Dulu sekitar 2021 atau 2022, aku sedang di pertengahan antara mau lulus dan nyari kerja, dan salah satu temanku yang udah kerja pernah cerita ke aku;
"Kantorku itu toxic banget. Saling berkubu. Ngejatuhin. Suka ngediemin. Ya aku sih berusaha profesional aja. Yang penting kerja. Pokoknya pergi ke kantor, kerja, pulang, gitu terus sampe dapat gaji. Ga peduli ada yang mau ngobrol sama aku atau engga. Pokoknya seperlunya aja. Kayaknya aku bentar lagi juga resign deh. Toxic banget."
Fyi, dia belum resign sih sampe 2026 ini.
Aku ingat banget waktu dia cerita gitu. Karena kami lagi kumpul-kumpul dan bakar-bakaran gitu.
Seperti yang kubilang, waktu itu aku belum kerja. Dan kami lagi sharing banyak tentang 'menghadapi dunia kerja'. Saat dia bercerita seperti itu, aku jadi banyak mikir. Kok bisa ya, ada orang senegatif itu? Mendiamkan teman gue. Menganggapnya 'ga ada'. Dan aku setuju sama pilihan prinsip temanku, untuk cukup profesional saja, datang, kerja, pulang, terima gaji.
Dia bilang, bodoh kalau kita menganggap rekan kerja itu teman.
Dulu aku juga setuju. Menurutku dulu, rekan kerja ya isinya cuma mengejar kerjaan dan jabatan. Teman tidak dibentuk dari sekumpulan manusia yang ambisius dengan uang. Tapi, tetap cukup mengherankan dan menimbulkan banyak pertanyaan, kenapa bisa muncul sebuah cerita di mana orang-orang sekantor bersikap toxic, tidak menyenangkan, dan saling menjatuhkan?
Apa yang salah dengan 'mereka' sampai mendiskreditkan temanku ini?
Kemudian aku masuk kerja, lalu resign karena perusahaannya sendiri udah mau collapse. Pindah ke Jakarta untuk bekerja sama keluarga sendiri, resign lagi. Lalu kerja di tempat yang sekarang ini. Jadi mungkin total tahun kerjaku sekitar empat tahun.
Dan selama itu pula, seringkali cerita temanku itu terngiang di kepalaku. Tentang, sebenarnya siapa tokoh antagonis dan protagonis dari cerita tersebut? Karena aku menyadari, sesuatu tidak terjadi tanpa ada sebab.
Sebab-akibat itu hukum pasti. Kausalitas.
Ada hal-hal yang kadang terjadi... bukan hanya karena ketidakcocokan. Tapi memang karena kesalahan. Aku merasa.. aku mungkin pernah di posisi korban di mana seseorang atau banyak orang tidak nyaman dan canggung dengan keberadaanku di ruang yang sama. Dan aku juga pernah menjadi seorang pelaku yang tidak nyaman dan menghindari seseorang yang tidak kusenangi.
Saat sedang menulis ini, sebagian dari diriku bahkan sedang membela diri sendiri.
Tapi hal-hal seperti ini memang sangat rumit dan sulit untuk bersikap objektif. Karena manusia memiliki satu yang tidak dimiliki komputer; rasa dan naluri. Kita memiliki banyak perasaan yang menjadikan kita menilai orang lain dengan subjektif. Dan naluri manusia itu kadang-kadang kuat sekali. Insting, dan naluri, untuk bertahan hidup dengan cara paling aman dan nyaman. Sepertinya, insting purba itulah yang membawa kita pada cara-cara kita memperlakukan orang lain.
Aku sekarang malu sekali karena pernah membanggakan kata-kata ini di postingan lamaku;
"Tentang menghargai. Membuka lebar pandangan terhadap orang lain, bahwa kata-kata dan habit orang lain yang tidak sesuai dengan kita, bukan menjadi tolak ukur untuk menilai orang tersebut. Bahwa setiap manusia memiliki nilai yang berharga, jika bukan untuk kita, setidaknya untuk diri mereka sendiri, dan pada titik itulah kita harus menghargai mereka. "
Nyatanya, kalimat di atas hanya omong-kosong yang sulit diterapkan. Bukannya aku tidak berusaha, tapi memang nyatanya sulit sekali bersikap baik dan biasa saja--dalam artian menghargai, orang-orang yang.. tidak pernah bisa bersikap semestinya. Perlu energi ekstra. Perlu terus-menerus membawa pikiran positif. Perlu banyak menghela nafas. Dan itu melelahkan.
Tapi toh di samping itu, aku juga seseorang dengan sedikit teman. Sehingga, seringkali--walaupun aku yakin kepedulian antar sesama kami tidak putus--aku merasa cukup sepi dan tertinggal. Tapi aku memang bukan orang yang menyenangkan. Aku mungkin orang yang agak sinis, dan pemarah, dan terutama pendiam. Bukan hal-hal yang menguntungkan dalam pergaulan sosial.
Jadi, seperti yang kukatakan di atas banget. Kasualitas. Sebab akibat.
Wajar jika orang-orang lebih gampang mengabaikan dan melewatiku. Karena akupun tampaknya bersikap demikian.
Hanya saja, ada momen-momen (dan aku benci dengan diriku sendiri karena bersikap begini) di mana aku merasa benar-benar terbuang dari sebuah pergaulan. Kadang perasaan-perasaan toxic itu datang begitu saja tanpa bisa aku cegah. Ada perasaan kayak 'lo sebenarnya maunya gimana Sher?'. Karena dengan semua hal negatif yang aku punya, harusnya aku beruntung karena merasa masih bersikap normal.
Hari ini , aku nulis semua kalimat toksikku di buku................................
***
Btw, tulisan ini aku tulis beberapa waktu lalu (mungkin seminggu lebih?). Lalu aku tertidur pada kalimat "hari ini, aku nulis semua kalimat toksikku di buku..." dan sekarang, aku lupa dengan apa yang seharusnya aku tulis di blog ini.
Tapi weh, ini beberapa bulan terakhir tulisanku isinya tentang manusia dan hubungannya semua ya? Heran banget w. Keknya mesti healing dah. Kebanyakan terpapar aura negatif.
Btw, tulisan ini aku tulis beberapa waktu lalu (mungkin seminggu lebih?). Lalu aku tertidur pada kalimat "hari ini, aku nulis semua kalimat toksikku di buku..." dan sekarang, aku lupa dengan apa yang seharusnya aku tulis di blog ini.
Tapi weh, ini beberapa bulan terakhir tulisanku isinya tentang manusia dan hubungannya semua ya? Heran banget w. Keknya mesti healing dah. Kebanyakan terpapar aura negatif.
