Movie Review : La La Land, enggak sebagus itu.

By Sheren - Monday, July 24, 2017

source : image.google.com


Judul Film : La La Land
Sutradara : Damien Chazelle
Penggubah Musik : Justin Hurwitz
Rilis : 9 Desember 2016
Durasi : 128 menit
Pemeran : Ryan Gosling (Sebastian) , Emma Stone (Mia), John Legend (Keith), Rosmarie DeWitt (Laura)


La La Land adalah sebuah film drama komedi musikal romansa Amerika Serikat tahun 2016. Film ini mengisahkan tentang pertemuan seorang musisi dan calon aktris di Los Angeles yang kemudian jatuh cinta. 

Sederhana bukan? Ya, ide ceritanya memang simpel. Mia adalah gadis yang berambisi untuk menjadi aktris. Sedangkan Sebastian sendiri seorang pianis jazz. Namun keinginan memang sering bentrok sama kenyataan. Mia selalu gagal audisi. Dan genre jazz emang sudah kesulitan mendapat tempat di tahun milenial ini. 

Awal pertemuan mereka membuat mereka saling tidak menyukai. Tetapi sebagaimana film romance lainnya, mereka akhirnya jatuh cinta dan tinggal bersama, juga saling menyemangati untuk mengejar mimpi masing-masing. 

Suatu hari, Mia akhirnya lolos audisi. Dan itu juga artinya mereka harus berpisah, karena Mia harus pergi untuk mengembangkan karirnya, sedangkan Sebastian juga akan sibuk dengan band-nya. Tetapi meski berpisah, mereka berjanji akan saling mencintai selamanya.

Akankah cinta mereka bertahan?

***


Review :


Sulit untuk menilai film ini secara objektif. Sulit juga untuk membahas secara mendalam mengenai kekurangan dan kelebihan film ini karena sebelumnya aku sama sekali tidak pernah menonton film musikal kecuali film-film kartun Disney. 

Aku sendiri sudah lama menonton film ini, hanya baru teringat untuk mereview. 

Well, dari awal sebelum rilis saja, film ini sudah menuai kehebohan luar biasa. Gembar-gembor sana sini. Lalu saat filmnya dirilis, antrian menjadi panjang hanya untuk menonton film itu. Dan orang-orang keluar dari bioskop dengan berurai air mata. Kata-kata manis terlontar untuk memuji film itu. 

Akhirnya, aku pun menontonnya.

Tetapi aku tidak begitu suka. Tampaknya aku tidak terbiasa dan genre musikal. Atau mungkin karena aku tidak pernah suka dengan Emma Stone setelah menonton filmnya (yang memuakkan) : Easy A. 

Entahlah.

Pembukannya dibuat ceria dan heboh dengan orang-orang bernyanyi dan menari di tengah jalan, memakai baju nge-jreng warna-warni. Tetapi justru itu yang membuatku langsung menilai buruk film ini di menit pertama. Sangat membosankan dan menganggu melihat mereka bernyanyi dan menari. Aku enggak bisa mengenyahkan pemikiran rasional dari kepalaku : "Mereka enggak nyadar ya mereka buat jalanan macet?"

Pembukaannya benar-benar membuatku mengantuk.

Sebenarnya, ada banyak kelebihan yang harus kupuji dalam film ini. Pengambilan gambarnya sangat luar biasa dan membuatku takjub. Terutama ketika Sebastian dan Mia menari, atau juga ketika Sebastian menyanyikan lagu City of Stars. Benar-benar membuatku merinding. 

Source : image.google.com

Chemistry antara Ryan dan Emma juga menjadi inti dalam film ini. Akting mereka sangat-sangat-sangat bagus dan menyentuh. Lalu suara mereka, aku baru kali ini mendengarnya--bagus sekali suaranya. Meski tidak begitu menyukai filmnya, aku suka dengan suara mereka dan musiknya--

Ah Ya! Musiknya! Gubahan musiknya keren. Eh, sebenarnya hanya dua sih yang aku suka, yaitu City of Stars dan Mia & Sebastian's Theme. Aku masih sering memutarnya sampai sekarang. Kedua musik itu benar-benar menyihirku. Amazing dah. Saat mendengarnya, aku seakan bernostalgia mengenai kisah cinta yang tak pernah aku alami (hahahaha), saat mendengarnya juga, aku akan merasa senang sekaligus sedih. Aneh sekali, sekaligus menakjubkan. 

source : image.google.com

Jadiiiiiiiiiiiiiiiiii, kenapa aku tidak begitu suka filmnya padahal aku memuji-mujinya? Yah, seperti yang kukatakan, tampaknya film musikal bukanlah genreku. Musik lain selain dua musik di atas sangat enggak banget bagiku. Bosan. Capek dengarnya, rasanya pengen di skip--tapi gabisa. Lalu alurnya juga terlalu klise, mudah ditebak, terlalu sederhana, simple, dan banyak omong-kosong. Enggak istimewa gitu loh. Kayak--yah, setiap orang bisa mengalami hal yang sama. 

Sebastian enggak istimewa--banyak orang bisa bermain piano, banyak orang yang terpaksa bekerja meski enggak sesuai minat--cowok itu cuma melebih-lebihkan kesengsaraannya. Mending dapat kerja, banyak loh yang gabisa dapat kerja. Lalu Mia, emang sih, kasian ngeliatnya gagal audisi terus. Tapi dia agak egois juga. Aku benar-benar kesal melihat dia yang terang-terangan enggak setuju saat melihat band Sebastian ternyata enggak bergenre jazz murni (apaan seh--pokoknya gitulah, katanya band itu jazz yang dipengaruhi genre pop juga) . Sebastian udah berusaha, dan dia lagi butuh duit, sebagai pacar apa salahnya ngedukung dia. Toh band dia ada jazz-jazznya juga, toh dia dapet kerja dan penghasilan--daripada lu, audisi aja gagal terus. Mikir dong! Bikin emosi naik aja. Mana si Mia itu enggak kenal waktu, lagi makan malam romantis malah nge-kritik. 

Belum selesai sampai makan malam aja. Mia itu..ugh, benar-benar cewek-menyebalkan-ga-tahu-diri-yang-ambisius-mengejar-cita-cita-dan-kacang-lupa-kulit. Bisa-bisanya dia........jadi gini, dia sudah didukung habis-habisan sama si Sebastian. Lalu Sebastian juga yang jauh-jauh bolak-balik untuk mengantarkannya ke audisi yang akhirnya mencari titik terang untuk karir si Mia, dari situ dia akhirnya sukses, dari audisi itu dia akhirnya terkenal. Dan itu semua karena Sebastian kan? LALU, mereka sudah berjanji untuk mencintai satu sama lain. Selamanya.

Dan akhirnya apa? Setelah pergi jauh. Si Mia malah nikah sama pria lain! Punya anak pula! (Maaf spoiler). Maksudku, emangnya dia lupa, siapa yang berusaha untuknya dulu? Memangnya dia lupa, kepada siapa dia berjanji untuk mencintai sampai akhir? Lihat noh, Sebastian sampai ending cerita masih memegang janjinya, masih sepenuh hati mencintai. Tapi si Mia, mentang-mentang udah berkarir.. 

HAH!

Ah...hahahaha, maaf. Aku memang enggak bisa menghargai pilihan hidup orang dan karya seni ya. Tetapi ketikan di atas itu memang alasan mengapa aku tidak begitu suka La La Land. Yup, alurnya yang terlalu realistis sekaligus enggak realistis. Terlalu sederhana, simpel, blabla. Lalu sikap tokoh-tokohnya juga. Jujur saja, aku sebenarnya suka sama sad ending--kadang-kadang itu memang dibutuhkan. Tetapi sad ending yang ini benar-benar deh. 

Kalo aku jadi jurinya Oscar, aku juga gabakal ngasih film ini piala. Huahahaha. 

Sekali lagi, selain dua musiknya (City of Stars dan Mia & Sebastian's Theme), judulnya yang indah (La La Land), chemistry mereka, dan pemandangan, cerita ini ga ada apa-apanya bagiku. Daripada menangis tersedu-sedu, cerita ini justru membuatku kesal dan jengkel. Apalagi endingnya yang "if, if" itu.

Ini perspektifku sendiri sih. Dan kayaknya cuma aku yang begini. Soalnya, keliatannya orang lain benar-benar suka film ini. Yah, aku bukan pengamat film dan ini hanya pendapatku sebagai penonton awam yang termakan kehebohan orang lain. Jadi buat kalian yang belum nonton dan kebetulan baca review ini, mohon abaikan saja kalimat-kalimat sinisku tentang film ini. Selera filmku emang bukan yang beginian. 

Nilaiku untuk film ini, sebagai orang awam, 2.5/5


Oh ya, ini dia dua soundtrack yang aku suka: 

- Mia & Sebastian's Theme



- City Of Stars

  • Share:

You Might Also Like

0 comments