Ketika Childfree

By Sheren - Sunday, June 07, 2026

21 Maret 2023

Sejak beberapa tahun terakhir, istilah "Childfree" itu udah familiar banget di mata dan telinga netizen. Mau buka Instagram, Youtube, Facebook, Tiktok, apalagi Twitter nih, pasti paling enggak muncul deh satu konten tentang childfree. Apalagi beberapa bulan terakhir waktu 'panas-panasnya' kasus Gita Savitri. Pokoknya sejak hari itu, kalau udah ada artikel yang ngomongin tentang childfree, kagak sah rasanya kalo kagak ngungkit Gitasav. Serius. Ini sama kayak orang-orang yang sering ngungkit kasus Audrey kalo udah ngomongin tingkat kepercayaan dan empati masyarakat Indonesia. Nama-nama ini udah kayak jadi trademark untuk 'kasus' tertentu. Barusan aja nih aku nge-searching "Gitasav" yang keluar ya sederet berita tentang childfree.

Suka atau enggak, childfree ini jelas merupakan fenomena yang trennya terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini juga sebanding dengan tren pernikahan yang terus menurun 10 tahun terakhir menurut katadata.co.id

Pada awalnya, aku menganggap tren ini adalah dampak dari pola asuh orang tua dan ekonomi para 'penganut childfree' di masa lalu mereka. Ada beberapa opini yang kubaca dari para perempuan yang memilih childfree, bahwa mereka mengalami trauma dari pola asuh lingkungan sekitar terutama orang tua yang menurut mereka kasar dan menyakiti fisik maupun mental. Selain itu, keadaan ekonomi yang sulit di masa kecil juga membuat perempuan yang memilih childfree ini ragu untuk memiliki anak.

Intinya adalah mereka, kemungkinan, takut akan kegagalan menjadi orang tua yang ideal. Ada keinginan-keinginan masa kecil, seperti kasih sayang ataupun kebutuhan sekunder, tidak dapat dipenuhi oleh lingkungan penganut childfree ini sehingga mereka tidak ingin keturunan mereka merasakan hal yang sama di masa depan.

Tetapi kemudian, aku membaca salah satu artikel opini di Quora yang memberikan sudut pandang yang menurutku cukup 'fresh' untuk direnungkan secara baik-baik.

Tulisan beliau sebenarnya sangat panjang. Aku akan mencoba menyingkatnya agar tidak mengulang-ulang informasi. 

Semuanya dimulai dari patriarki yang mengakibatkan feminisme. Dulu, patriarki merupakan budaya yang sangat kuat di mana laki-laki adalah satu-satunya pemimpin dalam keluarga. Dengan adanya hal ini, otomatis banyak tanggung jawab yang jatuh ke pundak lelaki mulai dari menjaga keluarga, hingga mencari pekerjaan dan uang. Kepemimpinan ini berdampak pada kebebasan perempuan yang berada di bawah kendali lelaki--sehingga jelas perempuan memiliki ruang gerak yang terbatas untuk melakukan apapun.

Dari sinilah muncul perjuangan perempuan agar bisa sekolah, kerja, dan setara dalam banyak hal. Sayangnya, lambat laun hal ini menyebabkan timbulnya berbagai efek samping lain, seperti kartu domino. Misalnya, dengan adanya wanita yang bekerja dan dapat menghasilkan uang sendiri, banyak laki-laki yang kemudian memilih untuk mundur atau bahasa kasarnya mengabaikan kewajiban mereka untuk mencari uang dan menyerahkan beban tersebut kepada wanita.

Feminisme ekstrim ngebuat perempuan akhirnya enggak jadi sesuatu yang diinginkan oleh lelaki yang punya konsep maskulinitas tradisional. Sementara lelaki yang gagal punya maskulinitas, mereka malah jadi kayak perempuan. - Octa

Kesimpulan yang kudapat adalah, para perempuan di masa modern ini, terlanjur mengaktifkan 'survival mode' di mana mereka harus berjuang keras untuk bisa mendapatkan pekerjaan, mencari uang, dan bertahan hidup. Kenapa survival mode ini aktif? Karena pihak yang seharusnya memiliki sifat protecting dan provide, alias pria, itu tidak mampu untuk memberikannya.

Bisa dilihat dari banyak kasus nyata, para wanita yang biasanya menentang childfree adalah mereka yang memiliki pasangan dengan sifat protect and provide, alias pasangan yang mapan dengan wibawa alami untuk melindungi keluarga.

Ketika dalam suatu keluarga si wanita tampak lebih dominan pengaruhnya terhadap si pria, tidak mengherankan apabila ternyata mereka penganut keluarga childfree. Bagaimana mau punya anak? Mereka saja harus berjuang keras untuk menghidupi diri dan memanjakan diri sendiri, dengan uang sendiri--karena si pria ga mampu memberikan hal itu. 

Enggak menikah dan enggak punya anak itu jadi cara untuk bertahan hidup yang fair buat mereka; mereka enggak akan menyakiti lebih banyak orang lagi (termasuk anak-anak mereka yang enggak dilahirkan.) - Octa.

Dengan feminisme yang semakin naik dan maskulinitas yang turun, sudah jelas para pria berkualitas ini juga tidak banyak di pasaran. Akhrinya, supply tidak bisa memenuhi demand dan para wanita ini pun memilih enggak nikah aja sekalian. Atau ga usah punya anak aja. Capek beud.

Bisa dibilang, menurut si sumber, masalah yang harus diperbaiki ini sebenarnya adalah prianya. Sebelum para pria ini meminta ini dan itu alias anak ke para wanita, harus intropeksi dulu, kalian sebagai pria udah jadi sosok yang berkualitas belum?

Kamu lihat enggak banyak cowok generasi Gen Z yang pantes buat jadi provider dan protector untuk cewek Gen Z yang mau menikah dan punya anak? - Octa

***

Apakah aku setuju sepenuhnya dengan opini di atas? Jawabannya adalah tidak sepenuhnya. Tetapi jelas opini di atas tidak bisa diremehkan karena banyak kasus yang cukup relate--misalnya begitu maraknya LGB dan Transgender dewasa ini, juga pria-pria yang menganggur dan membiarkan pasangannya bekerja tanpa berbagi kewajiban.

Kalau ngomongin childfree ini, menurutku kita tidak bisa melihat satu faktor dan satu sudut pandang saja. Itulah mengapa aku secara terbuka menerima opini di atas--tanpa menutupi opiniku sendiri. Manusia itu makhluk yang kompleks. Ada pikiran dan perasaan yang membuat kita dapat membangun peradaban hingga hari ini. Mental setiap orang tentu berbeda-beda. Kebutuhan setiap orang juga berbeda. Ada mereka yang menjadi kuat mentalnya karena bayi yang mereka lahirkan, ada juga yang hancur mentalnya karena itu.

Namun yang bagian terpenting adalah, ketika kita sudah mengambil keputusan--entah itu memutuskan punya anak atau memutuskan childfree, hal yang harus kita lakukan adalah membicarakan dengan mereka yang terkait langsung dengan keputusan itu--pasangan dan orang tua. Sangat egois kalau keputusan tersebut diambil tanpa memperhatikan perasaan orang-orang yang terkait--karena manusia itu pada dasarnya adalah makhluk sosial yang saling memiliki. Ini jugalah yang mengingatkan kita pentingnya untuk mencari pasangan yang se-visi dan se-misi dengan kita.

Di sisi lain, keputusan yang kita ambil, menurutku, tidak seharusnya membuat kita jadi merendahkan dan menyakiti perasaan orang yang memiliki pandangan berbeda. Kasus Gitasav--jujur saja, adalah blunder yang seharusnya bisa dihindari. Bagaimanapun Gita membela diri, menurutku sudah jelas kalimatnya memang condong menyudutkan pihak lain. 

Singkat kata--karena ini tulisan lama yang tak sengaja aku tinggalkan 3 tahun (nulisnya 21-03-2023, publish hari ini adalah 7 Juni 2026), semoga apapun keputusan kita tentang masa depan, adalah yang terbaik untuk kita.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments