Aku Ingin Jadi Seperti Itu Part 1000

By Sheren - Sunday, September 06, 2026

Waktu menunjukkan pukul 21.46

Masih dengan mengenakan jam tangan biru pemberian doi enam tahun lalu, serta headphone bluetooth Sony di kepala, aku sedang mengaduk-aduk mengambil sisa bumbu ungkep lengkuas ayam di pojokan tempat tinggal baru kami. Ruangan yang sebenarnya agak terlalu kecil untuk dua manusia dengan pendapatan tahunan di atas UMR Jekardah. Tapi harga sewa berteduh memang selalu gila-gilaan di sini.

Kepalaku mengangguk-angguk mengikuti beat lagunya Hindia. Berpikir banyak--atau sebenarnya sedang merasa keren banget. Masak buat persiapan besok subuh--dengan jam tangan yang bahkan masih terpasang. Setelah ini juga ada jadwal menyetrika. Kurang independence apa lagi gue?



Sudah dua minggu aku melakukan rutinitas perumahtanggaan yang sebenarnya masih terlalu awal untuk disombongkan. Tapi, sebagai manusia yang sejak kecil juga selalu dilayani di tengah keterbatasan--aku rasa masih boleh aku agak berbangga hati. Misalnya, aku hampir ga pernah menyapu, mengepel, apalagi memasak sebelum merantau. Ada orang untuk pekerjaan itu--dan aku ga berencana repot-repot menggantikannya. Di rumah juga keseringan Papaku yang masak. Hobiku kebanyakan baking--bukan memasak masakan Indonesia yang rumit. Selama merantau juga hampir ga pernah masak, kebanyakan catering. 

Tapi memang aku sudah bertekad untuk mulai memasak saat menikah--mengingat suami tumbuh dengan masakan rumahan Ibu dan kakaknya dan tante-tantenya--intinya keluarga suami masakannya enak bener.

Oke terlalu banyak opening. Sebenarnya, sekarang aku sedang ingin menuliskan kekerenan seseorang. Yap, sudah beberapa kali aku menulis tentang kebaikan seseorang di blog ini. Tapi kali ini aku mau menulis tentang seseorang yang memang pada dasarnya keren. Salah satu yang sekarang jadi patokan aku juga untuk bertahan menjadi manusia yang berguna. 


SPV Akuntansiku sendiri. 


Pas lagi mengaduk-aduk panci itu, sambil tetap merasa keren, aku tiba-tiba keingat tentang orang yang sudah menjadi spv gue sejak dua tahun terakhir. Perempuan. Menikah. Dua anak. Satu suami. Tetap cantik. Tetap awet muda. Tetap bisa masak enak (aku pernah dimasakin). Tetap bisa bawa bekal. Tetap pumping. Tetap pulang kantor sesuai jadwal. Tetap cerdas. Even kerjaannya yang seabrek lebih cepat selesai daripada aku.


Maksud gue ya, GIMANA CARANYA?

Dia sedikit banyak mengingatkanku dengan mamaku sendiri, mungkin dengan versi lebih mapan dan agak lebih cekatan--apalagi di umurnya sekarang. 

Dari dulu banget, khususnya setelah kerja, aku berkali-kali bertanya-tanya sendiri kalau sedang melihat para ibu yang menjadi wanita karir itu, bagaimana caranya membagi 24 jam menjadi istri, ibu, dan pekerja? Makanya, ngeliat Mamaku sendiri, aku selalu 'wow keren banget' . Lalu ngeliat spv aku? Apalagi! "MAKHLUK DARI MANA INI?!" 

Masih ga ngerti sampai hari ini. Masak, ngurus keluarga, dan tetap cerdas? Itu triple ultra combo berkat Tuhan YME yang masih belum bisa aku capai sampai hari ini.

PR ku untuk meniru orang-orang ini banyak sekali. Meniru kebaikan. Meniru kekerenan. Entah sampai kapan. Mungkin selamanya.

Makanya, menikah ini, aku sudah bertekad banget. Minimal bisa ngasih makan anak mertua (gue tetap catering awkwowkakwkwkwk). Dua minggu ini juga pulang-pulang hampir ga sempat nyentuh laptop lagi. Isinya berkemas. Berkemas. Berkemas. Kami sudah membagi tugas. Aku ga masalah mesti berkemas, menyetrika, memasak, dll--selama kegiatan cuci mencuci diambil alih oleh doi--karena aku orangnya agak jijikan. 

Aku jamin, mamaku pasti bangga banget sama anak perempuan satu-satunya ini karena akhirnya mau memasak dan beberes rumah hohoho.


Sekian. Tadinya mau nulis tentang Hari H nikaham dan resepsiii gueee. Tapi mendadak menulis ini terasa lebih menarik. 

  • Share:

You Might Also Like

0 comments