Jalan Panjang Kita Semoga Menyenangkan

By Sheren - Wednesday, September 30, 2026

Ini tulisan yang agak..eksplisit.

Dan tulisan paling pribadi. Disclaimer aja. Takutnya menimbulkan mual-mual tertentu.

Judul postingan ini diambil dari salah satu
lirik lagu Nadin Amizah : Berpayung Tuhan. 
Prewedding kami juga pakai lagu itu.

Aku mau cerita, sedikit, tentang pernikahan dan pra-pernikahan aku dan suami. 

Sebelum menikah di 2026, sebelum menyentuh delapan tahun hubungan pacaran, sebenarnya, kami sempat melalui fase paling kritis. 

Itu terjadi sekitar tahun 2025.

Ada hal-hal.. mungkin masalah lama, masalah baru, dan lingkungan baru yang kami hadapi hingga membuat kami.. lelah satu sama lain. Aku capek sama dia. Dan dia capek sama aku. Ada fase di mana aku benar-benar tidak ingin menghubungi dia sama sekali, dan dia pun pada akhirnya berhenti bertanya duluan. Jelek banget hubungannya.

Lalu aku 'kabur' ke Bandung dengan salah satu teman lama, karena muak dengan semua hal. Muak dengan kerjaan, muak dengan hubungan, muak dengan diri sendiri. Hampir sepenuhnya menghilang dari dia kecuali satu atau dua chat dalam sehari. Pergi ke Bandung was actually a good choice, bercerita ke temen yang sudah menjadi saksi hubungan bikin aku dapet banyak second-opinion(s).

Lagian, ga lama setelah short escape ke Bandung itu, dia meledak. Kami berantem hebat. Dia pointed out something yang memang benar banget;

Lu ngilang, Sher. Secara fisik mungkin engga--meskipun jam tayangnya menyusut. Tapi secara emosional? Nihil.

Sepertinya kami sama-sama bertanya, sebenarnya untuk apa kami masih ada di hubungan seperti ini? Jelek banget. Worst relationship ever. Tapi dicari ke akarnya pun, sebenarnya tidak pernah ada hal fatal untuk merusak hubungan kami. Aku? Males. Dia? Males. Tapi tidak ada pengkhianatan. Tidak ada apapun. Cuma dua manusia bingung.

Berantem itu sedikit banyak bikin aku sadar, kalau dia tidak menyayangiku dengan rasa yang besar, mungkin sudah lama dia benar-benar pergi. Bcs I'm not an easy person.

Hal yang sama berlaku untukku. Kalau aku tidak benar-benar menyayanginya, mungkin sudah lama aku benar-benar pergi. Bcs he's not an easy person.

Mungkin jika dua-duanya menyerah, kami sudah jadi asing hari ini.

Tapi toh, di September 2025, dia memberitahu orangtuanya kami akan menikah di 2026. Dan aku melakukan yang sama. Manusia memang aneh. Aku sendiri bilang ke temenku, "Jangan heran kalau suatu hari kami menikah."

Bonusnya, control-emotional kami jauh lebih gampang setelah ledakan Krakatau pertengahan 2025 itu, jadi ujian persiapan menikah kami tidak terlalu keras dari sisi ego.

Kemudian,

Nah,

Ini,

Suprisingly, aku masih bisa menemukan hal baru darinya setelah menikah. Padahal kami sering sekali bertemu. Dari pagi sampai siang, atau dari siang sampai sore, atau dari sore sampai malam, atau dari pagi sampai malam. Bisa seminggu sekali. Bisa setiap hari. 

Gue udah siap hidup tanpa romantisme berlebihan darinya.

Kemudian minggu pernikahan dimulai. Kemudian dua minggu. Kemudian sebulan lebih berlalu. Aku dengan sifatku yang seperti biasa. Suka ngomel. Suka mood-moodan. Suka-sukanya. 

Dan dia?

Ini kejutannya,

PRIA INI MENDADAK MENUNJUKKAN SISI YANG GAPERNAH AKU LIHAT SEBELUMNYA. GUE MERASA KAYAK : CONGRATULATIONS SHEREN! YOU'VE UNLOCKED A NEW LEVEL. Dia sendiri dari awal termasuk kategori pria yang membawa semua bare minimum yang kubutuhkan. Ga kasar. Lembut. Ga maki-maki. Ga merokok jenis apapun. Ya pokoknya santuy aja santuy. Aman. Tentram. Minus emang di bagian kalimat indah puitis romantis dan ga pernah kasih bunga aja.

Tapi secara mengejutkan, setelah menikah, dia menghadapi aku dengan jauh lebih sabar dan jauh lebih lembut daripada 8 tahun kami selama ini. Demi Tuhan aku belum pernah ngeliat kelembutan level baru seperti itu. 

Aku kesal? Dia memutuskan menurunkan nada suara--bujuk.

Aku diem? Disamperin. nanya, "Kamu kenapa?" mastiin matanya bertatapan sama mataku, meluk. Kami bahkan pernah menunda 15 menit ke kantor buat mastiin--Sheren are you okay now? 

MAKSUD GUE, INI PERTAMA KALI GUE DIGITUIN 😭🙏🙏.  Makin nangis 😭😭. Bukannya dia pria acuh cuek dan menyebalkan? Kok tiba-tiba seakan senyumku lebih penting dari dunia dan seisinya? 😭🙏🙏

Beberapa mungkin bakal mikir, ITU BARE MINIMUM LAIN GA SIH?!

Iya, itu justru bare minimum--yang baru aku temukan. Selama delapan tahun ini ternyata kami memiliki sedikit sekali ruang privasi. Kami bertemu di tempat publik. Di rumah orangtua. Di mana saja. Tapi tidak pernah benar-benar hanya berdua. Jadi kalo berantem kebanyakan by whatsapp, dan ternyata itu bukan cara berargumen yang baik. Aku ga bisa nangis di ruang tamu sambil adikku nyamperin terus nanya "Mobile Legend Bang Surya udah Mythic?" kan? Berantem di motor juga susah banget soalnya berisik.

Jarak dan keterbatasan membuat kami banyak salah paham. Lebih banyak silent treatment.

Sulit menjelaskan bagaimana orang yang terbiasa berbicara cukup lembut, ternyata bisa jadi lebih lembut lagi setelah menjadi suami. Lebih concern. Makan malam pun bisa berhenti buat dia berdiri dan meluk aku.

AHAHAHAHAHAHAH.

Iya. Kami masih banyak selisih paham. Tapi tiga menit kemudian dia mendadak jadi husband material.

Kadang juga, malem-malem di tengah tidur, sebuah lengan mendadak datang dan narik aku ke pelukan. Tanpa tendesi apapun, karena setelah itu dengkuran tipisnya kembali terdengar. 

JADI INI YA KENAPA TENTARA BENTARA BUTUH GULING SELAMA DI INDONESIA DULU?

Doi bisa menarikku mendadak ke dalam pelukan ya karena ingin memeluk aja. Sesederhana itu.

Padahal dia orang yang cenderung risih dengan tempel menempel sebelumnya.

Jadi setiap aku ngomel, atau kesal, atau nangis, karena toh dia memang menyebalkan, dia memutuskan memakai skill baru yaitu menghadapi aku dengan kesabaran bertalenta dan banyak menghibur.


Disclaimer, sejak kecil aku tumbuh dengan rasa cinta yang sangat praktis. Cinta itu, di antar jemput sekolah. Cinta itu, air panas selalu tersedia di termos untuk mandi. Cinta itu, sarapan sebelum sekolah selalu ada, makan siang ada, makan sore ada. Cinta itu, pendidikan terbaik. Cinta itu, tempat tidur sudah rapi dan bersih. Cinta itu, ngobrol di jam makan malam sambil menertawakan hari. Cinta itu, dapat handphone baru, laptop baru, kuota, jajan, asisten rumah tangga, kebebasan berkelana tanpa terus ditanya.

Jadi harus kuakui, hal yang kudapat ini bentuk cinta baru. 

Kami sudah delapan tahun bersama sebelum menikah. Jadi kupikir, menulis ini tidak berlebihan. Mungkin beberapa orang akan berkata "Namanya juga baru sebulan menikah."

Tapi aku harus berkali-kali bilang, delapan tahun itu berarti 365 x 8. Hampir 3000 hari. Aku bisa bilang, aku tumbuh dewasa bersama pria ini. Dari masih belasan tahun sampai hampir tiga puluh tahun. Hampir sepertiga dari total tahun hidupku dihabiskan bareng dia. Tidak berlebihan kalau aku bilang, seharusnya aku sangat mengenal pria ini.

Delapan tahun--dan dia masih bisa melakukan hal baru untuk membuatku jatuh cinta lagi. Dan lagi. Dan semoga selalu.


  • Share:

You Might Also Like

0 comments