CERPEN : Untuk Mamak

By Sheren - Friday, May 25, 2018



Cerita ini pernah dilombakan dalam Kegiatan PORSENI Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura. Dan (alhamdulillah) mendapat juara. Selengkapnya lihat di sini. Daripada sayang di simpan di laptop, jadi saya share saja, siapa tahu bermanfaat/menghibur. Toh ini sudah lewat masa pengumuman. 
Official Instagram : Porseni FEB UNTAN

Catatan Tambahan : Sebagian besar percakapannya di tulis dalam bahasa Melayu Pontianak.

**** 

Salah satu sisi Kapuas. Saya mampir pas kebetulan lagi 'bertugas' di sekitar sini.
Tempat ini akhirnya jadi inspirasi untuk cerita di bawah.

“WOI SINI KAU!”

            Siang itu seharusnya tenang. Matahari yang terik membuat orang-orang malas beranjak dari rumah, memilih untuk beristirahat. Namun tiba-tiba kedamaian itu dipecahkan oleh teriakan seorang wanita. Dia hanya memakai daster seadanya dan sendal jepit. Rambutnya diikat sembarangan. Sambil berjalan menghentak-hentak melewati jembatan kayu, dia menatap garang seorang anak lelaki, berteriak memanggilnya.

Anak lelaki itu adalah aku.

“Kau ndak punye kerjaan lain ke selain malu-malukan Mamak?” semburnya bahkan tanpa sempat aku membuka mulut, terus berjalan ke arahku, membuat jembatan bergetar mengerikan, “Kau kire dengan pakai seragam sekolah, kau bise bohongkan Mamak?”

 “Bohong ape ye Mak?”

“Tadi guru kau ketemu Mamak, katenye kau sudah empat hari berturut tadak sekolah. Merase hebat ke ape? Merokok lagi kau di sini!” Mamak menatap sengit tanganku yang memegang sebatang rokok, dan tanpa aba-aba lagi, langsung merebutnya, membuang semuanya ke sungai.

Sayang sekali, padahal aku baru dua hisapan.

“Makin hari kau makin mirip bapak kau. Pemalas, ndak punye masa depan. Uang sekolah kau tuh mahal! Mamak kerje untuk biaya hidup kau, brengsek! Untuk sekolah kau! Makan kau! Gini care kau balasnye? Bolos sekolah?! Merokok?”

Mamak melotot hingga kedua alisnya menyatu. Meski begitu, ia tetap tampak cantik. Kecantikan itulah yang menjadi modalnya untuk bekerja sekarang.

“Mamak ndak perlu sok peduli same aku. Mamak menyekolahkan aku cume untuk jage gengsi, kan?” desisku.

PLAK! Tamparan itu melayang. Namun itu tidak mengurangi sedikit pun rasa penyesalanku berkata begitu. Aku sudah terlalu sering menerima rasa sakit fisik. Tamparan sudah menjadi makanan sehari-hariku.

“Kau itu masih bocah, jangan sembarangan menuduh orangtua macam-macam! Masih syukur tadak Mamak letakkan kau di Panti,” cecarnya penuh amarah, lantas berbalik, hendak melangkah pergi. Namun sebelum itu ia sempat menoleh sejenak, tatapannya semakin garang, “Mamak mau besok kau sekolah! Ndak ade yang namenye bolos lagi.”

Lalu dia melanjutkan langkahnya.

Aku? Aku kembali duduk di ujung jembatan, mengeluarkan sebatang rokok yang kusembunyikan di saku celana, menyulutnya dengan korek api.

Sebelumnya hingga setahun terakhir, aku tidak pernah merokok—bahkan cenderung membencinya. Aku mulai merokok ketika mencoba menghibur diri dari keputusasaanku sendiri.

Keputusasaan seorang anak yang menjadi korban kehancuran rumah tangga.

Apa kata tetangga-tetangga waktu itu? Broken home. Begitulah istilahnya. Sudah tidak terhitung aku mendengar gosip, bisikan menjalar dari mereka. Yudha si anak broken home. Yudha si anak pelacur. Yudha si anak pembangkang.

Hidupku berantakan karena kesalahan orangtuaku.

Aku menghisap rokokku dalam-dalam, menatap kejauhan, seberang sungai. Kota tepi sungai ini bobrok sekali. Bangunan-bangunan tidak diatur dengan rapi. Sampah berserakan. Jalanan hancur tidak diaspal. Bahkan lihatlah, di tempat kami saja masih menggunakan jembatan kayu yang rapuh. Aku tidak tahu sudah berapa lama jembatan ini ada. Semakin hari situasinya semakin memprihatinkan, bisa roboh kapan saja.

Penduduk di sini hanya mengharapkan kemurahan hati Tuhan untuk keselamatan mereka. Tidak ada satupun usaha untuk memperbaiki sesentipun jembatan ini. Bahkan pemerintah seakan lupa bahwa kampung kecil ini masih menjadi dari bagian negara mereka.

Terlupakan. Sama seperti diriku yang dilupakan oleh Bapakku begitu saja. Pergi meninggalkan aku dan mamak.

Aku menghela nafas berat. Dulu, dulu sekali ketika aku masih kecil, ketika aku masih menganggap bapak adalah sesosok pahlawan, aku pernah menunjukkan berlembar-lembar hasil gambaranku kepadanya. Gambar tentang masa depan kota ini. Tentang keluarga kami.

“Aku akan membangun kampung ini, Pak.” Begitulah ucapku dulu, penuh semangat. Semua gambar itu kukerjakan berbulan-bulan, diwarnai dengan krayon milikku. Aku tidak tahu apakah bapak perduli atau tidak. Dia melihat gambarku sekilas lalu mengangguk, kembali menikmati tontonan televisi. Namun aku tidak putus asa waktu itu, tetap bersemangat dengan mimpi-mimpi baru.

Sayangnya kertas-kertas yang menggambarkan mimpiku itu, telah berakhir dalam lalapan api, pada hari yang sama ketika bapak dan mamak memutuskan berpisah. Terlalu miskin, kata bapak. Aku baru sadar bahwa cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan rumah tangga.

Bahkan cinta mereka kepadaku pun tidak cukup untuk membuat mereka bertahan. Mereka butuh uang untuk membeli hubungan rumah tangga itu. Ironis sekali.

Sejak hari itu aku kehilangan segalanya. Aku kehilangan bapak yang pergi mencari kebahagiaannya sendiri—padahal selama ini dia tidak pernah bekerja keras, selalu mamak yang bekerja serabutan. Aku kehilangan mamak, karena sejak itu mamak berubah. Tidak ada lagi mamak yang sabar dan penuh kasih sayang seperti dulu. Kerjaannya hanya memakiku, menyamakanku dengan bapak. Dan dia berusaha mendapat uang secepat dan sebanyak mungkin—yang menyebabkannya terjebak dalam pekerjaannya sekarang. Aku kehilangan teman-temanku, yang berpikir bahwa anak broken home berasal dari kasta terendah. Dan bahkan, aku kehilangan mimpiku.

Mimpiku adalah membangun kampung ini. Membuatnya lebih layak untuk ditinggali. Karena dulu, ketika keluargaku masih lengkap, aku yakin bahwa kampung ini adalah rumahku, tempatku akan kembali sejauh apapun kelak aku pergi. Bagiku, rumah adalah tempat orang-orang yang kusayangi berkumpul.

Tapi sekarang tidak ada lagi definisi rumah itu. Bapak pergi meninggalkan luka. Mamak juga tidak kukenal lagi. Apalagi teman-temanku. Tidak ada lagi yang kusayangi. Kampung ini tidak lagi seperti rumah.

Bahkan aku ingin pergi di sini, sejauh mungkin. Dan tidak kembali.

***

Pagi itu, demi melihat mamak yang sejak pagi buta sudah mengawasiku dengan tatapan penuh ancaman, aku akhirnya mengenakan seragam putih abu-abuku dan benar-benar pergi ke sekolah.

Baru satu langkah aku melewati pintu kelas, sebuah kalimat tidak menyenangkan terlontar dari mulut teman, kalau memang masih bisa disebut teman.

“Loh, anak itu datang lagi? Padahal aku udah senang die ndak sekolah. Takutnye ketularan jadi berandal,” ujarnya, disambut tawa oleh yang lain.

Sebenarnya siapa yang berandalan?

Aku menuju bangkuku tanpa sekalipun menoleh ke mereka.

“Oi, ade ape kau tibe-tibe sekolah? Mamak kau udah ade duit lagi ke untuk nyogok kau sekolah?”

Aku menoleh, menatap anak lelaki itu benci, tetapi dia pura-pura tidak menyadarinya.

 “Berarti Mamak kau udah dapat pelanggan lah ye? Iye kan, anak pelacur? Atau sekarang kau ngikutin jejak Mamak kau? Dapat upah berape kau?”

Sudah cukup.

Aku menerjang meja di depanku. Lalu dengan gerakan secepat kilat, mengambil bangku yang tadi kududuki dan melemparnya ke arah anak lelaki yang dari tadi menghinaku. Menghina ibuku.

Selama beberapa detik, seluruh kelas langsung dicekam oleh keheningan menegangkan. Semua tawa lenyap tak bersisa.

Sayangnya, anak itu dengan cepat menghindar sehingga bangku tersebut luput mengenainya.

“SINTING YA?! AKU BISE MATI, TAHU?!” jeritnya, nafasnya memburu.

Aku tidak berniat untuk meladeni pertanyaannya, sehingga tanpa menunggu lagi, aku langsung menyerangnya, kali ini dengan kedua tanganku sendiri.

Perkelahian tak terelakkan lagi. Aku tidak perduli, aku akan mengajarkan anak ini tentang sakit yang selalu kurasakan selama beberapa tahun belakangan. Dia harus memahaminya.

“HEI, APA YANG KALIAN LAKUKAN? STOP!”

Itu suara wali kelas kami. Ternyata ada murid yang mengadu.

Wali kelas kami langsung mendekat. Aku yang sedang buta oleh amarahku tidak menyadarinya. Ketika aku kembali ingin melayangkan tinjuku, pria itu justru menyeruak di antara kami. Aku terkejut, tapi terlambat menahan lenganku. Wali kelas kami telak terkena hantamanku.

Sial, masalah ini menjadi lebih serius.

Aku terdiam sejenak. Keadaan jadi kacau balau. Murid-murid mengerubungi kami, terutama guru kami yang hidungnya berdarah.

Aku harus mengambil keputusan cepat.

Maka, sebelum semua menyadarinya, aku langsung berbalik dan mengambil tasku, kemudian melarikan diri.

Aku tidak hanya kabur dari sekolah, namun juga dari rumah. Berhari-hari aku hanya terus berjalan dan mencari tempat berteduh. Jika lapar, aku mencoba peruntungan dengan ke rumah makan sederhana dan mengharap belas kasian pemiliknya.

Perjalanan tanpa arah itu membawaku ke sisi gelap lain dari kehidupan ini. Aku terjebak dalam sebuah bandar judi. Mereka membujukku untuk bergabung, menawarkan pinjaman menggiurkan yang bisa kuganti setelah aku menang.

Awalnya aku memang menang banyak. Namun sejak awal, ini adalah permainan bandar judi itu, bukan permainanku. Aku lengah, tidak menyadari bahwa di ronde-ronde selanjutnya mereka mulai melakukan kecurangan. Akhirnya aku kalah telak dan terikat utang yang besar dengan mereka.

Mereka sengaja menjebakku.

Pinjaman itu terlalu besar untuk bisa kubayar dengan cepat, dan aku berada dalam ancaman. Akhirnya hari itu aku memutuskan nekad melakukan sesuatu. Sesuatu yang bayarannya mahal sekali—lebih dari sekedar uang.

Hingga akhirnya aku harus meninggalkan Mamak.

***

“Selamat pagi semuanya! Wah, meskipun masih pagi, saya sama sekali tidak melihat wajah kantuk di sini. Karena tentu saja—semua yang di sini pasti semangat dan tidak sabaran untuk melihat seseorang yang sudah kita tunggu sejak tadi,” seorang wanita dengan mengenakan pakaian formal, menyapa di atas panggung.

Wajah-wajah yang berada dalam ruangan seminar itu memang terlihat antusias, bahkan tidak sabaran mendengar kalimat basa-basi dari moderator.

“Siapa sih yang tidak mengenalnya? Namanya umum disebut di kalangan arsitek di Nusantara, bahkan juga di lingkungan Pemerintah! Bagaimana tidak, dia banyak sekali berkontribusi dalam perancangan pembangunan negeri, menjadi inspirasi bagi setiap arsitek muda untuk mengikuti jejaknya—padahal dia sendiri masih muda. Dia bahkan mendirikan Yayasan untuk membantu menyalurkan dana bagi pembangunan daerah-daerah yang terbelakang. Proyek pertamanya adalah membangun kampungnya yang berada di tepian sungai, yang sekarang sudah benar-benar berubah menjadi daerah wisata. Namun sekarang tentu saja proyeknya sudah jauh lebih besar. Baiklah, tanpa mengulur waktu lagi, berikan sambutan yang paling meriah untuk arsitek muda kita, Yudha Alamsyah!”

Tepuk tangan menggema hingga ke sudut ruangan. Dan seorang pria dengan berpakaian kemeja biru serta celana kain berjalan memasuki panggung dengan langkah panjang, tersenyum lebar.

Pria itu adalah aku.

Dulu aku berdiri di atas jembatan karena dipanggil Mamak, namun sekarang aku berdiri di atas panggung karena moderator yang memanggilku. Tidak hanya itu, semua peserta—mahasiswa dari berbagai Universitas maupun mereka yang sedang meniti karir menjadi arsitek, sedang menungguku.

Sebuah mimpi yang sudah kulukis sejak kecil akhirnya tercapai. Aku berhasil menyandang gelar di belakang namaku, dan bahkan lebih dari itu, aku berhasil membangun kampungku, membangun bangsa ini.

Aku bisa berdiri di panggung ini bukannya semulus aspal di jalan raya. Butuh waktu dan pemahaman yang lama dan luas bagiku agar bisa meraih semuanya. Butuh pengalaman yang menyakitkan dan penuh derai air mata bagiku untuk bisa melalui semuanya.

Hari itu, belasan tahun lalu, aku memutuskan untuk ke rumah. Tapi bukannya untuk kembali, tidak, aku justru ke rumah untuk mengambil uang Mamak. Aku ingat persis, Mamak selalu menyimpan uangnya di bawah tumpukan pakaian. Dengan sengaja aku pergi malam-malam, membuat perhitungan bahwa Mamak sedang bekerja dan tidak ada di rumah.

Namun ternyata aku salah. Mamak hari itu di rumah. Bahkan sejak kepergianku itu, Mamak selalu di rumah. Setelah aku kabur dari sekolah, kepala sekolah memanggil Mamak dan membeberkan semua yang terjadi. Tentu saja Mamak marah bukan main. Beliau menunggu di rumah, bersiap mengomeliku. Tetapi sayangnya aku tidak pernah pulang. Kemarahan Mamak lambat laun berubah jadi kekhawatiran seorang Ibu. Dan beliau memutuskan tidak lagi pergi bekerja, melainkan menungguku di rumah.

Menungguku untuk pulang.

Namun lagi-lagi aku mengecewakan Mamak, karena aku pulang bukan untuk menemuinya—melainkan menemui uangnya. Kami bertengkar hebat malam itu. Mamak memaksaku tetap tinggal, sesuatu yang tidak ingin aku lakukan.

Pertengkaran kami benar-benar menggetarkan rumah. Aku terbawa emosi dan mulai melempar barang ke sana ke mari, kelakukan yang membawa petaka.

Bukankah dulu sudah kubilang? Bangunan di kampung kami ini sudah rapuh, tinggal menunggu waktu hingga akhirnya ambruk. Dan itulah yang terjadi pada malam pertengkaran aku dan Mamak. Rumah kami tidak mampu menahan goncangan yang terlalu sering terjadi. Salah satu tiang penyangga yang menahan rumah ini berderak patah. Merobohkan sebagian bangunannya.

Malam itu mengerikan sekali. Kami yang sedang ribut tidak menyadari bahaya yang mengincar kami. Mamaklah yang pertama melihat dinding di belakangku semakin lama semakin miring ke arah sungai. Beliau berteriak dan berlari ke arahku—berusaha menyelamatku dari langit-langit rumah yang mulai roboh.

Aku selamat, tetapi aku harus melihat Mamak tertimpa reruntuhan.

Tetangga yang mendengar suara-suara segera keluar dari rumah dan menolong kami—meskipun agak sulit karena jembatan menuju rumahku pun ikut terkena imbas dari robohnya bangunan. Aku tidak terlalu ingat setelahnya.

Seperti yang sudah kukatakan, tindakan nekadku itu mahal sekali harganya. Mamak memang selamat, tetapi beliau tidak bisa berjalan lagi untuk selamanya. Kaki Mamak tertimpa reruntuhan berat dan kehilangan fungsinya untuk berjalan.

Mamak baru terbangun di ranjang rumah sakit besok paginya.

“Mamak minta maaf,” justru kalimat itulah yang keluar dari bibirnya ketika melihat wajahku. Beliau sama sekali tidak memerdulikan kondisinya.

“Maaf karena Mamak harus melakukan pekerjaan kotor itu dan membuat kau malu di sekolah. Maaf karena Mamak selama ini sangat keras  same kau. Mamak cuma takut, sungguh, Mamak cuma takut kau akan berakhir kayak Mamak dan Bapak,” dia berhenti sejenak, tangannya terangkat untuk mengelus pipiku, sebulir air matanya jatuh berdenting.

“Maaf Mamak sudah menyakiti kau. Maaf karena kami ndak bisa menjadi orangtua yang baik. Kau tahu? Mamak sayang sekali same kau, maaf karena selama ini mamak menyampaikannya dengan cara yang salah. Tapi Mamak mohon, Yudha, jangan biarkan Mamak menjadi penghalang untuk mimpi kau. Bukankah waktu kecil dulu kau bercita-cita ingin menjadi orang hebat yang bisa membangun kampung kita? Bukankah kau dulu ingin membangunkan rumah untuk keluarga kita?”

Mataku membulat menatap Mamak. Mamak masih ingat mimpi kecilku?

“Maka jangan biarkan mimpi itu hanya ada dalam kepalamu. Kejarlah, buat semua itu jadi kenyataan. Buatkan rumah untuk keluarga kita, Nak. Kau jangan putus sekolah, jangan terjebak dalam dunia yang salah seperti yang Mamak perbuat. Mamak bersyukur sekali memiliki kau. Kau itu harapan Mamak, harapan untuk kampung kita.”

Pagi itu, aku tahu bahwa Mamak masih menyayangiku. Dan aku juga sadar, bahwa aku masih memiliki kesempatan untuk mengejar mimpiku.

Rumah kami segera dibangun ulang—meskipun seadanya—oleh pemerintah setempat, serta dibantu warga. Aku kembali bersekolah. Sejak insiden itu, teman-temanku tidak lagi banyak yang menghinaku. Dan wali kelas yang pernah kulukai itu syukurnya sama sekali tidak menaruh dendam, beliau justru banyak membantuku belajar untuk persiapan ujian.

Aku serius menuruti kata-kata Mamak, sehingga aku belajar bersungguh-sungguh untuk persiapan masuk Universitas. Tidak hanya itu, aku juga mencari beasiswa sehingga aku tidak perlu merepotkan Mamak untuk biaya kuliahku, karena Mamak tidak lagi melakukan pekerjaan kotor itu—syukurlah.

Aku pernah bilang bahwa aku harus meninggalkan Mamak. Dan itu benar kulakukan. Tetapi bukan dalam arti buruk. Aku terpaksa meninggalkan Mamak karena aku diterima di Universitas di luar pulau. Awalnya aku memutuskan menolak Universitas tersebut, namun Mamak memaksaku untuk tetap pergi—meyakinkanku bahwa dirinya akan baik-baik saja. Karena itulah aku pergi, dengan tekad bahwa kepergianku tidak akan sia-sia. Aku akan kembali untuk membangun kampung ini, seperti mimpiku, seperti keinginan Mamak.

Hari-hari berlalu cepat selama aku berkuliah. Dunia luar menakjubkan sekali. Aku melewati berbagai pengalaman yang bernilai harganya. Tahun demi tahun melesat dengan cepat. Aku berhasil meraih gelar sarjanaku dengan status cum laude. Kemudian sambil bekerja, aku melanjutkan lagi pendidikan kuliahku. Dan akhirnya, aku kembali untuk benar-benar membangun kampungku.

Aku tidak berhenti sampai kampungku saja, melainkan berkelana ke berbagai penjuru Indonesia untuk ikut melakukan pembangunan di negeriku. Aku juga melakukan berbagai penelitian dan pengembangan dalam bidangku, yang hasilnya aku manfaatkan, lagi-lagi, untuk negeri ini. Pemikiran-pemikiran futuristikku membuatku langsung dikenal secara luas. Segera saja aku tidak hanya bertugas di lapangan, namun juga dipanggil ke berbagai seminar, talkshow, maupun konvensi, untuk berbagi ide dan pemikiran kepada generasi penerus kami, memuaskan dahaga mereka akan ilmu pengetahuan, memotivasi mereka.

Tentu saja aku harus melakukannya, karena ini bukan hanya masalah keuntungan pibadiku, melainkan juga untuk masa depan negeri kami. Kami semua memiliki tanggung jawab untuk membuat negeri kami lebih maju dan tidak kalah oleh negara lain.

Namun aku selalu kembali ke kampungku setelah melaksanakan semua kewajibanku. Aku selalu pulang, terutama untuk menemui Mamak. Sekarang setelah semua yang terjadi, aku kembali merasa bahwa kampung tempatku lahir dan tumbuh memang benar rumahku. Tempat orang-orang yang kusayangi berada, tempat yang menumbuhkan mimpi-mimpiku.

Tepuk tangan masih mengiriku hingga aku sampai di podium.  Layar LCD di depan ruangan menampilkan gambar hasil proyek terbaruku. Sesampai di podium, aku kembali tersenyum menyapa, menatap wajah-wajah muda yang penuh antusias.

Hari ini, aku akan kembali menyampaikan cara untuk membangun negeri ini. Hari ini, aku kembali berdiri di panggung, menjadi salah satu harapan besar bangsa, generasi gemilang di masa ini. Hari ini, aku berhasil mencapai mimpiku.

Dan semua itu kulakukan untuk Mamak.

  • Share:

You Might Also Like

1 comments

  1. Ihhh keren shereeenn pantas lah menang huhuhu. Good job👏👏👏👏

    ReplyDelete