![]() |
| Aceh jam 7 malam. |
Aceh, 24 Juni 2026.
01.40 am.
amaze. amaze. amaze.
Subuh dini hari begini, aku baru saja menyelesaikan jobdesc-ku dari yang aku sebut 'tim dadakan Aceh'. Sebelum ngerjain jobdesc, sempet ngeliat sebentar Ronaldo memasukkan goooooooooooooool Piala Dunia. Intermezzo, sepertinya ini pertama kalinya aku melihat secara live (layar) saat Ronaldo mencetak gol.
Sudah beberapa hari ini, aku, untuk kesekian kalinya dalam 27 tahun hidupku, dibuat terhenyak dengan kebaikan Tuhan kepadaku. Sepertinya aku sudah pernah berkali-kali-kali menuliskan tentang betapa Tuhan selalu dan selalu mendengarkan doa-doa kita.
Meskipun aku bukan manusia yang baik--apalagi hamba yang taat, tapi aku tidak bisa menyangkal bahwa aku sering sekali jatuh cinta dengan Tuhan dan segala kebaikan-Nya. Aku belajar, bahwa Tuhan tidak selalu memberi rezeki dalam bentuk uang. Kadang sebuah pemahaman yang baik pun adalah rezeki paling luar biasa yang bisa kita terima.
Sudah kelewat banyak aku bercerita di blog ini tentang takdir baik yang kujalani hingga membawaku ke kantorku sekarang bekerja. Di kelilingi orang-orang baik, cerdas, sabar, dan orang-orang yang penuh empati.
Hari ini, aku ingin bercerita sedikit, mungkin hampir persis seperti yang pernah kutulis di tahun 2021. Tapi justru semakin membuktikkan keberadaan-Nya, kebaikan-Nya, dan kasih-Nya kepada hamba-hamba-Nya.
Hari itu hari Rabu. Aku sedang berdoa setelah sholat--untuk pertama kalinya dengan penuh kesadaran dan kesungguhan, bahwa mungkin budget pernikahan kami akan sangat mepet dan rasanya itu agak menakutkan (YaAllah maapkan hamba cerita di sini). Cukup. Tapi mungkin benar-benar menguras seluruh tabungan w yang w sisihkan dengan hati-hati selama tiga tahun bekerja. Kami berdua memang perintis. Cukup tidak cukup dana bantuan dari orangtua, harus cukup. Dana orangtua saat digabung sebenarnya cukup banyak dan bisa membuat pesta yang -standar negara indonesia-.
Tapi namanya juga manusia, melihat ini, loh kok bagus, melihat itu, loh lucu juga. Tidak bisa ditinggal. Akhirnya dituruti.
Dan ada banyak lainnya, yang ingin sekali kuturuti, tapi harus kutahan, berusaha sekuat tenaga agar sesuai dengan rab yang kami buat dan rombak berkali-kali itu.
Jadi, Rabu siang itu aku berdoa. Sederhana. Minta agar dicukupkan rezeki kami. Diluaskan. Meskipun saat berdoa, aku sungguh-sungguh tidak melihat titik peluang manapun. Jadi aku benar-benar hanya sepenuh hati memohon kepada YME agar apa yang ada ditabungan ini benar-benar cukup, tidak perlu lagi ada pengeluaran tidak terduga. Karena seperti yang kita semua tahu, bahan bakar naik, inflasi makin bikin sedih, ekonomi agak kurang stabil. Jadi agak panik dikit yekan.
Belum lagi tiket pesawat bolak balik berkali-kali,
Belum lagi nyari tempat tinggal bersama,
Belum lagi healing-healing kami,
Belum lagi skincare dan lulur pengantin yang wangi itu,
Emang mengeluh itu niqmat sekali. Intinya begitulah. Manusia keras kepala ini ingin hidupnya tetap stabil, nyaman, dan kenyang, sambil tetap melaksanakan pernikahan yang memuaskan.
Intinya, persis setelah Rabu itu berdoa, besoknya, aku merasakan langsung campur tangan Tuhan kembali dalam takdirku.
Tiba-tiba aku masuk dalam daftar orang yang harus pergi ke Aceh mengurus regionalisasi.
Hah?
HAH?
Aku? yang dari awal ga pernah masuk dalam tim regionalisasi yang super sibuk dan hanya diisi oleh orang-orang terpilih yang cerdas dan penuh dedikasi dan loyalitas tanpa batas itu?
Tiba-tiba disuruh ke Aceh? Menggantikan spv ku yang seharusnya pergi?
Panik. Bingung. Takut. Cemas (yaiyalah woi).
Setelah tenang sedikit, sebuah perasaan lain yang lebih ringan pelan-pelan menyusupi dadaku.
Rezeki.
Dari Tuhan.
Yang mendengar doaku.
Uang sakunya sebenarnya toh bukan yang gila-gilaan karena aku sendiri hanya staf krucil apa adaanya. Tapi jelas membantu. Untuk tiket pergi sekali ke Pontianak masih cukup.
Tuhan pasti sangat-sangat menyayangi orangtuaku sampai hidupku ditolong sedemikian banyak seperti ini. Entah kebaikan dan doa seperti apa yang dipanjatkan oleh orangtuaku sehingga takdir baik sering menghampiriku.
Aku banyak menyadari akhir-akhir ini, bahwa Tuhan mendekatkanku dengan orang-orang baik pada masanya. Untuk membantuku. Untuk menolongku. Orang baik yang berada di sekitarku juga merupakan rezeki dari Tuhan. Datang, dan pergi. Muncul, dan hilang. Semua ada masanya.
Dan hari ini, aku berharap, kelak aku bisa menjadi rezeki bagi orang lain. Membantu mereka. Memahami cara pandang mereka. Bersimpati dan berempati. Dan menjadi penolong.
Segini dulu soalnya kayaknya aku semakin melantur.
Semoga semua urusan di Aceh dilancarkan.


0 comments