Menghargai ?

By Sheren - Wednesday, March 15, 2017

Sebenarnya besok ada ujian sekolah. Tetapi saya benar-benar ingin menceritakan kejadian yang baru saja saya alami ini.

Jadi, tadi ceritanya waktu maghrib sudah masuk. Adzan berkumandang baik dari masjid-masjid sekitar maupun TV. Saya pun menuju ke kamar mandi dan berwudhu.

Selepas dari kamar mandi, saya melintasi ruangan keluarga dan menuju ruang sholat. Di sana TV menyala dengan volume cukup kencang, dan ada adik saya yang terkecil lagi main sama Lizan, anaknya dari Ibu yang bantu kerja di rumah saya. Iya, jadi sekitar jam 5 sorean gitu, beliau selalu datang buat bantu beresin rumah, dan kadang-kadang bawa anaknya supaya bisa main sama adik saya yang terkecil, Qari.

Meskipun ruang sholat bersebelahan dengan ruangan keluarga yang notabene lagi disetel TV dengan volume cukup besar, saya enggak ambil pusing untuk mengecilkan volumenya atau apalah, tetap mengambil mukenah dan mengenakannya buat sholat.  Biasanya TV memang di stel dengan tujuan Qari enggak mana-mana pas kami lagi sholat.

Tetapi ada satu hal yang membuat saya rada kaget.

Sepertinya, gadis kecil itu, Lizan, melihat saya mau sholat. Padahal dia bener-bener lagi asyik main sama adik saya Qari. Sambil mengenakan mukenah, saya mendengar dia bertanya-tanya ke Qari; “Mana remote? Mana remote TV?” lalu tiba-tiba saja volume TV mengecil drastis, dan terdengar dia ber-“ssstt” ke Qari. Menyuruhnya tidak berisik.

Saya pun melanjutkan sholat—tanpa ada gangguan dari volume TV maupun suara gedubrak-dubrak mereka bermain.

....

Tahukah kalian kenapa saya memutuskan menceritakan ini di blog? Mungkin bagi kalian semua ini biasa-biasa saja. Tetapi saya pribadi lumayan terharu. Sebabnya adalah, Ibu yang bantu di rumah saya itu beragama non-Islam. Sejauh yang saya tahu, beliau juga tinggal dalam keluarga besar yang tentu saja juga non-Islam.

Dan gadis itu, Lizan, masih amat kecil, kelas 2 SD kalo enggak salah.

Tetapi bahkan dia lebih paham arti toleransi daripada banyak orang di luar sana J . Dia tahu bahwa sholat itu amat penting bagi kami, sama pentingnya dengan ibadah yang mereka lakukan.  Dia mengerti ketenangan yang dibutuhkan dalam sholat.

Dia tahu untuk tidak mengganggu.

Ah, kadang saya iri sama anak-anak (cie sheren yang udah dapet ktp wkwk). Dunia mereka masih polos. Berkelahi sekarang, berbaikan sejam kemudian. Tidak yang yang muluk-muluk dipikirkan. Mereka memahami segala sesuatu dengan cara yang sederhana. Betapa mudahnya untuk saling menghargai bagi mereka.  

Nyatanya, para orang dewasa sekarang sedang panas-panasan gara-gara masalah intoleransi. Berlomba-lomba menyindir, berlomba-lomba saling menjatuhkan, berlomba-lomba menuduh. Entah apa yang dicari, entah harga diri yang terlanjur jatuh, entah kepuasan menyakiti orang lain, entah kepentingan pribadi.

Enggak capek?

Saya tahu sakitnya, saya bahkan sudah mulai membaca banyak komentar negatif itu sejak saya SD, pas pertama kali punya facebook. Ada puluhan akun palsu yang isinya menjelek-jelekkan agama lain. Sengaja memprovokasi. Ada juga ratusan hingga ribuan orang berkomentar, kadang sama-sama mencaci maki, kadang dengan lembut bertanya; ‘kenapa?’

Ya. Kenapa? Apa sih dasarnya kita saling menjelekkan satu sama lain? Saling menjatuhkan? Waktu saya SD dulu, ketika membaca status-status itu, seringkali kali saya bertanya, “Sebenernya apa salah kami? Apa juga salah agama kami?” Dan seringkali juga, saya tergoda untuk ikut berkomentar. (Pada akhirnya saya mengabaikan status itu, menganggapnya sampah.)



Ah oke, ini jadi agak melenceng. Saya jadi lupa tentang sederet kalimat mutiara yang tadinya mau saya tulis. Pokoknya sih, alangkah baiknya jika kita semua bisa bersikap seperti gadis itu, Lizan, yang dengan ringan tangan mengambil remote untuk mengecilkan TV, demi saya, yang sedang sholat. Tidak berpikir terlalu panjang mengenai perbedaan, yang penting hidup tenang :v . Semua orang senang dihargai. Jika kita menghargai, tentulah orang lain akan menghargai kita. Tidak ada salahnya kita belajar untuk memperluas hati kita, menjernihkannya, memperdalamnya sedalam danau, sehingga meskipun ada sejumput garam atau lumpur yang dilemparkan ke dalamnya, tidak akan memiliki efek apapun. 

#Edisikangenkucing . Enggak tahu mau masukin foto apa wkwkwk.
Mereka adalah kucing-kucing yang sering kelahi pas malam tapi gencatan senjata di pagi hari.
Pas gencatan senjata, mereka bakal kumpul bareng di halaman rumah tetangga.
Foto ini saya edit entah kapan.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments