Di kurang lebih seminggu pertama setelah menikah, aku memikirkan sesuatu,
Bahwa betapa tololnya para pelaku pelecehan, pemerkosa, dan kekerasan seksual itu. Bahkan menyamakan mereka dengan binatang pun rasanya aku gak sudi. Mereka sangat-sangat menjijikkan. Tidak punya otak dan moral. Sampai aku heran kenapa mereka masih dibiarkan hidup?
Kenapa mereka harus dimaafkan? Kenapa merasa masih mendapat tempat di masyarakat?
Hubungan seksual itu, khususnya untuk pertama kali, bahkan jika dilakukan dengan perasaan sayang dan kasih yang sangat besar, tetap bisa sangat-sangat-sangat sakit dan tidak nyaman. Entah sial atau beruntung--karena aku baru mengerti ini di umur 27 tahun setelah menikah.
Aku merasa gila membayangkan ada seorang perempuan yang harus mendapatkan perlakuan seksual tanpa persetujuannya sendiri. Tanpa rasa cinta. Tanpa keinginan. Dengan membawa seluruh rasa takut dan kengerian. Gak terbayang sakitnya. Gak terbayang traumatisnya. Cuma mikirinnya aja aku merasa mual. Aku yang mendapat seluruh kasih sayang dari suami dan juga memberikan seluruh kasih sayang itu saja, tidak pernah ingin mengalami 'sakit yang sama' untuk kedua kalinya.
Merinding.
Pemerkosaan benar-benar bentuk kebiadaban yang seharusnya tidak diberi toleransi sama sekali.
Dan aku ingin meminta maaf untuk semua korban perlakukan itu. Semua wanita yang pernah mengalami hal pahit ini. Dari dulu aku selalu merasa sedih mendengar hal-hal semacam ini. Tapi rupanya selama ini aku hanya menganggap itu sampai batas perbuatan tercela.
Aku tidak pernah benar-benar mengerti rasa sakit nyata itu sebelumnya. Karena, ya, rasa sakit itu ternyata benar-benar bisa hadir secara fisik. Nyata. Bukan sekedar opini. Sama sekali bukan berlebihan. Itu fakta yang seorang pria tidak akan pernah bisa memahaminya sampai mereka mati.
Aku meminta maaf, untuk kalian yang pernah melewati rasa sakit itu. Bahkan meminta maaf pun aku merasa malu. Karena tampaknya tidak pernah ada hal yang benar-benar bisa menyembuhkan traumatis itu. Tidak pernah ada hal yang benar-benar bisa aku lakukan kecuali meminta maaf atas duka yang mengerikan itu.
Semoga kalian baik-baik saja.
***
Tadinya, butuh waktu untukku berpikir apakah akan menulis ini atau tidak. Tapi toh, aku sudah tumbuh dewasa. Jadi kenapa blog ini harus ditulis dengan mental manusia berumur 15 tahun?

