Novel Review : The Alchemist's Secret

By Sheren - Tuesday, March 22, 2016



Judul Buku : The Alchemist's Secret
Penulis : Scott Mariani
Penerbit : Qanita
Tebal : 495 hal.

Benedict Hope--sosok pria, mantan pasukan elite tentara Inggris, yang selama beberapa tahun terakhir menghabiskan waktunya untuk mencari orang hilang dan minum-minum, disewa oleh seorang kakek tua putus asa dan kaya raya untuk mencari manuskrip alkimia peninggalan Fulcanelli, demi menyelamatkan cucu perempuan tersayangnya, yang menderita kanker langka.

Awalnya Ben--panggilan pria tinggi gagah itu, ragu dan nyaris tidak bersedia memenuhi permintaan kakek tersebut. Menurutnya keberadaan manuskrip--bahkan Fulcanelli sendiri, adalah mitos belaka, dongeng, hanya kepercayaan bagi orang-orang yang sudah putus asa seperti si kakek, yang tidak menemukan jalan keluar. Siapa juga yang sudi mencari manuskrip yang berada entah dimana dan bahkan belum pernah sekalipun ditemukan oleh orang lain selama seratusan tahun? Padahal teknologi canggih sedang berkembang diseluruh dunia, yang seharusnya memudahkan pencarian?

Tapi kemudian Ben mengingat cucu si kakek yang bernama Ruth tersebut, yang menurut kisah si kakek, sedang berada dalam kondisi kritis. Nama cucu tersebut mengingatkannya pada seseorang, pada masa lalunya, yang membuatnya selama beberapa tahun terakhir melakukan pekerjaan sebagai 'pencari'. Masa lalu yang selalu menghantuinya dengan perasaan bersalah.

Maka pada akhirnya, Ben memutuskan untuk menerima tugas itu. Dia mendengar bahwa Fulcanelli terakhir terlihat di Paris, delapan puluh tahun lalu, maka--karena tak ada pilihan lain--dia pun pergi ke Prancis, 'berpetualang' mencari manuskrip yang bahkan dia sendiri meragukan keberadaan barang itu.

Pencarian itu tentu tidak mudah. Mirip seperti mencari hantu. Dan masalahnya, tidak hanya Ben yang 'tertarik' dengan manuskrip itu. Ada sebuah organisasi lain, besar dan berbahaya, yang juga mengincarnya, dan akan melakukan apapun jika ada yang menghalangi mereka. Ben, ditemani oleh seorang peneliti alkimia cantik bernama Dr. Ryder yang terlibat dengannya akibat 'kecelakaan demi kecelakaan', mulai melakukan perjalanan penuh kekejaman dan darah untuk mencari manuskrip dan melawan organisasi tersebut.

***

Aku menghela nafas lega setelah selesai membaca buku ini. Buku yang berat, juga menarik. Seperti yang sudah diterangkan pada sinopsis di atas kalau kalian membacanya, buku ini berisi tentang petualangan mencari manuskrip alkimia yang ditinggalkan seorang ilmuwan alkimia bernama Fulcanelli, yang kemungkinan berisi petunjuk-petunjuk mengenai cara membuat logam menjadi emas--ataupun cara membuat cairan kehidupan.

Ya, alkimia. Kalian sudah pernah mendengarnya? Secara umum, bagi sebagian orang awam terutama (termasuk aku) alkimia adalah ilmu yang mempelajari cara mengubah logam timah menjadi emas, dan membuat cairan yang dapat membuat kita hidup abadi, atau seenggaknya hidup lebih panjang. Aku pernah mendengar kata-kata 'alkimia' ini sudah lama, dan lebih paham lagi sejak membaca Harry Potter dan bukunya Paulo Coelho, Sang Alkemis. Kalian ingatkan seorang alkemis di Harry Potter, Nicholas Flamel? Tokoh itu ada di seri pertama Harry Potter, yang menciptakan batu bertuah bersama Albus Dumbledore. Batu itulah yang dapat mengubah logam menjadi emas, dan jika batu itu dicelupkan ke air, bisa membuat orang yang meminum airnya berumur panjang *jadi ingat ponari*

Pokoknya sih, aku pribadi lumayan mengagumi alkimia (sekali lagi, sekedar mengagumi.) Bukan hanya ide logam jadi emas atau cairan kehidupan yang membuat aku kagum. Lebih seperti...sikap para alkemis dalam bayanganku. Well, aku tahu dan yakin, kalo alkimia itu hanya semacam sisi lain sains yang belum terwujudkan dan orang-orang yang mengklaim sudah berhasil hanyalah kebohongan semata, tetapi aku tidak bisa tidak kagum. Tetapi mereka..tetap saja, penuh kesabaran, dan sangat..sangat...berpengetahuan dalam. Menggabungkan ilmu sains ke dalam agama, penuh dengan teka-teki, filsafat, dan terutama seni.

Setelah tiga paragraf omong kosong, mari kita kembali ke isi buku. Nah, bagaimana ya aku menjelaskannya? ................hm, isi buku ini rumit dan cerdas, itu yang paling pantas. Persis seperti buku-buku yang bertemakan sama, buku-buku yang harus memecahkan kode-kode dan semacamnya, buku yang berbicara tentang buron dan kejahatan. Aku lumayan suka dengan buku-buku seperti ini--yang berdasar pada ilmu tertentu. Saat membaca buku ini, aku seperti berlari dalam cerita, berlari bersama Ben dan Dr. Ryder. Aku berpacu bersama halaman-halaman yang terlewati.

Kekurangan dan kelebihan buku ini? Yaampun, ini bagian tersulitnya. Kekurangan dan kelebihan dari buku ini berjalan bersama-sama, berpegangan erat, hingga menjadi keseimbangan yang sempurna, tidak dapat dipisahkan. Kelebihannya adalah kekurangannya, begitu juga sebaliknya.
Well, misalnya, Kisah dalam buku ini berjalan cepat, hingga kadang-kadang aku kewalahan untuk mengejarnya. Yup, ini jenis buku yang enggak bisa ditinggalkan dalam sehari atau dua hari, bisa-bisa lupa dengan apa yang terjadi sebelumnya. Belum lagi nyaris setiap bab menceritakan kisah yang berbeda walau saling terpaut nantinya.
Kemudian terlalu banyak tokoh, itulah yang menyulitkan bagiku. Dengan cerita yang berpacu laju dan orang bertebaran di sana sini, aku harus mengerahkan konsentrasi penuh agar bisa mengingat nama tokoh-tokoh rumit itu dengan baik--supaya tidak ketinggalan saat menghadapi kejutan. Sayangnya semua tokoh itu penting, pengisi ruang-ruang kosong, tidak bisa diabaikan begitu saja.

Lalu kesadisan dalam ceritanya. Sekarang seri Hunger Games nyaris bukan apa-apa dibandingkan yang ini. Benar-benar tanpa sensor--kalau bukunya di filmkan mungkin aku tidak akan berani menonton. Mereka menembak, kemudian tidak segan-segan mendeskripsikan tengkorak yang hancur dan otak bertebaran dimana-mana. Sungguhan, penulisnya kejam banget. Tokoh utama dalam kebengisan ini adalah Bozza, yang diceritakan dari kecil senang untuk membedah tubuh-tubuh makhluk hidup. Dijelaskan secara terperinci bagaimana dia bahagia--begitu bahagia dan bergairah saat menyiksa korbannya perlahan-lahan, menikmati wajah tersiksa dan putus asa si korban, memotong, mengiris daging mereka tanpa membunuh dengan cepat...mengeluarkan organ tubuh mereka...menggorok leher, kemudian ditambah lagi gambaran tentang darah yang menggenang diatas lantai... Jujur..saya mual membacanya. sangat-sangat mual. Rasa-rasanya detik itu juga saya ingin menutup buku dan melemparnya jauh-jauh, yang tidak saya lakukan karena jalan cerita masih panjang. Oh, pokoknya kalau kalian senang dengan kesadisannya, bacalah buku ini, saya enggak bisa menceritakan 'sensasinya' secara tepat. Itu baru menceritakan tentang Bozza, sang inkuisitor (Inkuisisi ini adalah sebuah 'bencana' yang pastinya menjadi aib dan masa lalu berdarah bagi satu, atau mungkin sebenarnya dua, agama besar di dunia. Kalau kalian penasaran, silahkan cari di google. Inkuisitor sendiri adalah sebutan untuk 'tokoh' dalam inkuisisi.)

Itu jelas kelemahan buku itu (atau jangan-jangan kelemahan saya?) , tetapi kekejaman inilah justru yang mengikat cerita, antara alkimia dan agama, menunjukkan bahwa manuskrip itu sangat penting dan berharga, hingga orang-orang rela melakukan yang terkeji sekalipun demi mendapatkannya. "Tidak ada lagi negoisasi, tidak ada lagi uang, kekejamanlah satu-satunya cara." setidaknya begitulah kira-kira.

Seperti itulah. Jalan cerita yang cepat--namun tidak terburu-buru, membuat kita tidak bisa bosan dengan kisah yang dituturkan. Sekejam apapun, sebanyak apapun tokohnya, cerita ini tetap luar biasa. Rumit. Saya nyaris tidak bisa menebak jalan ceritanya sama sekali. Hampir semua dugaan saya salah. Saya pikir sebagian besar orang pun akan sulit menebak endingnya. Benar-benar ending yang tidak disangka dari pencarian manuskrip itu. Apa yang kalian anggap sebuah pulau di tengah lautan ternyata seekor paus. Permata yang kalian banggakan ternyata cuma kaca. Seperti itulah. Penulisnya cerdas sekali. Saya benar-benar harus memuji penulisnya, saya jarang menemukan buku yang benar-benar serumit dan sepintar itu. Tampaknya penulisnya benar-benar menguasi mengenai alkimia, dan kode. Ya, ada banyak kode memusingkan yang harus di pecahkan.
Meskipun itu buku yang berdarah, masih ada humor di dalam bukunya. Tidak terlalu kentara sih, tapi ada.

Ngomong-ngomong, meskipun Ben dan Dr. Ryder itu tokoh utama, saya enggak begitu suka dengan mereka. Terutama yang tidak saya sukai sih Dr. Ryder. Cewek itu....ih. IH.
Lalu Ben? Dia..yah, seperti cowok-cowok lainnya dalam tema yang sama. Terlalu sempurna. Kaya. Tampan. Pintar. Cerdas.  Ahli dalam nyaris berbagai bidang. Pemberani. Dan ah... bad boy juga. Apalagi sih yang kurang? Masa lalunya? Tetap tidak mengubah kenyataan sekarang dia sempurna. Cowok-cowok yang terlalu sempurna itu kadangkala....menyebalkan.

Oya, satu hal yang saya temui dalam buku ini, juga beberapa buku lain bertema sama--berdasar pada ilmu pengetahuan--cerita seperti ini pasti sering berkaitan dengan agama. Saya tidak memberi komentar khusus mengenai ini, hanya kebetulan-kebetulan yang unik saja. Agama tetap tidak dilepaskan dari ilmu pengetahuan.

Jadi, apakah manuskripnya berhasil ditemukan? Percayalah, semua dalam buku ini tidak seperti yang kalian bayangkan. Cobalah baca saja. Terutama buat penggemar thriller. 

  • Share:

You Might Also Like

0 comments