Lalu kemarin aku ternyata haid.
Barulah aku teringat, perasaan ingin pulang kampung memang jadi gejala tetap kalau aku akan haid.
Sayangnya kali ini, aku haid di tengah puncak kesibukan kantor. Ada deadline closing bulanan, dan ada lonjakan tolakan dokumen pekerjaan dari yang maha auditor--yang tampaknya sedang sangat semangat dengan tombol 'tolak-tolak-tolak.'
Nah yang terakhir itu agak mengusik harga diriku sejak pagi--malah sejak kemarin. Bagian paling menyebalkannya adalah, aku ingat memang ada--cukup banyak--detail-detail kecil yang aku lewatkan dari pekerjaan itu--akibat desakan penyelesaian dokumen demi kemaslahatan bersama. Ada perasaan tidak puas karena aku sudah bertekad memeriksa semua detail dokumen ini, mengingat pengalaman-pengalaman sebelumnya yang kurang enak--tapi gagal.
Dan hari ini, aku merasakan sendiri akibat dari hal yang seharusnya bisa diminimalisir. Dan aku merasa sangat tersinggung--misalnya saat melihat fakta bahwa dokumen ditolak hanya karena salah menulis C menjadi K. Whatthefu--
Somehow gue ngerasa di titik frustasi tinggi melihat angka yang dipertaruhkan karena hal-hal sepele--atau mungkin tidak sepele. Entahlah.
Ada beban moral yang besar yang dibawa pekerjaan ini, yang mana mengalaminya berturut-turut begini selama setahun bikin sesak juga.
Aku udah chat suami siang tadi--
"Mau mont blanc."
![]() |
| Foto lama. Mont blanc di Bukabuku. |
Membayangkan menyesap krim stella jeruk berpadu rasa nutty dari kopi sambil ngecek dokumen tampaknya pilihan tepat.
Tapi ternyata, makin malam, aku makin merasa tidak bisa pulang awal--lagian jam 20.30 udah bukan jam yang enak buat baru mulai ngafe--alhasil aku memilih nyicil pekerjaan di kantor.
Lalu rasanya makin sedih,
Makin gak fokus,
Aku memilih pesan gojek. Pulang.
Di motor mataku udah panas. Buka pintu pagar. Naik tangga. Tap kartu pintu kamar.
Saat pintu terbuka, suamiku yang sedang memegang laptop noleh, ngeliat mukaku yang udah kusut, cemberut, berkaca-kaca. Tinggal bersama tiga bulan bikin dia belajar--
--bahwa perempuan ini cengeng sekali, hahaha.
Jadi tanpa menunggu dia langsung bangkit dari kasur, meluk. Dan di situlah awal kalimat di blog ini bermula,
Aku langsung nangis terisak sambil ngomong "Aku mau Tianlala."
Segelas teh kekinian yang aku tahu dari rekan kantor dan rasanya enak banget.
Sambil nangis--sambil dia mesenin tianlala--aku akhirnya mengeluarkan semua umpatan yang udah disimpan dari pagi.
Tiga puluh menit berharga yang tadinya aku rencanakan untuk mencicil kerjaan selama di kos--mendadak tergantikan dengan membasahi bahu doi dengan airmata AHAHAHAHAHAHAHAHAHA.
Sebenarnya, aku mau menceritakan itu saja, mengisi waktu sambil menunggu websitenya yang ternyata rada-rada error dan lemot.


0 comments