semua yang berubah.

By Sheren - Monday, July 02, 2018

Sekitar 7-8 tahun lalu, tepatnya saat aku pertama kali nge-blog, mungkin curhat blak-blakan dan penuh kedetailan di media sosial bukanlah sesuatu yang terlalu bermasalah. Pertama, warganet pada zaman itu enggak suka mengheboh-hebohkan sesuatu, dan yang kedua serta yang paling penting, waktu itu masih sedikit sekali orang-orang di sekitarku yang menggunakan internet sebagai media menjalin komunikasi.

Jadi bisa dibilang dulu itu medsos seperti Friendster, Facebook, Plurk, Blog, serta Twitter, adalah 'teman baik' bagiku untuk curhat. Sejenis diary, tapi online. Dan siapapun bisa membacanya.

Sekitar 7-8 tahun lalu, aku memang sering sekali curhat segala sesuatu di media sosial online. Pertengkaran, pertemanan, dan tentu saja, pecintaan.

Ah, aku kangen masa-masa ketika aku bisa menggebu-gebu menulis tentang perasaanku di media sosial, padahal waktu itu aku hanyalah seorang bocah SMP. Cinta monyet pula haha. Zaman itu aku bisa meng-alay tanpa disebut alay. Zaman itu hampir tidak ada orang yang akan mencibirmu hanya karena memasang status, "I miss you so much." di Facebook. Zaman itu penggunaan efek foto adalah hal yang jarang untuk orang awam. Sehingga mengedit sesuatu menjadi lebih 'bagus' justru menambah pujian. Toh yang dipuji memang fotonya; "Wah foto profilnya cantik." .

Aku jadi ingat salah seorang netizen dari Cina (lupa nama), yang terkenal sekali gara-gara foto-fotonya yang luar biasa imut. Matanya besar seperti boneka, bibirnya kecil mungil. Berponi. Semua orang tahu mata besar dan bibir kecil itu adalah hasil dari Photoshop. Tapi apakah mereka mencibir? Tidak. Mereka justru memuji, memasang foto-foto itu sebagai foto profil mereka sendiri, meng-share, dan bahkan belajar cara membuatnya. Fotonya ada di mana-mana di facebook. Dulu efek 'beauty' di kamera smartphone belum ada :) , sehingga butuh niat yang serius untuk mempelajarinya di Photoshop.

Saat itu, kita menggunakan media sosial memang untuk menambah teman, berkenalan, bersahabat. Bukannya seperti sekarang, yang menjadi ajang pamer kehidupan sosial. Saling mencibir, menjatuhkan. Berusaha menjadi yang paling hebat. Atau yang terburuk, untuk menipu orang lain. Orang-orang berlomba foto 'natural' , menjunjung tinggi 'kepolosan' foto, blabla. Orang-orang berlomba-lomba mencibir 'cuma cantik di medsos' . Orang-orang berlomba-lomba menghina 'hasil oplas' , dan bahkan make-up! . Orang-orang menyindir mereka yang sering memposting status alay dan sebagainya.

Ketika teknologi semakin maju, orang-orang justru menolaknya. Ketika semakin hari segala sesuatu semakin dibuat nyaman untuk bersosialisasi, orang-orang justru semakin terkekang untuk berekspresi.

Dan aku sendiri? Tentu saja aku menjadi bagian dari generasi yang terlalu banyak gengsi-nya dan terlalu peka ini. Harus, atau aku akan tenggelam dalam amukan generasi ini.

Contohnya saja sekarang, aku sedang merasa rindu sekali pada seseorang. Ingin rasanya memasang story 'quotes' puitis di Instagram, atau sekedar memasang story lagu yang liriknya mengungkapkan rasa rinduku. Sebenarnya itu termasuk sesuatu yang normal, belum terlalu berlebihan.

Tapi bagaimanalah, kan sudah kubilang, generasi ini terlalu banyak gengsinya, serta terlalu peka :) . Aku terlalu gengsi untuk menyebar perasaan ini, dan orang-orang, mungkin termasuk orang itu, pasti akan terlalu peka untuk paham mengenai kepada siapa story itu ditunjukkan.

Ingin menghubungi (lagi) sekali saja, lewat chatting. Tapi keberanian juga tidak kunjung datang.

Jadi sekarang ini, aku hanya bisa merindui seseorang dalam diam, bersama dinginnya malam, karena hujan baru saja turun. Aku hanya bisa merinduinya sendiri, tanpa tahu dia sebenarnya memikirkanku atau tidak.


:) .


................

WHAHAHA. Wah gila ya, mau  mengungkapkan kerinduan saja butuh menjelaskan dulu tentang media sosial dan perbedaan generasi delapan tahun lalu sama generasi sekarang :') . 

  • Share:

You Might Also Like

0 comments