![]() |
| sumber : kompas.com |
Jakarta, 12 Juni 2026
5.00 PM.
Saat aku menulis ini, aku bahkan sedang duduk di kantor yang seleksi masuknya diselenggarakan oleh negara. Sudah jam pulang, tapi aku memutuskan untuk menulis sedikit.
....
Sejak kecil, aku adalah salah satu orang yang dalam hidupnya banyak sekali ditolong oleh pemerintah.
Dari aku kecil, dengan semua ingatan yang tersisa, banyak hal dalam hidupku yang lebih mudah karena ada pemerintah. Contoh paling gampangnya ASKES. Kebetulan waktu kecil aku langganan banget sakit. Pilek lah. Demamlah. Gigi lah. Typus lah. DBD lah.
Saat dewasa pun, ada saja sakit yang menghampiri. Terakhir ada sinus. Waktu itu askes sudah berubah menjadi BPJS. And you know what? Saking parahnya, aku diharuskan operasi.
BPJS kembali menyederhanakan masalah itu.
Dan itu tidak hanya aku. Tapi kedua orangtuaku. Saudara-saudaraku. Semuanya, menjadi tanggungan BPJS. Aku dengan kerelaan hati membayar Rp 150.000 dulu (karena sudah umur dewasa jadi bayar mandiri) karena aku tahu, manfaat yang kudapat jauh lebih besar daripada yang kubayar.
Begitupun dengan sekolah. Sejak SD aku sudah sekolah di SD Negeri. Kebetulan masa itu SD Negeri jelas bagus sekali kualitasnya (semoga masih bagus hingga hari ini). Aku hampir tidak membayar SPP selama sekolah karena pemerintah menggratiskan sekolah negeri, seingatku maksimal aku hanya bayar sekitar Rp 10.000 . Bahkan di zaman itu, termasuk kecil. Sebagai perbandingan, SPP TK ku sekitar Rp 40.000.
SMP aku memang bayar SPP karena masuk kelas Bina Prestasi (program 'swasta' dari kelas itu semacam RSBI). Lalu SMA, kembali gratistististis, ditanggung oleh pemerintah Provinsi. Masuk sekolah sehebat SMA Negeri 1 Pontianak dan tidak membayar, adalah sebuah privilage besar.
Masuk kuliah? Aku pun masih mendapat uluran tangan pemerintah. Temenku, Alya F, mendorongku untuk ikut seleksi Beasiswa Unggulan. Sebuah beasiswa yang sampai hari ini aku anggap sebagai ajang kemurahan hati pemerintah. Syaratnya menyenangkan. Tidak perlu miskin. Tidak perlu pintar maksimal. Cocok untuk orang serba pas-pasan sepertiku yang ingin mencapai cita-cita dan mau aktif di perkuliahan--tipe orang yang, mau bayar kuliah bisa diusahakan, tapi akan sangat membantu jika ada beasiswa.
Akhirnya dengan kepercayaan diri secukupnya, aku mendaftar. Dan alhamdulillah lolos. Kuliah gue sejak semester dua until lulus, gratis segratis gratisnyanya even dapat uang buku dan uang jajan. Dari situ aku bahkan bisa bayarin kuliah adekku.
Lalu aku lulus dengan menyenangkan.
Masuk masa depresi jobseeker. Dan kalian pasti tahu endingnya;
Yap. Lagi-lagi pemerintah menolong kami. Awalnya, seminar-seminar Prakerja. Lalu Rekrutmen Bersama BUMN. Gila. Ribuan pendaftar. Ratusan--mungkin ribuan, lowongan kerja.
Aku tidak pernah merasa sebersyukur itu. Aku mendaftar RBB 3x. Pendaftaran pertama memang lagi kerja sih, milih perusahaan seadanya, tes seadanya. Ga lolos. Daftar lagi, kebetulan juga masih kerja di tempat lain. Aku bahkan ga inget milih perusahaan apa, tes seadanya di cafe yang (sialnya) rame. Ga lolos.
Tes ketiga. Kali ini aku benar-benar menyeleksi setiap perusahaan tujuan. Ngeliat satu persatu profilnya di internet. Ngeliat persyaratan kualifikasinya. Belajar bener-bener. Mantengin video youtube pelatihan bahasa inggris berjam-jam. Latihan matematika yang kubenci. Latihan wawancara berkali-kali-kali-kali sama pacarku.
Lolos.
Oh God must love my parents very much.
Untuk kesekian kalinya,
Aku ditolong oleh negara, agar masa depanku baik-baik saja.
Lalu aku masuk kerja, dan sangat kebetulan sekali, aku kerja di bagian yang ikut melakukan penyaluran dalam bansos. Aku bahkan pernah terjun langsung ke lapangan untuk membagikan bantuan. Dan sekali lagi, aku melihat, orang-orang yang tersenyum lebar ketika menerima beras. Yang rela hujan-hujanan datang demi 10kg beras. Dengan jas hujan plastik yang mudah robek. Dengan selembar fotokopi kartu keluarga. Dengan mata basah dan kosong saat melihat loket pengambilan beras sudah tutup; karena begitu berharap bisa masak beras hari ini tapi terlambat datang.
Jadi,
ketika orang-orang meremehkan program pemerintah, terutama yang telah kurasakan manfaatnya, aku ngebatin;
"Mereka hanya tidak berada di posisi itu saja. Di posisi tertolong. Mereka belum melihat yang dilihat oleh pemerintah."
Mereka protes dengan kebijakan BPJS yang mahal iurannya, padahal, ribuan--jutaan masyarakat tertolong karena itu. Protes karena pelayanan birokrasi yang panjang akibat BPJS--padahal, sabar sedikit saja. Sedikit saja, maka manfaatnya benar-benar semenyenangkan itu.
Mereka protes, bilang seleksi RBB dan seleksi-seleksi nasional pemerintah lainnya tidak berguna, hanya buang uang, hanya untuk orang dalam. Padahal aku adalah saksi mata yang lolos dengan murni. Semurni-murninya. Mereka hanya tidak lolos meskipun merasa layak, dan marah.
Aku adalah orang yang yakin, aku akan membela negara dengan sebesar rasa yang bisa kuberikan, karena aku telah banyak ditolong oleh program-program pemerintah--yang menurutku--tepat sasaran.
Banyak momen, ketika orang berkoar-koar, aku memilih diam. Karena aku merasa berutang budi.
Banyak kejadian saat pemerintah membuat kecewa masyarakat, aku diam. Karena...aku berutang budi.
Banyak saat semua orang protes di internet, aku hanya membacanya dan diam, merepost pun tidak.
Karena, aku adalah orang yang paling banyak ditolong negara.
TAPI HARI INI SAYA AKAN LAWAN.
Tapi guys, lagi dan lagi dan lagi,
Di antara semua kebaikan negara dan ketepatan program yang pernah aku dapatkan,
Aku melihat,
Korupsi,
Pembabatan hutan,
Pengerusakan alam,
Ketidakadilan hukum untuk orang-orang yang benar,
Sekali lagi, ketidakadilan hukum untuk orang-orang yang benar,
Korupsi lagi,
Pembakaran hutan Kalimantan yang kucintai,
Orang-orang yang tidak kompeten di bidangnya,
Program yang sangat boros yang memakan kas negara,
Hingga Rupiah kami semakin semakin turun nilai tukarnya,
Hingga IHSG yang ga begitu kumengertipun terus-terusan menjadi berita,
Lalu korupsi lagi,
Lalu minyak naik,
dan naik,
dan naik.
Lalu kebijakan ini, dan kebijakan itu.
Aku melihat negaraku sendiri, yang sudah banyak menolongku, terlihat sakit. Terlihat salah.
Seperti yang aku tulis di Threads;
Tadinya aku merasa cukup jadi pembaca tentang kondisi hukum dan ekonomi yang lagi terjadi beberapa waktu terakhir. Tapi sepertinya makin ke sini, kayaknya harus disuarakan.
Negara kita tidak sedang baik-baik saja.
Kita semua tahu itu. Dan itulah yang hari ini sedang berusaha disuarakan banyak orang. Hari ini, mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI) sedang turun, berunjuk rasa ke jalanan.
| sumber : kompas.com |
Ada banyak sekali yang salah dari kebijakan pemerintah akhir-akhir ini. Mungkin kebijakannya baik, tapi... tidak semua hal baik selalu bisa berjalan efektif. Dan sayangnya, itulah yang terjadi sekarang. Dan aku merasa, sebanyak apapun aku telah berutang budi kepada negara, kritik tetaplah kritik. Aku tidak boleh menutup mata hanya karena hidupku lebih mudah dari yang lain. Aku tetap bangga dengan BPJS, dengan kehebatan akses kesehatan di Indonesia, dengan berbagai subsidi yang luar biasa, dengan beasiswa, dan banyak hal lain. Tapi ketika pemerintah salah, maka tetap salah. Dan kita sebagai masyarakat, yang bekerja untuk hidup dan untuk negara, yang bayar pajak untuk negara, berhak untuk protes.
Berhak untuk marah. Kecewa. Menyuarakan aspirasinya. Mengkritik. Mengawasi.
Karena kalau bukan kita yang peduli, maka siapa lagi yang mau peduli? Siapa lagi yang mau mulai? Satu atau dua orang tidak cukup untuk mengawasi pemerintah. Sepuluh orang pun tidak cukup. Seratus orang pun belum cukup. Butuh sangat banyak sekali suara, mungkin lebih dari yang kita kira. Jangan sampai redup. Kita harus terlihat cukup banyak agar terlihat, agar terang benderang.
Aku lihat demo hari ini masih dihadang oleh aparat. Padahal hanya penyampaian aspirasi.
Sekali lagi--aku adalah orang yang yakin, aku akan membela negara dengan sebesar rasa yang bisa kuberikan, karena aku telah banyak ditolong oleh program-program pemerintah--yang menurutku--tepat sasaran. Dan aku akan melakukannya juga hari ini, dan lagi di masa depan.
Karena membela negara tidak berarti melawan pihak asing. Membela negara tidak berarti diam saat orang-orang menyalahi pemerintah.
Kadang di saat seperti ini pun, saat negara sedang berada di jalur yang mulai salah, bersuara adalah cara kita membela negara. Mengingatkan Negara. Menjelaskan apa yang salah.
Meskipun aku mulai dengan hal-hal yang kecil, seperti ngerepost postingan, membuat story, memberi komentar, aku harap aku bisa berkontribusi sedikit--tidak sebanyak negara yang menolongku. Tapi semoga cukup.
Hari ini aku juga memutuskan menulis sepanjang ini, karena aku juga kesal sekali melihat kondisi negaraku akhir-akhir ini. Semakin sering satu pertanyaan muncul di kepalaku;
"Kok begini ya?"
Aku masih dengan pendapatku, bahwa kadang-kadang masyarakat terlalu keras mengkritik sesuatu, karena mereka hanya tidak di posisi itu. Di posisi tertolong. Mereka belum melihat yang dilihat oleh pemerintah.
Tapi, kupikir, kadang-kadang... tampaknya pemerintah juga tidak pernah berada di posisi kami. Negara belum melihat yang telah dilihat oleh masyarakat;
Kerusakan.
Aku sangat mengapresiasi teman-teman yang rela turun ke jalan demi negara kita yang lebih baik. Semoga ada perubahan. Semoga berjalan lancar.
Semoga negara kita lekas sembuh.


0 comments