Novel Review : The School for Good and Evil #3 (Akhir Bahagia Selamanya)

By Sheren - Saturday, December 24, 2016


Judul Novel : The School for Good and Evil - Akhir Bahagia Selamanya
Penulis : Soman Chainani
Penerbit : Bhuana Sastra
Tebal : 732 halaman


“Dalam tujuh hari, Hutan akan menjadi gelap. Kita harus memasuki Dunia Pembaca sebelum matahari terbenam ketujuh, kalau tidak hidup kita akan berakhir. Dengan belum terbunuhnya pahlawan-pahlawan paling terkenal, para Pembaca masih memegang keyakinan pada Kebaikan. Tapi sebentar lagi akan berubah...”

The School for Good and Evil : Akhir Bahagia Selamanya adalah buku ketiga dari novel The School for Good and Evil. Di dua buku sebelumnya, telah dijelaskan bahwa Agatha dan Sophie, yang merupakan dua sahabat dari Dunia Pembaca di bawa Sang Guru ke Sekolah Dongeng. Secara tak disangka, Sophie masuk sekolah kejahatan dan Agatha masuk sekolah kebaikan. Dan lebih tak disangka lagi, Storian—sebuah pena ajaib yang selama ini menulis dongeng-dongeng para murid setelah mereka lulus—justru menulis dongeng mereka padahal mereka masih di tahun pertama sekolah! Bahkan setelah Sophie dan Agatha kembali ke Dunia Pembaca, dongeng itu masih belum ditutup oleh Storian. Begitupun ketika Agatha dan Tedros—pangeran Agatha, pergi menghilang ke Dunia Pembaca meninggalkan Sophie sendirian. Dongeng itu tetap belum selesai.

Novel kali ini menceritakan lanjutan kisah setelah Agatha dan Tedros pergi meninggalkan Sekolah Dongeng serta menetap di Dunia Pembaca. Awalnya, Agatha mengira semuanya akan baik-baik saja, bahwa dongeng telah selesai dan mereka dapat hidup nyaman di Dunia Pembaca. Tetapi terlalu banyak masalah. Pertama, Tedros ingin kembali ke Camelot (Kota tempat Tedros tinggal) karena dia harus menghadiri penobatan sebagai raja menggantikan ayahnya, Arthur. Dan dia ingin Agatha ikut sebagai ratunya. Kedua, Agatha sudah berjanji pada ayah Sophie bahwa dia akan membawa Sophie kembali, tetapi sekarang dia jelas-jelas tidak menepati janji itu, sebaliknya malah membawa cowok tidak dikenal. Ketiga, jika ingin tinggal di Dunia Pembaca, Agatha dan Tedros harus bersembunyi selamanya karena sebelum ini, Agatha sudah dianggap sebagai penyihir, pengkhianat, dan pembawa malapetaka bagi Dunia Pembaca. Keempat, mereka tidak punya cukup makanan. Kelima, Agatha tidak ingin meninggalkan Sophie bersama Raja Kejahatan—Sang Guru.

Pada akhirnya, mereka memang harus kembali.  Kembali ke Dunia Dongeng, Agatha bersama Tedros menerima bantuan dari Liga Tiga Belas, yang isinya ialah para pahlawan lama; Cinderella, si Tudung Merah, Pan, Tinker bell, Hansel & Gretel, dan banyak lagi. Betapa terkejutnya Agatha dan Tedros ketika memasuki dunia dongeng—bahwa dunia hampir kiamat karena mereka.

Karena dongeng mereka masih jauh dari kata selesai. Dan matahari sekarat sebab dongeng mereka sudah berjalan terlalu lama.

Karena Sophie percaya bahwa Sang Guru ialah cinta terakhir Sophie.

Karena Sophie menerima cincin emas Angsa Hitam dari Sang Guru. Cincin yang membawa Sang Guru pada Keabadian serta menghidupkan kembali Penjahat-penjahat lama. Cincin yang harus dihancurkan oleh dan hanya oleh Sophie sendiri jika ingin membunuh Sang Guru.

Bersama, mereka semua berusaha menyadarkan Sophie bahwa Sang Guru bukanlah cinta sejatinya, bukan akhir bahagianya. Sophie menjadi bimbang. Berkali-kali ia berbalik antara Tedros dan Sang Guru. Matahari juga semakin meredup setiap harinya. Menetes-netes layaknya salju yang mencair.

Pada akhirnya Sophie kabur dari tempat persembunyian dan kembali ke pelukan Sang Guru, memutuskan dengan segenap hati akan membela Kejahatan.

Perang tak terelakkan. Di hari terakhir terbitnya matahari, para pahlawan dan penjahat berusaha untuk memperjuangkan cerita mereka masing-masing. Berusaha untuk saling membunuh. Semakin lama, hari semakin gelap dan matahari tak lebih dari setitik kecil cahaya. Detik-detik yang menjadi penentu. Kepada siapakah akhir bahagia akan berpihak? Kejahatan? Atau kebaikan?

“Aku tidak tahu bagaimana cerita dongeng kalian akan berakhir,” ujar Sader terus terang.

***

Untuk ketiga kalinya, akhirnya aku kembali bertemu dengan novel unik ini. Kenapa aku bilang unik? Karena Chainani dengan luar biasa mengangkat dongeng-dongeng klasik dengan cara yang sangat berbeda *jadi keinget Rick Riordan*.

Harus kukatakan, untuk ketiga kalinya, Chainani berhasil membuatku berdecak kagum dan puas sama bukunya. Novel yang jauh lebih tebal daripada dua pendahulunya ini benar-benar tidak kehabisan cerita untuk diceritakan kepadaku. Aku dibawa ke petualangan yang penuh keajaiban dan rasa-rasanya di luar batas pemikiranku. Bagaimana mungkin aku akan menyangka para penjahat lama yang sudah dikubur kembali dihidupkan untuk membalikkan dongeng? Atau, bagaimana bisa aku membayangkan para putri-putri dan tokoh dongeng lainnya yang menemaniku sejak kecil bisa tumbuh tua—dan menjadi sangat menyebalkan? Bagaimana bisa aku tahu, bahwa dongeng tidak selalu menceritakan semuanya? Bahwa ada hal-hal penting yang dilewatkan oleh buku dongeng—yang jika kita mengetahuinya, maka akan mengubah pandangan kita terhadap dongeng itu?

Meskipun alur ceritanya bergerak agak lambat dan ada banyak percakapan omong kosong di sana sini, aku cenderung tetap menyukainya. Alurnya—beneran deh—enggak ketebak. Terutama jalan pikiran si Merlin (Tau Merlin kan? Penyihir yang mengabdi pada Raja Arthur). Sebagaimana novel-novel lain yang selalu menampilkan satu tokoh bijak, dapat diandalkan, dipercaya, dan tak terduga, maka di novel ini pun ada satu orang seperti itu, si Merlin. Merlin berperan seakan-akan dirinyalah yang menjaga lingkaran cerita tetap utuh, agar para pemainnya tidak keluar dari garis.

Karakteristik para tokoh juga hadir secara sempurna—semua kecuali satu. Yaitu Sang Guru. Aku benar-benar heran melihat Sang Guru, yang kembali muda setelah Sophie menerima cintanya, menjadi bersikap kekanak-kanakan dan penuh kebimbangan, pokoknya kayak remaja banget. Apakah otaknya ikut me’muda’ seperti tubuhnya?. Bagiku, dia enggak lebih sebagai cowok kegantengan berumur 16 tahun yang sok ingin menguasai dunia. Kesempurnaan fisiknya mengingatkanku pada Edward Cullen--> putih pucat, bibir merah, ganteng banget, muda, abadi, dan kulitnya sangat dingin (plus satu lagi : dimabuk cinta) . Bahkan rasanya agak lebih memualkan. Errrrrr.

Tokoh yang aku suka ada dua : Merlin dan Sophie. Merlin, karena kehadirannya selalu menenangkan. Kayak : ‘Kuyakin hari ini pasti menang’ #nyanyi. Dan dia selalu mengeluarkan makanan enak dari topi kerucutnya.

Lalu Sophie? Iya Sophie. Bukannya suka juga sih. Aku hanya...memahami dan menoleransi sifatnya. Hampir semua orang pasti akan menjadi seperti Sophie jika mengalami hal-hal yang dialami Sophie. Sederhananya begini : kau sudah berjuang keras berkali-kali, membuktikan kepada diri sendiri dan dunia, namun masih gagal juga? Masih dikhianati? Ketika sikap baik tidak membawa apa-apa kepada kau, tidak membawa kebahagiaan dan kepuasan apapun, lantas apa salahnya menjadi jahat?

Nah, itulah hal yang dialami Sophie. Pengalamannya benar-benar membuat Sophie mendapat simpati dariku. Dia sudah berjuang sejak masih di Dunia Pembaca—hanya demi dijemput untuk masuk ke Sekolah Kebaikan dan menemukan cinta. Dia mempercantik dirinya, mencoba membuat berbagai kebajikan, salah satunya dengan berteman dgn Agatha.

Sayangnya, dia terus menerus dikhianati oleh harapan. Dia tidak pernah disayangi Ayahnya. Lalu daripada masuk sekolah kebaikan, dia justru masuk sekolah kejahatan. Sosok yang dicintainya  justru secara tidak sengaja ‘direbut’ oleh sahabatnya. Bukankah mereka terlihat seperti mengkhianati Sophie?. Bukankah sahabatnya tahu bahwa Sophie mencintai Tedros? Kenapa sahbatnya masih menerima Tedros? Sahabatnya terus menerus lebih memilih Tedros daripada Sophie. Bukannya itu menyebalkan? Sekolah impiannya hilang, sosok yang dicintainya hilang. Jadi apa salahnya dia memilih kesempatan lain yang terbuka lebar? Memasuki kejahatan. Ada orang yang mencintainya di kejahatan. Ada kebahagiaan untuknya dikejahatan.

“Itulah masalahnya dengan Kebaikan, bukan? Menyuruhmu percaya pada harapan dan keyakinan, sementara semua itu hanya ilusi. Kejahatan menyuruhmu percaya pada kenyataan—kenyataan yang tepat berada di hadapanmu meski kenyataan itu membuatmu sangat takut..”

Namun yang jauh lebih menyebalkan, ketika dia sudah mulai memantapkan diri di sana, kenapa dia dihalang-halangi lagi? Kenapa sahabatnya ingin dia kembali di sisinya?

Kenapa tidak ada yang membiarkannya menentukan jalan pilihannya sendiri? Selalu dipaksa-paksa ke sana, ke mari.

Padahal Sophie hanya ingin bahagia.


“Seingatku dia memang punya kebiasaan mencampuri urusan orang lain,” kata Sophie. “Terutama urusanku.”


Well, hahaha. Pokoknya aku benar-benar menoleransi dan bahkan mendukung semua perbuatan Sophie di novel. Dia masih anak-anak loh, dapat ktp aja belum. Jadi enggak heran dia masih penuh kebimbangan. Itu namanya mencari jati diri. Aku justru jengkel dengan kebaikan, yang sebenarnya enggak terlihat begitu baik.

Wah wah, kalo aku dijemput untuk dibawa ke sekolah dongeng, mungkin aku bakal dilempar ke sekolah kejahatan wkwkwkwk.

Ah, kebanyakan membahas Sophie.

Lanjut, kelebihan lain yang sangat menyenangkan di buku ini ialah ILUSTRASINYA. Dari depan sampe belakang membuatku terpana dan berbinar-binar. Covernya sempurna. Sesuai dengan seleraku. Pokoknya ilustrasinya gue banget deh. Detail. Mempesona. Tidak cukup di covernya. Di dalamnya juga banyak sekali ilustrasinya. Di setiap awal bab ada. Lalu di halaman awal-awal juga ada. Sangatt dongeng ya, Chainani? ;)

Kekurangannya sudah kusebut di atas—ada beberapa hal yang terlalu bertele-tele sehingga membuatku mengantuk pas membacanya. Dan sifat Sang Guru yang cenderung berkebalikan dengan novel sebelumnya.

Jadi sebaik apakah novel ini? Hm.. sebaik covernya kalau kalian menyukai covernya. Sebaik harganya. Sebaik khayalan kalian. Sebaik jaminannya (New York Times Bestseller) . Dan sebaik novel-novel sebelumnya! Baca saja ya? Rating 4,8 untuk novel ini. 

<3 *sorry buat kegajean review-nya*

  • Share:

You Might Also Like

2 comments

  1. Wah, karena tulisan anda saya bisa bayangkan bagaimana panjangnya perjalanan sophie dan agata di buku ketiga. Saya baru membaca buku pertama, tapi kenapa agak kurang setuju dengan pendapat kkk soal sophie yang boleh memilih jahat....
    Saya memang belum baca, tapi kalau dari buku yang pertama, dan membaca catatan catatan pembaca lain soal buku pertama dan catatan kkk soal buku yang ketiga,
    Sophie bukan boleh memilih menjadi jahat, pada dasarnya dia memang jahat. Saya mau koreksi, saat pertama kali dia mau berteman dengan agata, itu tak bisa di sebut kebaikan kak, itu namanya memanfaatkan. Di buku pertama sophie sudah habis habisan mengkhianati agata, bukan membela agata saja sih
    Tapi, melihat ada yang bersimpati dengan sophie, kok jadi kesal sendiri^^'
    Maaf, kalau kata kata saya kurang berkenan,pendapat kkk adalah hak kkk, tapi karena disni boleh memberi komentar, saya benar benar tidak setuju. Tak mau bilang agata itu benar benar baik, atau lebih baik dri sophie. Tapi, sophie juga bukan sosok yang pantas di bela menurut saya....^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo nona nami, salam kenal. :) numpang nimbrung dikit yah kalo bole. Iya saya spndpt bgt sama kamu. Dibuku 1 Sophie yg egois bgt bikin dirinya jadi jahat. Sy jd ga suka bgt sama sophie, n mndukung agatha. Tapiii... stlh sy lnjut baca buku k2 nya, sy jd simpati sama sophie. Dia udah berubah, sophie berusaha bgt jadi baik demi agatha. Keliatan bgt dia cherish agatha so much. tapi tnyta agatha ga prcaya sama dia yg udah berubah. Jd klo dibuku 1 saya pro agatha, dibuku 2 saya berubah jd pro sophie.:D

      Delete