, kayaknya harus disuarakan.
Negara kita tidak sedang baik-baik saja.
Kita semua tahu itu. Dan itulah yang hari ini sedang berusaha disuarakan banyak orang. Hari ini, mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI) sedang turun, berunjuk rasa ke jalanan.
| sumber : kompas.com |
Ada banyak sekali yang salah dari kebijakan pemerintah akhir-akhir ini. Mungkin kebijakannya baik, tapi... tidak semua hal baik selalu bisa berjalan efektif. Dan sayangnya, itulah yang terjadi sekarang. Dan aku merasa, sebanyak apapun aku telah berutang budi kepada negara, kritik tetaplah kritik. Aku tidak boleh menutup mata hanya karena hidupku lebih mudah dari yang lain. Aku tetap bangga dengan BPJS, dengan kehebatan akses kesehatan di Indonesia, dengan berbagai subsidi yang luar biasa, dengan beasiswa, dan banyak hal lain. Tapi ketika pemerintah salah, maka tetap salah. Dan kita sebagai masyarakat, yang bekerja untuk hidup dan untuk negara, yang bayar pajak untuk negara, berhak untuk protes.
Berhak untuk marah. Kecewa. Menyuarakan aspirasinya. Mengkritik. Mengawasi.
Karena kalau bukan kita yang peduli, maka siapa lagi yang mau peduli? Siapa lagi yang mau mulai? Satu atau dua orang tidak cukup untuk mengawasi pemerintah. Sepuluh orang pun tidak cukup. Seratus orang pun belum cukup. Butuh sangat banyak sekali suara, mungkin lebih dari yang kita kira. Jangan sampai redup. Kita harus terlihat cukup banyak agar terlihat, agar terang benderang.
Aku lihat demo hari ini masih dihadang oleh aparat. Padahal hanya penyampaian aspirasi.
Sekali lagi--aku adalah orang yang yakin, aku akan membela negara dengan sebesar rasa yang bisa kuberikan, karena aku telah banyak ditolong oleh program-program pemerintah--yang menurutku--tepat sasaran. Dan aku akan melakukannya juga hari ini, dan lagi di masa depan.
Karena membela negara tidak berarti melawan pihak asing. Membela negara tidak berarti diam saat orang-orang menyalahi pemerintah.
Kadang di saat seperti ini pun, saat negara sedang berada di jalur yang mulai salah, bersuara adalah cara kita membela negara. Mengingatkan Negara. Menjelaskan apa yang salah.
Meskipun aku mulai dengan hal-hal yang kecil, seperti ngerepost postingan, membuat story, memberi komentar, aku harap aku bisa berkontribusi sedikit--tidak sebanyak negara yang menolongku. Tapi semoga cukup.
Hari ini aku juga memutuskan menulis sepanjang ini, karena aku juga kesal sekali melihat kondisi negaraku akhir-akhir ini. Semakin sering satu pertanyaan muncul di kepalaku;
"Kok begini ya?"
Aku masih dengan pendapatku, bahwa kadang-kadang masyarakat terlalu keras mengkritik sesuatu, karena mereka hanya tidak di posisi itu. Di posisi tertolong. Mereka belum melihat yang dilihat oleh pemerintah.
Tapi, kupikir, kadang-kadang... tampaknya pemerintah juga tidak pernah berada di posisi kami. Negara belum melihat yang telah dilihat oleh masyarakat;
Kerusakan.
Aku sangat mengapresiasi teman-teman yang rela turun ke jalan demi negara kita yang lebih baik. Semoga ada perubahan. Semoga berjalan lancar.
Semoga negara kita lekas sembuh.
21 Maret 2023
Sejak beberapa tahun terakhir, istilah "Childfree" itu udah familiar banget di mata dan telinga netizen. Mau buka Instagram, Youtube, Facebook, Tiktok, apalagi Twitter nih, pasti paling enggak muncul deh satu konten tentang childfree. Apalagi beberapa bulan terakhir waktu 'panas-panasnya' kasus Gita Savitri. Pokoknya sejak hari itu, kalau udah ada artikel yang ngomongin tentang childfree, kagak sah rasanya kalo kagak ngungkit Gitasav. Serius. Ini sama kayak orang-orang yang sering ngungkit kasus Audrey kalo udah ngomongin tingkat kepercayaan dan empati masyarakat Indonesia. Nama-nama ini udah kayak jadi trademark untuk 'kasus' tertentu. Barusan aja nih aku nge-searching "Gitasav" yang keluar ya sederet berita tentang childfree.
Suka atau enggak, childfree ini jelas merupakan fenomena yang trennya terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini juga sebanding dengan tren pernikahan yang terus menurun 10 tahun terakhir menurut katadata.co.id
Pada awalnya, aku menganggap tren ini adalah dampak dari pola asuh orang tua dan ekonomi para 'penganut childfree' di masa lalu mereka. Ada beberapa opini yang kubaca dari para perempuan yang memilih childfree, bahwa mereka mengalami trauma dari pola asuh lingkungan sekitar terutama orang tua yang menurut mereka kasar dan menyakiti fisik maupun mental. Selain itu, keadaan ekonomi yang sulit di masa kecil juga membuat perempuan yang memilih childfree ini ragu untuk memiliki anak.
Intinya adalah mereka, kemungkinan, takut akan kegagalan menjadi orang tua yang ideal. Ada keinginan-keinginan masa kecil, seperti kasih sayang ataupun kebutuhan sekunder, tidak dapat dipenuhi oleh lingkungan penganut childfree ini sehingga mereka tidak ingin keturunan mereka merasakan hal yang sama di masa depan.
Tetapi kemudian, aku membaca salah satu artikel opini di Quora yang memberikan sudut pandang yang menurutku cukup 'fresh' untuk direnungkan secara baik-baik.
Tulisan beliau sebenarnya sangat panjang. Aku akan mencoba menyingkatnya agar tidak mengulang-ulang informasi.
Semuanya dimulai dari patriarki yang mengakibatkan feminisme. Dulu, patriarki merupakan budaya yang sangat kuat di mana laki-laki adalah satu-satunya pemimpin dalam keluarga. Dengan adanya hal ini, otomatis banyak tanggung jawab yang jatuh ke pundak lelaki mulai dari menjaga keluarga, hingga mencari pekerjaan dan uang. Kepemimpinan ini berdampak pada kebebasan perempuan yang berada di bawah kendali lelaki--sehingga jelas perempuan memiliki ruang gerak yang terbatas untuk melakukan apapun.
Dari sinilah muncul perjuangan perempuan agar bisa sekolah, kerja, dan setara dalam banyak hal. Sayangnya, lambat laun hal ini menyebabkan timbulnya berbagai efek samping lain, seperti kartu domino. Misalnya, dengan adanya wanita yang bekerja dan dapat menghasilkan uang sendiri, banyak laki-laki yang kemudian memilih untuk mundur atau bahasa kasarnya mengabaikan kewajiban mereka untuk mencari uang dan menyerahkan beban tersebut kepada wanita.
Feminisme ekstrim ngebuat perempuan akhirnya enggak jadi sesuatu yang diinginkan oleh lelaki yang punya konsep maskulinitas tradisional. Sementara lelaki yang gagal punya maskulinitas, mereka malah jadi kayak perempuan. - Octa
Kesimpulan yang kudapat adalah, para perempuan di masa modern ini, terlanjur mengaktifkan 'survival mode' di mana mereka harus berjuang keras untuk bisa mendapatkan pekerjaan, mencari uang, dan bertahan hidup. Kenapa survival mode ini aktif? Karena pihak yang seharusnya memiliki sifat protecting dan provide, alias pria, itu tidak mampu untuk memberikannya.
Bisa dilihat dari banyak kasus nyata, para wanita yang biasanya menentang childfree adalah mereka yang memiliki pasangan dengan sifat protect and provide, alias pasangan yang mapan dengan wibawa alami untuk melindungi keluarga.
Ketika dalam suatu keluarga si wanita tampak lebih dominan pengaruhnya terhadap si pria, tidak mengherankan apabila ternyata mereka penganut keluarga childfree. Bagaimana mau punya anak? Mereka saja harus berjuang keras untuk menghidupi diri dan memanjakan diri sendiri, dengan uang sendiri--karena si pria ga mampu memberikan hal itu.
Enggak menikah dan enggak punya anak itu jadi cara untuk bertahan hidup yang fair buat mereka; mereka enggak akan menyakiti lebih banyak orang lagi (termasuk anak-anak mereka yang enggak dilahirkan.) - Octa.
Dengan feminisme yang semakin naik dan maskulinitas yang turun, sudah jelas para pria berkualitas ini juga tidak banyak di pasaran. Akhrinya, supply tidak bisa memenuhi demand dan para wanita ini pun memilih enggak nikah aja sekalian. Atau ga usah punya anak aja. Capek beud.
Bisa dibilang, menurut si sumber, masalah yang harus diperbaiki ini sebenarnya adalah prianya. Sebelum para pria ini meminta ini dan itu alias anak ke para wanita, harus intropeksi dulu, kalian sebagai pria udah jadi sosok yang berkualitas belum?
Kamu lihat enggak banyak cowok generasi Gen Z yang pantes buat jadi provider dan protector untuk cewek Gen Z yang mau menikah dan punya anak? - Octa
***
Apakah aku setuju sepenuhnya dengan opini di atas? Jawabannya adalah tidak sepenuhnya. Tetapi jelas opini di atas tidak bisa diremehkan karena banyak kasus yang cukup relate--misalnya begitu maraknya LGB dan Transgender dewasa ini, juga pria-pria yang menganggur dan membiarkan pasangannya bekerja tanpa berbagi kewajiban.
Kalau ngomongin childfree ini, menurutku kita tidak bisa melihat satu faktor dan satu sudut pandang saja. Itulah mengapa aku secara terbuka menerima opini di atas--tanpa menutupi opiniku sendiri. Manusia itu makhluk yang kompleks. Ada pikiran dan perasaan yang membuat kita dapat membangun peradaban hingga hari ini. Mental setiap orang tentu berbeda-beda. Kebutuhan setiap orang juga berbeda. Ada mereka yang menjadi kuat mentalnya karena bayi yang mereka lahirkan, ada juga yang hancur mentalnya karena itu.
Namun yang bagian terpenting adalah, ketika kita sudah mengambil keputusan--entah itu memutuskan punya anak atau memutuskan childfree, hal yang harus kita lakukan adalah membicarakan dengan mereka yang terkait langsung dengan keputusan itu--pasangan dan orang tua. Sangat egois kalau keputusan tersebut diambil tanpa memperhatikan perasaan orang-orang yang terkait--karena manusia itu pada dasarnya adalah makhluk sosial yang saling memiliki. Ini jugalah yang mengingatkan kita pentingnya untuk mencari pasangan yang se-visi dan se-misi dengan kita.
Di sisi lain, keputusan yang kita ambil, menurutku, tidak seharusnya membuat kita jadi merendahkan dan menyakiti perasaan orang yang memiliki pandangan berbeda. Kasus Gitasav--jujur saja, adalah blunder yang seharusnya bisa dihindari. Bagaimanapun Gita membela diri, menurutku sudah jelas kalimatnya memang condong menyudutkan pihak lain.
Singkat kata--karena ini tulisan lama yang tak sengaja aku tinggalkan 3 tahun (nulisnya 21-03-2023, publish hari ini adalah 7 Juni 2026), semoga apapun keputusan kita tentang masa depan, adalah yang terbaik untuk kita.
Skip. Parkir. Naik ke atas. Bareng satu temen.
Hal paling awkward yang kemudian terjadi pas aku sampai adalah.. kepedulian teman-temanku. Setengah ngejek, setengah..ngebully. Tapi, lucu sekali.
Pikiran aneh bin negatif mulai memenuhi isi kepala,
Kayak, eh, lebay kali la? Aku masih hidup kok. Mereka ngejek ya? Aku bahkan yakin masih bisa keliling Jakarta dengan kondisi ini.
SOALNYA TAHUN 2020 AKU PERNAH BANGET NULIS INI (BUKA LINK)
Sebenarnya traumatis apa yang pernah dialami Sherenanda sampai mencurigai teman-teman baiknya begini?
Tapi syukurlah. Sekali lagi syukurlah. Aku dikelilingi oleh orang-orang yang mampu memberikan simpati dan empati. Sehingga akupun bisa belajar, tidak ada salahnya menerima dan memberi kepedulian yang sebegitu besar <3
![]() |
| not full team. Ini ciwi-ciwinya. |
Satu hal yang paling tidak kusangka dalam jalan hidupku adalah; betapa mudahnya menyayangi kalian.
Btw, tulisan ini aku tulis beberapa waktu lalu (mungkin seminggu lebih?). Lalu aku tertidur pada kalimat "hari ini, aku nulis semua kalimat toksikku di buku..." dan sekarang, aku lupa dengan apa yang seharusnya aku tulis di blog ini.
Tapi weh, ini beberapa bulan terakhir tulisanku isinya tentang manusia dan hubungannya semua ya? Heran banget w. Keknya mesti healing dah. Kebanyakan terpapar aura negatif.
Today, I just realized something… that I don’t really know what’s going on around me.
Well, maybe it’s the consequence of how I am. I don’t really
ask, don’t really get involved in people’s problems. I just do my tasks, smile
when needed, laugh when it’s enough. So yah… no one really thinks to care
enough about me wkwk.
But somehow, it’s still hurting me.
It makes me feel like… maybe I’m just not that important.
Even when I genuinely ‘luv and care’ about them. Not important enough to be
told things. I’m just… another NPC. Someone who finds out stuff randomly from
others, not someone they think of informing first.
And the worst part is, I can’t even be mad about it.
Because I’m no different. I don’t share things about
myself. I’m not a good listener, not even a fun person to talk to. But still…
today I feel really sad.
I don’t even know why I’m this sensitive. I hate this, bcs I’m
literally acting like an ‘ibu-ibu’, so damn sensitive. Getting emotional over
everything.
Maybe it’s everything piling up. The whole marriage thing
has been freaking me out. It’s been arguments, then silent treatment, then
arguments again, then silent treatment again--over and over and over with my fiancee.
Then this and that keep coming up, and I had no idea about any of it (nah everyone
knew, except me). And it just makes me feel… sick.
I hate that I’m this ‘baper’. I hate that I can’t genuinely
feel happy for other people. I can’t just let it go and laugh it off, put my
earphones in and blast the volume…just to shut everything out.
and I’m scared of things I can’t even see (the future?). None of this is their fault. it’s all on me :”(
Sebenarnya, ini cerita rahasia. Tapi since banyak temen-temenku yang tahu cerita ini, dan banyak saudara yang juga share di Instagram, kupikir sekalian saja aku cerita di blog ini. Toh blogku hampir ga ada yang baca wkwk.
Hanya sebuah tulisan pengingat, mungkin untuk dibaca beberapa tahun lagi.
Akhirnya, setelah sekitar 7 tahun berpacaran, doi dan keluarga datang ke rumah.
Bukan kejutan, tapi SERU BANGET.
Awalnya nih ya, lamaran ini sebenarnya dibuat cuma supaya 'sekedar ada sesuai formalitas', seenggaknya pembicaraan setengah tahun lalu begitu antara aku, doi, dan orangtua kami.
Tapi tiba-tiba orangtuaku semangat BANGET. Syarat-syarat lamaran sesuai adat melayu diajukan; kain sambas, cincin, ini, itu. Buset dah.
Makin dekat hari H, ortuku mulai semakin semangat. Mesan sate dalam jumlah gede, bakso. Ngerapihin rumput. Ganti dek atap seluruh rumah. Ngecat dinding luar rumah, ngecat dinding dalam rumah, ngecat kamar, ngecat meja, ngecat kursi, even ngecat ayunan. Kayaknya kalo masih ada sisa cat, itu rumput bakal dicat juga.
Belum selesai ges,
Beli karpet, bikin meja (literally nukang bikin meja), beli tempat makan yang cantik-cantik, gongnya sampe pasang tenda.
Aku beneran migrain ngeliatnya. Jujur aja, aku juga sampe terang-terangan bilang kalau budgetku cuma sekian (yang mana kecil banget) dan sisanya aku gamau tau, soalnya sesuai perjanjian awal ini harusnya cuma acara biasa aja. Mama Papaku legowo; gpp sekalian open house lebaran katanya. Jadi mereka yang nanggung.
Tamu undangan diperkirakan 100. Lima puluhan pihak laki-laki, lima puluhan sisanya pihak kami. Sebenarnya mengingat keluarga kami berdua emang BESAR banget dan masih terhitung kerabat dekat, itu bukan angka yang fantastis. Cuma emang bikin sesak nafas pas dengernya.
Meskipun undangannya mendadak mencapai 100 orang, kukira semua seperti biasa aja di mana lamaran ini sekedar acara makan-makan sambil haha-hihi.
Tapi kemudian di sore hari yang indah di hari itu, Om-ku datang dan dengan ekspresi dan intonasi yang super serius kayak utusan negara, mengajak kami membahas rangkaian acara.
Sumpah. Ini jadi beneran serius. Aku sampe ga bisa ngomong saking syok-nya.
Acara dirombak beberapa. Jangan tanya gimana. Intinya beneran sesuai tata cara lamaran di lingkungan kami. Aku mendadak dipingit YaAllah? Tiba-tiba aja aku di dalam kamar dan ga boleh keluar.
Acara berlangsung. Ada berbalas pantun pula.
Untunglah, setelah mendengarkan saran beberapa teman, aku memutuskan pake MUA dan photographer. Jadi emang mendukung suasana serius yang mendadak terjadi ini. Dan aku juga bersyukur banget karena memutuskan ga pake decor. Foto-fotonya jadi beneran otentik dan menonjolkan dinding yang baru di cat dengan sepenuh hati itu--alias cakep.
Ini diaaaaa foto-fotonyaaa ;
| Doi tinggal di gang sebelah. Seru banget pas rombongan puluhan orang dateng tiba-tiba. |
![]() |
| Cincin yang sama dengan cincin yang dipake pas ngelamar di tempat sushi. |
![]() |
| luv |
![]() |
| luv |
![]() |
| Jujur aku SUKA BANGET sama kain sambas ini. |
![]() |
| Photographernya ikutan syok karena ga ada decor, alhasil kami tur keliling rumah disuruh foto sana sini. |
Semakin banyak waktu bersamamu,Semakin mahir ku menata rinduSemakin banyak waktu di dekatmu,Semakin ku paham apa doamu.Hadirmu sangat berharga,Kuingin engkau tahu,Aku,Sayang,Kamu.
Mamaku selalu mengeraskan suaranya, saat sholat.
Dulu aku pikir, mungkin itu cara supaya aku bisa mengikutinya saat masih belajar sholat.
Tapi Mamaku selalu mengeraskan suaranya saat sholat. Bahkan setelah aku bertumbuh dan hafal bacaan sholat.
Selalu mengeraskan suaranya.
Bukan yang seperti imam di masjid,
Tapi cukup. Cukup untuk kami mendengar setiap lafadznya saat sedang sholat.
Bertahun-tahun.
Saat menginjak kuliah, jawaban itu akhirnya muncul.
"Alasan kenapa Mama mengeraskan suara setiap sholat itu supaya anak-anak di rumah terbiasa. Supaya tidak asing. Karena rasa suka (terhadap ibadah) itu muncul dari yang namanya terbiasa. Mama sengaja, supaya kalian mendengarnya, setiap hari. Lima kali sehari. Terpatri dalam ingatan."
Mamaku berusaha keras. Itu teorinya sendiri. Metodenya sendiri.
Tapi ia benar. Karena sampai hari ini pun, jauh berbeda pulau, aku masih bisa mendengarnya. Masih bisa membayangkannya.
Dan melaksanakan sholat.
Aku lagi gabut berkemas kamar kos sambil dengerin lagu-lagunya Muse, dan mendadak merasa bersyukur maksimal waktu SMP (era 2011) dulu secara random baca buku New Moon-nya Twilight Saga, lalu kecintaan mampus sama filmnya dan akhirnya mengulik soundtracks Twilight Saga dari film kesatu sampe keempat.
Merasa bersyukur juga Muse dengan ikhlas mau 'nyumbang lagu' buat film Vampire ini.
Harus diakui, meskipun banyak orang menganggap film ini aneh, tapi Twilight Saga punya segudang soundtracks yang berkualitas AAA+.
Jujur, ga banyak lagu Muse yang aku dengerin. Mungkin cuma yang terkenal-terkenal aja. Sepertinya, aku bahkan ga terlalu ngeh dengan keberadaan Hysteria, Unintended, etc. Aku baru benar-benar menyadari keberadaan Band Muse ya lewat si Twilight ini.
Dan menjadi Band yang lagunya selalu terputar di playlist sampai hari ini.
Tentu aja, lagu terfavorit sepanjang masa adalah si Neutron Star Collision. Lagu yang sebenernya punya judul yang aneh banget--tapi ngebuat gue segera menyadari, kayaknya Muse emang suka punya lagu yang lirik maupun judulnya agak ke sains-sains-nan.
Love is forever
And we'll die, we'll die together
And lie, I say never
'cause our love could be forever
Ada yang bilang, lagu ini tuh aneh banget. Kayak makanan berbahan keju yang dikasi keju lalu ditambah krim keju lagi. Alias bikin eneg.
Kalau diliat-liat secara sekilas, lagu ini emang kayak orang kebucinan di tingkat ga masuk logika sama pasangannya sih. Tapi, mereka yang pernah baca Twilight Saga, pasti tahu lagu ini relate bener sama Twilight dan Edward-nya sendiri. Yang emang rela aja mati bareng sama Bella.
Awalnya aku ngerasa ini lagu cuma sekedar seru. Tapi lama-lama, ada rasa sedih dan pedih, kayak.. apapun yang terjadi, mau perang dunia kek, mau kiamat kek, si cowok tetap akan milih pasangannya, selamanya, dan ga akan berpaling. Dan kalo mati, harus mati bareng. Auto keinget Edward aja HAHA.
Huhu aku baca lagi kali ya novelnya? Jadi nostalgia.
Selain si Neutron, satu lagi yang paling aku suka judulnya Unintended. Ini lagu tuh sedih yang sediiiiihhhhhhh banget.
I'll be there as soon as I can~~~
Bahkan dibanding Hysteria yang terkenal itu, aku lebih sering mutarin si Unintended ini
Sekian. Aku cuma mau nulis ini sebagai penghargaan dari diri sendiri ke Muse sih. Terimakasih Tuhan karena ada band semenakjubkan ini dan lebih menakjubkan lagi karena aku bisa ketemu sama lagu-lagunya yang luar biasa. Semoga suatu hari ada momen aku bisa nonton konsernya. Sebenarnya 2025 kemarin ada konsernya di Jakarta. Apadaya.. aku masih belum sanggup hiks. Next time, i promise.
Oiya, kalau dipikir-pikir, di blog ini aku cukup sering memasukkan lirik lagu sebagai bahan tulisan di blog. Mungkin aku bakal bikin tag khusus untuk lirik-lirik ini.
Waktu naik ke kelas 4 SD, secara beruntung aku masuk kelas Unggulan.
Aku harus bilang beruntung, karena waktu itu aku cuma berhasil di ranking empat, kalau tidak salah. Atau lima, entahlah. Dalam waktu singkat, lingkungan sekitarku berubah menjadi lingkungan anak cerdas, pintar, cekatan.
Itu tahun 2009.
Sebagai seseorang yang tidak pernah terlalu peduli dengan jenis hubungan apapun, aku dengan cepat memutus pertemanan yang telah kujalin dengan teman lamaku selama tiga tahun sebelumnya dan memilih teman-teman baru. Padahal aku dengan teman lamaku itu masih sekelas. Aku benar-benar berteman dengan anak terpintar menurut penilaianku. Anak-anak yang selama ini punya reputasi sangat bagus dan terbukti selalu ranking satu di kelas mereka sebelumnya.
Ada sebuah nasihat lama,
Jika kamu dekat dengan es, maka kamu akan merasa dingin,
Jika kamu dekat dengan api, maka kamu akan merasa panas,
Jika kamu berteman dengan penjual parfum, maka kamu akan kecipratan wanginya.
Anehnya, nasihat lama itu justru berlaku kepadaku dengan cara terbalik.
Apa yang terjadi di kelas empat itu, adalah momen aku seperti kehilangan ‘kontrol’ atas kehidupanku sendiri. Agak konyol memang, mengatakan hal seserius itu untuk mengomentari jalan hidup anak kelas empat SD.
Sederhananya, gue jadi anak pemalas minta ampun. Jenis kepemalasan yang sampai hari ini membuatku masih bertanya-tanya, kenapa ya? Aku benar-benar pemalas sampai menyusahkan banyak orang lain.
Seakan-akan, karena ada yang rajin, akulah yang memilih menjadi pemalasnya. Karena ada yang pintar, akulah yang memilih menjadi si bodohnya.
Misalnya, setiap pagi, benar-benar setiap pagi selama enam hari dalam seminggu, aku akan menelfon temanku untuk menanyakan satu hal; “ADA PR GA YA KAWAN?”
Kebetulan kelas empat SD itu kami masuk jam 1 siang.
Bayangkan kalau kalian jadi bestie gue hari itu?
Kayak, kenapa lo ga catet itu tugas saat guru lo ngasih tau? Sebenernya apa yang aku kerjakan selama di sekolah sampai harus nanya PR di pagi hari?
Enggak selesai sampai situ, biasanya daripada mengerjakan PR setelah nelfon, aku memilih MEMINJAM PR TEMANKU begitu sampai di sekolah.
Gatau kenapa temenku baik banget mau ngasih liat itu PR.
Aku juga masih ga habis pikir kenapa aku seg*bl*k itu dulu.
Hal itu terjadi untuk waktu yang cukup lama, ada kali setengah semester.
Sampai suatu hari…
Aku seperti biasa menelfon temanku yang seperti malaikat itu, kemudian, aku tidak sengaja mendengar ibunya mengomel sesuatu tentang, “itu siapa sih yang nelfon kamu terus tiap hari?!”
Hahahahaha.
Di situlah aku sadar aku sudah membuat kekacauan besar.
Sejak hari itu, aku berubah menjadi anak yang super rajin dan cerdas dan TIDAK PERNAH SEKALIPUN menelfon lagi teman-temanku buat nanyain PR.
Terus hari ini, kenapa aku tiba-tiba menulis cerita di atas?
Karena, benar-benar di waktu-waktu sekarang ini, aku merasa aku kembali menjalankan peran itu. Bayangkan, hampir tujuh belas tahun berlalu, dan aku merasa sosok itu pelan-pelan kembali mengambil alih.
Aku merasa kehilangan “sparks” atas fase kehidupan ini. Dan ada banyak sekali hal-hal yang kadang aku anggap sebagai kegagalan sehingga memberi tekanan-tekanan baru.
Aku mulai menyadari aku pelan-pelan kehilangan kontrol itu dari cara paling sederhana;
Aku suka sekali kerapian isi laptopku. Semua hal, biasanya, akan aku folderin menurut jenis file, jenis waktu, jenis kejadian. Intinya benar-benar ter-katalog-kan sesuai preferensiku dan aku bisa dengan mudah mengingatnya. Aku ingat betul bagaimana senior sekolahku dulu sampai heran melihatku dengan folder-folder itu.
Tapi sekarang? Banyak file di laptopku seberantakan itu dengan dibalut kata ‘nanti dirapihkan’, dan bulan-bulan berlalu tanpa pernah dirapikan.
Begitu juga file di Hape, yang dulu rajin aku bersihkan dan pindahkan maksimal sebulan sekali.
Alasannya, ‘nanti dulu’.
Hal lain? Banyak.
Aku, yang sangat senang videografi, tahun 2025 hampir tidak membuat video apapun kecuali trip kantor yang itupun atas request.
Fotografi? Nol besar. Dulu langitpun bisa tiap hari aku foto.
Gambar? Lagi-lagi request kantor doang.
Bulan-bulan ini, dengan semua hal berkaitan dengan audit, dengan kegiatan ulang tahun kantor, dan entah kegiatan apalagi, menumbuhkan perasaan-perasaan gelisah yang bikin tidak nyaman. Tapi ketidaknyamanan itu malah membuatku menunda; dan menimbulkan masalah baru.
Hari-hariku beberapa waktu ini, diisi dengan “astaga ini belum selesai, ini belum, itu belum.” Tentu saja aku menyelesaikannya diurut dari jobdesk utamaku dulu, dan efek sampingnya, hal-hal seperti design yang mereka minta tolong ke aku jadi tertunda, dan aku tau bahwa aku sebenarnya bisa menyelesaikannya lebih awal, lebih baik, tanpa harus didahului tatapan “Kapan selesai, Sheren?”
Hanya mentalku saja yang masih ingin dimanjakan.
Dan yang paling menggelisahkan adalah, pernikahanku tinggal menghitung bulan dan urusan ini itu terkait pernikahan sama sekali belum tersentuh karena ada begitu banyak hal terjadi dan kepala ini maunya minta healing terus sehingga pembicaraan mengurus pernikahan ini selalu tertunda. Jam menjadi hari. Hari menjadi minggu. Minggu menjadi bulan.
Aku akhirnya toh menulis ini karena lama-lama rasa gelisah dan khawatir ini memuncak, sehingga ada rasa ingin melepaskannya.
Hanya.. ini masih Januari.
Semoga sebelum Februari, aku kembali bisa menata kebiasanku seperti dulu. Karena toh hampir 17 tahun setelah kelas empat SD itu, hidupku bisa cukup tertata secara kebiasaan sehari-hari.
Semoga aku kembali menemukan sparks itu. Menemukan alasan-alasan mengapa aku sangat mencintai hari-hariku seperti sebelumnya. Mencintai pekerjaanku. Mencintai orang-orang yang tidak pernah lelah denganku. Kembali mengerjakan jobdesk tanpa merasa dikejar hantu, kembali melakukan hobi lama tanpa takut dinilai. Kembali menghargai hubunganku dengannya yang telah sangat serius itu.
Kembali mencintai diri sendiri.
Semoga 2026 ini menjadi tahun super berikutnya.



















