So Deep Inside

By Sheren - Monday, October 26, 2015

Sedih. Lelah, layaknya matahari yang memutuskan untuk bersembunyi diujung lautan gelap. Berhenti menyinari.

Lelah fisik. Lelah perasaan. Aku sudah bingung hendak lari kemana lagi. Setiap sudut memiliki kenangan pahit tersendiri. Ditengah-tengah justru paling menyakitkan.

Ketika orang yang kupercayai justru memilih untuk mengabaikannya, menyia-nyiakannya.

Kadang-kadang, ada saatnya bagi kebencian untuk menjulur terlalu jauh. Lebih dalam, lebih luas daripada jantungku sendiri. Aku ingin meledak--tak sanggup untuk menampungnya sendirian. Tapi, apa hakikatnya untuk berbagi kebencian?

Dan kebencian yang merambat itu, terlanjur menutupi semuanya.

Secuil rasa kasihan itu telah hilang.
Laksana matahari yang tenggelam, mengabaikan seluruh tatapan terluka.

Secuil demi secuil rasa itu hangus tak berbekas.
Merata bersama hamparan pasir di daratan. Terbang bersama desir angin.

Tak dapat kembali.

Tatapan telah beku. Dingin bagai salju.
Siapapun tak berhak menghangatkan perasaan itu.
Kenyataan hanya bagai tombak yang melukai jantung.
Membuat nadi berhenti berdenyut.

Maaf dikala aku mendongak tanpa melihat.
Maaf dikala aku menyahut tanpa mendengar.
Maaf dikala aku mengangguk tanpa berbicara.

Ketika lautan semakin asin, aku malah merasa semakin hambar.
Kehilangan semuanya.
Hidupku. Batinku. Hatiku.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments