Film Review : Painted Veil

By Sheren - Friday, June 09, 2017

Sutradara :
John Curran
Produser :
Sara Colleton
Jean-François Fonlupt
Bob Yari
Edward Norton
Naomi Watts
Adaptasi dari
The Painted Veil oleh W. Somerset Maugham
Pemain
Naomi Watts (Kitty)
Edward Norton (Walter)
Liev Schreiber
Toby Jones
Diana Rigg
Musik Oleh
Alexandre Desplat

https://www.google.co.id/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Fdbmoviesblog.files.wordpress.com%2F2012%2F01%2Fawp_2_800.jpg&imgrefurl=https%3A%2F%2Fdbmoviesblog.wordpress.com%2F2012%2F01%2F11%2Fthe-painted-veil-review%2F&docid=Oou-MrpTLZISeM&tbnid=1eE-i839MaIWNM%3A&vet=10ahUKEwj7r5ShtLLUAhWFQpQKHagnAPwQMwgnKAIwAg..i&w=800&h=600&bih=661&biw=1366&q=painted%20veil&ved=0ahUKEwj7r5ShtLLUAhWFQpQKHagnAPwQMwgnKAIwAg&iact=mrc&uact=8
source : image.google.com (dbmoviesblog.wordpress.com)


Film yang dirilis tahun 2006 dan disutradarai oleh John Curran ini emang patut diacungi jempol. Film yang luar biasa. Yah, seperti biasa, jarang saya bisa menikmati film yang udah saya baca novelnya, rasanya agak membosankan. Tapi yang satu iniiii... pengecualian deh.

Sinopsis;

Film yang diadaptasi dari novel berjudul sama ini mengisahkan tentang seorang gadis bernama Kitty. Kitty digambarkan sebagai sosok yang memiliki kecantikan tiada tara dan tinggal dengan seorang Ibu yang penuh ambisi, seorang Ayah yang tidak diperdulikan, serta saudara perempuannya. Di keluarganya, Kitty adalah anak yang amat dibanggakan, terutama oleh Ibunya yang selalu bersikeras menjodohkannya agar Kitty mendapat suami yang ‘baik dan kaya’ sebelum kecantikan Kitty hilang termakan usia. Hanya saja, dikelilingi oleh rasa bangga, cinta, kebahagiaan, serta kecemburuan orang di sekitarnya, membuat Kitty tidak ingin menikah cepatcepat. Dia masih ingin menikmati masa mudanya.
Namun suatu hari, adik perempuan Kitty akan menikah mendahului Kitty, itulah sebabnya dia akhirnya menerima lamaran Walter, yang sama sekali tidak dicintainya. Walter adalah seorang pria yang sangat kaku dan mencintai Kitty sepenuh hati, itulah mengapa dia selalu berusaha untuk setia dan menyenangkan Kitty.
Hanya saja, seperti kata pepatah; air susu dibalas dengan air tuba. Kitty justru mengkhianati perasaan Walter dengan memiliki affair ketika mereka di Hong Kong. Pria itu adalah rekan kerja Walter sendiri, dan sangat tampan serta memiliki sifat berbeda jauh dari suaminya. Mengetahui hal itu, Walter membawa Kitty jauh ke suatu daerah di Cina yang sedang mengalami epidemi kolera, Mei-Tan-Fu. Kebetulan dia ditugaskan oleh pemerintah untuk bekerja di sana (Saya agak lupa, tetapi dia memang semacam peneliti, atau apalah, bukan dokter, tapi yang membantu jugalah untuk mengurusi epidemi) . Namun tak hanya itu, dia juga melakukannya atas dasar menghukum Kitty. Pilihannya hanya dua bagi Kitty : Ikut pergi atau diceraikan, (sepertinya masa itu diceraikan dan bukannya menceraikan akan sangat memalukan).

Hidup di sana sulit. Tidak banyak yang bisa dilakukan, dan untuk waktu yang lama, hubungan mereka tidak ada perkembangan; hanya saling mendiamkan satu sama lain. Ironisnya, baru saja mereka akhirnya berbaikan dan mulai kembali menerima satu sama lain, suaminya, Walter, sekarang oleh penyakit kolera yang menghampirinya.

***

Most beautiful romantic movie with great acting that I’ve watched, seenggaknya itulah anggapan saya hingga sekarang, khusus untuk film barat. Yah, awalnya sih ngeliat tokohnya saya sedikit kurang sreg gitu, tapi lama-lama keliatan kalo para artisnya emang cocok memainkan perannya masing masing. Kecantikan Kitty, kekakuan suami Kitty yang bernama Walter.

Kemudian setting latar tempat film ini sangat cocok dengan yang ada di novel. Selain itu, gaya kehidupan ‘era penjajahan’ juga ditonjolkan di Hong Kong. Tidak main main, sempurna sekali! Menonton pertunjukan...memakai tandu yang dikawal.. Sinematografinya pun patut diacungi 4 jempol!

Ah, seperti biasa ceritanya sedikit berbeda dengan yang di novel. Bahkan sebenarnya ending film ini jauh berbeda dengan di novel! Jauh sekali! Di novel, pada akhirnya si suami tetap bersikap dingin dan tampak tidak puas dengan dirinya sendiri, dan begitupun Kitty, yang hanya memiliki sangat sedikit simpati, dan mereka tidak berbaikan atau jatuh cinta sama sekali! Tetapi di film berbeda. Tampaknya Pak sutrada tahu arah jalannya pasar :D, pasti sebagian besar penonton akan lebih menyukai ending yang mereka harapkan, daripada ending nyeleneh seperti di novel. Jujur, ending di novel benar benar mengejutkan dan memiliki gaya yang berbeda sekali dari kebanyakan penulis! Dan saya sendiri tidak puas dengan ending di novel. Ending di film lebih seperti harapan saya--mungkin itulah yang paling membuat saya langsung mencintai film ini, karena ada jalan cerita yang diubah sama si sutrada, anggaplah ending alternatif. Di film, suami istri itu dibuat jatuh cinta kembali setelah sekian lama berada dalam perang dingin.

Film ini memang bertema romance, dan alurnya agak agak klise : terpaksa menikah, mengkhianati, kemudian datanglah penyesalan yang terlambat. Tetapi latar tempat dan suasana yang diambil, yaitu Cina, membuat film dan novelnya jauh lebih unik. Siapa yang mengira kisah cinta yang tersakiti bisa dibawa ke daerah penuh orang sakit kolera? Selain itu, novel pada filmnya lebih menonjolkan pada kuatnya pembawaan watak masing masing tokoh.

Meskipun masih ada 'perang dingin' di antara mereka, tak bisa dipungkiri
akhirnya 'bibit bibit kepedulian' itu mulai muncul. Walter Fane diam diam
memerhatikan Kitty yang sedang bermain piano untuk anak anak.

Dari sedikit hal yang saya baca tentang film ini, beberapa kalangan tidak setuju dengan perubahan ending yang dibuat sutradara; dia dibilang tidak mengerti jiwa penulis. Memang sih, beda.... Tapi aku pribadi bener bener enggak mau melihat adegan Kitty ciuman sama ayahnya sendiri._. (Ups, spoiler lagi). Jadi aku puas dengan yang ini.

Entah sudah berapakali aku menonton film ini, dan sebanyak itu pula aku menangis. Menonton film ini sangat membuatku emosional, tidak peduli berapa kali aku sudah menontonnya. Sekali lagi, pembawaan tokohnya memang kuat. Kita akan tenggelam dalam rasa sakit oleh cinta dan pengkhianatan, rasa bersalah oleh kebohongan dan keegoisan, serta rasa penyesalan akan kesadaran yang datang terlambat. Film maupun novelnya tidak ingin menipu kita dengan dongeng indah mengenai cinta, mereka ingin kita melihat sisi tragis dari cinta yang membuat kita buta pada hal sekeliling kita. Mereka tidak memaksa akhir yang bahagia, mereka ingin kita melihat, bagaimana hati manusia itu sebenarnya. Sangat unik, sangat jenius.

Tetes air mata pertama saya jatuh pas si suaminya mulai sakit. Dan air mata saya benar-benar merebak saat akhirnya si suami meninggal, kemudian mengalir lebih parah pas si istrinya (dengan lega saya umumkan) menangis tersedu-sedu! Kisah yang penuh ironi, sakitnya menusuk hingga ke relung paling dalam, membuat saya berlama lama merenungkannya. Belum lagi musik sepanjang film yang sangat mendukung, menambah rasa sepi, rasa pahit, cinta, atau kepedihan mendalam.

Ngomong ngomong, satu hal yang mengganjal pemikiran saya adalah; Apa sebenar benar benar benar benar benarnya motif Walter membawa diri mereka berdua ke daerah epidemi seperti itu? Apakah benar benar hukuman seperti yang dikatakan Walter sendiri? Apakah memang agar Kitty mati? Tetapi kupikir Walter saaaaaaangaaaatt mencintai Kitty, bisakah rasa cinta itu hilang tak membekas begitu saja? Membunuh perlahan itu sangat kejam, tidakkah itu akan menyakiti hati Walter sendiri? Apalagi orang itu ‘pernah’ dicintainya.

Ataukah Walter ingin bunuh diri? Tetapi kenapa (di novelnya sih) Walter terlihat merasa ‘dongkol’ dengan ajalnya sendiri? Ada satu kalimat yang diucapkannya, yang saya lupa. Tetapi aku ingat betul kalimat itu mengartikan bahwa paling tidak : ‘Dia kalah oleh Kitty, padahal dialah yang membawanya ke tempat itu, dialah yang memulai permainan itu.’

Atau Walter merencanakan agar mereka mati bersama? Atau apaaaa? Kenapaaa? Kenapa harus meresikokan nyawa sendiriiii? Di novelnya memang sih ia mengaku pada awalnya ia ingin membawa Kitty ke sana agar Kitty mati. Namun aku tidak pernah percaya. Dan lagi, aku waktu itu membacanya agak terburu buru, jadi tidak begitu bisa menganalisisnya :v .


Oh ya, ada satu soundtrack yang amat bagus dari film ini, A La Claire Fontaine. Bukan lagu original sih, katanya ini lagu anak anak di Prancis. Tapi tetap saja, cocok dan keren sekali.



So so so so, buat kalian yang lagi bosan dengan film romance yang gitu gitu aja, atau sedang merasa dikhianati, atau malah lagi mengkhianati, atau sekedar butuh menangis, tontonlah film ini. Bahkan sebenarnya, kalau kalian lagi ga merasa apa apa, tonton aja. Pokoknya mesti nonton!

  • Share:

You Might Also Like

0 comments